123Berita – 04 April 2026 | Gunung berapi Dukono yang terletak di pulau Halmahera, Provinsi Maluku Utara, kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang signifikan pada Jumat malam. Menurut pengamat dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), letusan tersebut menghasilkan kolom abu setinggi tiga ribu meter, menandai salah satu erupsi paling tinggi yang tercatat dalam beberapa tahun terakhir.
Letusan dimulai sekitar pukul 20.30 WIB, ketika awan abu pekat mulai terangkat secara cepat dari kawah utama. Pada puncaknya, abu vulkanik melayang tinggi hingga menutupi wilayah sekitar, mengganggu aktivitas penduduk setempat dan penerbangan di daerah sekitarnya. Pantauan satelit menegaskan ketinggian kolom abu mencapai tiga ribu meter, memicu peringatan dini kepada masyarakat dan otoritas setempat.
Petugas lapangan melaporkan bahwa aliran lava tidak terlihat signifikan, namun semburan debu panas dan material piroklastik menyebar ke arah selatan dan barat daya. Dampak utama dirasakan di beberapa desa di Kabupaten Halmahera Barat, di mana lapisan abu menempel pada atap rumah, kendaraan, dan jaringan listrik. Warga dilaporkan mengalami iritasi pada mata dan saluran pernapasan, terutama bagi mereka yang memiliki kondisi kesehatan kronis.
BNPB segera mengaktifkan prosedur evakuasi darurat, mengevakuasi lebih dari 2.000 jiwa dari zona berbahaya. Tim SAR menyiapkan tenda darurat, suplai makanan, air bersih, serta perlengkapan medis di lokasi penampungan sementara. Seluruh proses evakuasi berjalan lancar berkat koordinasi antara pemerintah daerah, militer, dan organisasi kemanusiaan.
Sejumlah fasilitas publik, termasuk sekolah dan pusat kesehatan, juga ditutup sementara untuk menghindari paparan abu berbahaya. Pemerintah Kabupaten Halmahera Barat menegaskan bahwa akses jalan utama ke kawasan gunung akan dibatasi sampai kondisi udara stabil dan kolom abu menurun ke tingkat yang aman.
Para ahli geologi menyoroti bahwa letusan ini merupakan bagian dari fase aktif gunung Dukono yang telah berlangsung sejak 2014. Meskipun tidak menimbulkan aliran lahar besar, pola erupsi yang konsisten meningkatkan risiko bagi penduduk setempat. PVMBG memperingatkan bahwa peningkatan intensitas abu dapat memicu gangguan pada transportasi udara, khususnya di bandara terdekat, Bandara Sultan Babullah di Ternate, yang harus menyesuaikan jadwal penerbangan.
- Waktu letusan: sekitar 20.30 WIB, Jumat malam
- Ketinggian kolom abu: 3.000 meter
- Jumlah evakuasi: lebih dari 2.000 orang
- Area terdampak: Desa-desa di Halmahera Barat, wilayah sekitarnya
- Langkah penanggulangan: penutupan fasilitas publik, pembatasan akses jalan, penyediaan tenda darurat dan bantuan medis
Warga yang tetap berada di zona rawan diminta untuk tetap berada di dalam rumah, menutup ventilasi, serta menggunakan masker pelindung ketika keluar. Pemerintah daerah juga mengimbau agar penduduk tidak melakukan aktivitas luar ruangan yang dapat memperparah paparan debu vulkanik.
Para peneliti terus memantau aktivitas seismik dan gas vulkanik di sekitar gunung Dukono menggunakan stasiun pemantauan otomatis. Data real-time akan membantu otoritas menentukan kapan kondisi kembali aman untuk membuka kembali zona evakuasi.
Meski dampak langsung masih terbatas pada penurunan kualitas udara dan gangguan mobilitas, potensi bahaya jangka panjang tetap menjadi perhatian utama. Peningkatan intensitas abu dapat memperparah masalah kesehatan pernapasan, terutama pada anak-anak, lansia, dan individu dengan penyakit pernapasan kronis.
Dalam rangka memperkuat kesiapsiagaan, pemerintah Provinsi Maluku Utara berencana meningkatkan program edukasi tentang mitigasi bencana vulkanik, termasuk distribusi masker N95 dan penyuluhan tentang langkah-langkah darurat bagi masyarakat yang tinggal di zona berisiko tinggi.
Kesimpulannya, erupsi Gunung Dukono pada malam Jumat menegaskan kembali pentingnya koordinasi lintas sektor dalam penanggulangan bencana alam. Dengan kolom abu setinggi tiga ribu meter, dampak kesehatan, sosial, dan ekonomi dirasakan secara signifikan, namun respons cepat dari otoritas dan partisipasi aktif masyarakat berhasil meminimalisir kerugian yang lebih besar.





