Gunung Dukono Masuki Status Waspada, Warga Tobelo Diminta Tingkatkan Kesiapsiagaan Hadapi Hujan Abu Vulkanik

Gunung Dukono Masuki Status Waspada, Warga Tobelo Diminta Tingkatkan Kesiapsiagaan Hadapi Hujan Abu Vulkanik
Gunung Dukono Masuki Status Waspada, Warga Tobelo Diminta Tingkatkan Kesiapsiagaan Hadapi Hujan Abu Vulkanik

123Berita – 06 April 2026 | Gunung Dukono, gunung berapi aktif yang terletak di Pulau Halmahera, kembali menjadi sorotan nasional setelah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menetapkan statusnya sebagai Waspada. Penetapan ini diambil berdasarkan peningkatan aktivitas vulkanik yang terdeteksi dalam beberapa pekan terakhir, termasuk peningkatan suhu lava, intensitas letusan, serta munculnya awan abu yang lebih tebal. Dengan status Waspada, potensi terjadinya hujan abu vulkanik menjadi lebih tinggi, terutama bagi wilayah di sekitar gunung, termasuk Kota Tobelo yang berada di selatan lereng Dukono.

BNPB secara resmi mengimbau seluruh lapisan masyarakat Kota Tobelo untuk meningkatkan kewaspadaan dan menyiapkan langkah-langkah mitigasi guna mengurangi dampak potensial hujan abu. Imbauan tersebut mencakup penyuluhan tentang cara melindungi diri dan properti, penggunaan masker atau kain bersih untuk menutupi mulut dan hidung, serta menutup rapat jendela dan ventilasi rumah. Selain itu, warga diimbau untuk menyiapkan persediaan air bersih, makanan tahan lama, dan lampu senter sebagai langkah antisipasi bila terjadi gangguan listrik akibat abu yang menumpuk.

Bacaan Lainnya

Petugas lapangan BNPB bersama tim pemantau gunung berapi di Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus memantau aktivitas Dukono secara real‑time. Data yang dikumpulkan meliputi tingkat seismik, suhu permukaan lava, serta perubahan bentuk kawah. Hasil pemantauan menunjukkan bahwa frekuensi gempa mikro meningkat secara signifikan, menandakan pergerakan magma di bawah permukaan yang dapat memicu letusan lebih kuat. Sementara itu, citra satelit memperlihatkan awan abu yang menebar ke arah barat, menandakan potensi terbawanya abu ke wilayah pesisir Tobelo.

Kondisi geografis Kota Tobelo, yang terletak di dataran rendah dan berbatasan langsung dengan Laut Halmahera, membuatnya rawan terhadap dampak abu yang jatuh. Abu vulkanik tidak hanya menodai permukaan tanah dan bangunan, tetapi juga dapat mengganggu jaringan transportasi, mengurangi visibilitas di jalan raya, serta menurunkan kualitas udara yang berpotensi menimbulkan gangguan pernapasan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan kronis. Oleh karena itu, otoritas setempat telah menyiapkan jalur evakuasi darurat dan posko bantuan yang siap diaktifkan jika situasi memburuk.

Wali Kota Tobelo, Bupati Halmahera Utara, serta kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Halmahera Utara menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk melindungi warga. Mereka menginstruksikan seluruh perangkat desa dan kelurahan untuk melakukan penyuluhan intensif, mendistribusikan masker N95, serta memastikan bahwa fasilitas kesehatan siap menerima peningkatan kunjungan pasien dengan keluhan pernapasan. Selain itu, pemerintah daerah berkoordinasi dengan BNPB dalam penyediaan kendaraan pemadam kebakaran dan truk pengangkut abu untuk membersihkan jalan utama bila diperlukan.

Sejumlah pakar vulkanologi menambahkan bahwa status Waspada merupakan sinyal peringatan awal yang harus ditanggapi secara serius. Dr. Andi Prasetyo, ahli geologi dari Universitas Sam Ratulangi, menyampaikan bahwa meskipun tidak semua gunung berapi yang berstatus Waspada akan meletus besar, namun potensi hujan abu tetap tinggi dan dapat berlangsung berulang kali selama fase aktivitas meningkat. Ia menyarankan masyarakat untuk tidak mengabaikan peringatan, serta mematuhi arahan dari otoritas terkait, termasuk menutup pintu dan jendela, serta menghindari aktivitas di luar ruangan pada saat awan abu melintas.

Dengan latar belakang sejarah erupsi Dukono yang telah terjadi secara periodik sejak abad ke‑19, pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa hujan abu dapat berlangsung selama beberapa hari hingga minggu, tergantung pada intensitas letusan dan kondisi atmosfer. Pada tahun 2014, misalnya, awan abu menutupi sebagian wilayah Tobelo selama tiga hari, menyebabkan gangguan pada layanan listrik, telekomunikasi, dan transportasi udara. Pelajaran dari peristiwa tersebut menjadi acuan penting dalam penyusunan rencana kontinjensi saat ini.

Secara keseluruhan, status Waspada pada Gunung Dukono menuntut sinergi antara pemerintah, lembaga penanggulangan bencana, serta masyarakat luas untuk mengurangi risiko yang mungkin terjadi. Langkah-langkah preventif yang diambil kini diharapkan dapat meminimalisir dampak hujan abu vulkanik, melindungi kesehatan publik, serta memastikan kelancaran aktivitas ekonomi di Kota Tobelo. Warga diimbau terus mengikuti informasi resmi melalui kanal komunikasi BNPB dan BPBD setempat, serta tetap tenang sambil siap menghadapi kemungkinan terburuk.

Pos terkait