Harga Minyak Dunia Meroket ke US$113 Usai Ketegangan AS-Iran dan Ancaman Penutupan Selat Hormuz

Harga Minyak Dunia Meroket ke US$113 Usai Ketegangan AS-Iran dan Ancaman Penutupan Selat Hormuz
Harga Minyak Dunia Meroket ke US$113 Usai Ketegangan AS-Iran dan Ancaman Penutupan Selat Hormuz

123Berita – 07 April 2026 | Harga minyak mentah dunia melesat tajam hingga menembus level US$113 per barel pada hari Selasa, dipicu oleh eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran serta ancaman penutupan Selat Hormuz. Kenaikan harga yang signifikan menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku pasar energi global, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur penyelamatan utama bagi sekitar seperempat produksi minyak dunia.

Ketegangan antara Washington dan Teheran memuncak setelah serangkaian insiden militer di perairan Teluk Persia. Amerika Serikat menuduh Iran melakukan serangan kapal tanker, sementara pihak Tehran membantah tuduhan tersebut dan mengancam akan menutup selat strategis tersebut sebagai bentuk balasan. Retorika keras kedua belah pihak memicu sentimen takut akan gangguan pasokan, yang secara otomatis menggerakkan permintaan spekulatif di pasar berjangka minyak.

Bacaan Lainnya

Selat Hormuz memiliki peran krusial karena lebih dari 20 persen produksi minyak mentah dunia melintasi jalur ini setiap harinya. Penutupan total atau bahkan pembatasan signifikan akan mengurangi volume pengiriman secara drastis, memaksa pedagang untuk mencari rute alternatif yang lebih mahal dan memakan waktu. Risiko tersebut meningkatkan premi risiko pada kontrak berjangka, yang kemudian tercermin dalam harga spot yang naik.

Pergeseran harga minyak berdampak luas pada pasar keuangan. Indeks saham sektor energi mengalami kenaikan, sementara mata uang negara pengimpor minyak, seperti Rupiah dan Peso, tertekan. Negara-negara berkembang yang sangat bergantung pada impor energi kini menghadapi tekanan inflasi tambahan, mengingat kenaikan harga minyak biasanya menular ke harga bahan bakar, listrik, dan barang-barang konsumsi. OPEC+ menanggapi situasi dengan pernyataan kesiapan menyesuaikan produksi bila diperlukan, namun belum ada keputusan resmi untuk menurunkan kuota.

Berbagai skenario masih dipertimbangkan oleh analis. Jika Selat Hormuz tetap terbuka meski ketegangan berlanjut, harga minyak diproyeksikan akan berfluktuasi di kisaran US$110‑120 per barel. Namun, penutupan sebagian atau total dapat memicu lonjakan lebih tajam, bahkan mendekati level US$130. Sebaliknya, upaya diplomatik yang berhasil menurunkan ketegangan dapat menstabilkan harga dalam jangka menengah, meski tekanan pada permintaan global masih tetap tinggi akibat pemulihan ekonomi pasca‑pandemi.

Pengamat pasar energi menegaskan bahwa lonjakan harga kini menambah beban pada sektor transportasi dan penerbangan, yang mengandalkan bahan bakar avtur. Perusahaan maskapai melaporkan kenaikan biaya operasional yang dapat memaksa penyesuaian tarif tiket. Di sisi lain, produsen energi terbarukan mendapatkan peluang percepatan adopsi, karena kenaikan harga fosil meningkatkan daya saing sumber energi bersih.

Secara keseluruhan, situasi geopolitik di Teluk Persia menegaskan betapa rentannya pasar minyak dunia terhadap dinamika politik. Seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, perusahaan energi, hingga investor, harus memantau perkembangan secara intensif. Kestabilan pasokan energi global tetap menjadi faktor kunci dalam menjaga pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

  • Kenaikan harga minyak mentah mencapai US$113 per barel.
  • Ketegangan AS‑Iran memicu kekhawatiran penutupan Selat Hormuz.
  • Selat Hormuz menyumbang lebih dari 20% volume ekspor minyak dunia.
  • Pasar energi global mengalami volatilitas tinggi, memengaruhi indeks saham dan nilai tukar.
  • Potensi penutupan selat dapat mendorong harga ke level US$130.

Pos terkait