123Berita – 06 April 2026 | Juru bicara militer Hamas, Abu Ubaidah, pada Selasa (tanggal) menyampaikan dukungan tegas terhadap serangan yang dilancarkan Iran terhadap Israel. Pernyataan tersebut diungkapkan dalam sebuah konferensi pers yang diadakan di Gaza, di mana Abu Ubaidah menegaskan solidaritas Hamas dengan Tehran dalam upaya melawan apa yang mereka sebut sebagai agresi Israel.
Dalam rangkaian pernyataannya, Abu Ubaidah juga menyinggung pentingnya gencatan senjata. Ia mengakui bahwa meskipun serangan Iran menambah tekanan pada Israel, pihaknya tetap membuka pintu untuk negosiasi damai bila Israel bersedia menghentikan tindakan militer di wilayah Palestina dan menghormati hak-hak dasar warga sipil.
Berikut beberapa poin utama yang disampaikan Abu Ubaidah:
- Iran memiliki hak untuk menanggapi kebijakan Israel yang dianggap “genosida”.
- Hamas menyambut baik aksi militer Iran sebagai bentuk dukungan terhadap perjuangan Palestina.
- Gencatan senjata dapat dipertimbangkan jika Israel menghentikan serangan di Gaza dan Tepi Barat.
- Hamas menolak segala upaya internasional yang mengabaikan keadilan bagi rakyat Palestina.
Para pengamat politik menilai pernyataan tersebut menandai peningkatan koalisi antara Hamas dan negara-negara yang menentang kebijakan Israel di kawasan Timur Tengah. Hubungan Hamas dengan Iran telah lama terjalin melalui bantuan militer, pelatihan, dan dukungan logistik. Dukungan publik ini menegaskan kembali ikatan strategis yang dapat mempengaruhi dinamika konflik yang sudah berlangsung lama.
Namun, respons dari pihak Israel dan sekutunya tidaklah positif. Kementerian Luar Negeri Israel mengecam serangan Iran sebagai “pelanggaran hukum internasional” dan menegaskan akan memperkuat pertahanan serta menindak tegas setiap ancaman yang muncul. Sementara itu, Amerika Serikat mengingatkan bahwa serangan semacam itu dapat memperburuk situasi regional dan meningkatkan risiko eskalasi lebih luas.
Isu genosida yang diangkat oleh Abu Ubaidah menjadi sorotan tersendiri. Sejumlah organisasi hak asasi manusia internasional telah menuduh Israel melakukan tindakan yang dapat dikategorikan sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan, terutama terkait dengan operasi militer di Jalur Gaza yang menewaskan ribuan warga sipil. Hamas memanfaatkan tuduhan ini untuk memperkuat argumen moralnya, sekaligus menjustifikasi dukungan terhadap tindakan militer Iran.
Di sisi lain, dunia internasional masih terpecah dalam menanggapi situasi ini. Beberapa negara Arab menunjukkan simpati terhadap Palestina, sementara negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat dan Uni Eropa, terus menekankan pentingnya diplomasi dan menolak penggunaan kekuatan militer sebagai solusi.
Dalam konteks geopolitik, dukungan Hamas terhadap Iran dapat memicu reaksi balasan dari negara-negara yang memiliki kepentingan strategis di kawasan, termasuk Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, yang pada beberapa tahun terakhir berupaya meredakan ketegangan dengan Israel. Hal ini menambah lapisan kompleksitas pada dinamika politik regional, di mana aliansi tradisional dapat berubah tergantung pada kepentingan keamanan dan ekonomi masing-masing.
Pernyataan Abu Ubaidah juga menyinggung tentang kemungkinan “gencatan senjata bersyarat”. Ia menegaskan bahwa Hamas tidak menolak perundingan, asalkan Israel mengakui hak-hak dasar Palestina, menghentikan blokade, dan membuka akses bantuan kemanusiaan ke Gaza. Meski demikian, ia menolak segala tekanan internasional yang mengabaikan tuntutan keadilan Palestina.
Situasi di lapangan tetap tegang. Pada hari yang sama, laporan menunjukkan adanya pertukaran tembakan antara pasukan Israel dan kelompok militan di perbatasan Gaza. Warga sipil terus berada di tengah bahaya, dengan akses terbatas ke layanan dasar seperti listrik, air bersih, dan perawatan medis.
Kesimpulannya, pernyataan dukungan Hamas terhadap serangan Iran menegaskan kembali ikatan strategis antara dua entitas yang menentang kebijakan Israel. Sementara itu, isu genosida yang diangkat menambah tekanan moral pada pihak Israel, dan membuka ruang bagi diskusi internasional mengenai keabsahan tindakan militer sebagai respons terhadap konflik yang telah berlangsung puluhan tahun. Gencatan senjata tetap menjadi titik fokus bagi kedua belah pihak, meski kondisi politik dan keamanan yang terus berubah membuat pencapaian perdamaian tampak masih jauh.





