123Berita โ 10 April 2026 | Kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang direncanakan berlangsung selama dua pekan kini berada pada ambang kegagalan. Situasi semakin tegang akibat perbedaan sikap kedua belah pihak dengan Israel terkait serangan di Lebanon, menimbulkan kekhawatiran bahwa konflik dapat meluas ke seluruh kawasan Timur Tengah.
Pakar ekonomi politik internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Faris Al-Fadhat, menilai bahwa gencatan senjata merupakan langkah awal yang penting namun rapuh. Ia menekankan bahwa dalam kurun waktu hanya satu hari, dua faktor utama muncul yang dapat menggagalkan perdamaian yang sedang dibangun.
“Baru satu hari kita melihat ada dua aspek yang mungkin ini memberatkan dan juga bisa atau sudah membuat perdamaian atau genjatan senjata ini gagal,” ujar Faris dalam wawancara yang dikutip oleh Media Indonesia pada 9 April 2026.
Faris mengidentifikasi persoalan pertama sebagai ketidaksepakatan tentang pengelolaan Selat Hormuz. Selat tersebut merupakan jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia, dan menjadi titik penting dalam perdagangan minyak dunia. Iran menganggap Selat Hormuz sebagai wilayah politiknya yang harus dikelola secara mandiri, sementara AS menuntut agar jalur tersebut tetap terbuka lebar untuk kapal-kapal komersial dan militer.
Ketegangan di Selat Hormuz meningkat setelah Iran memutuskan menutup kembali akses perairan tersebut pada 8 April 2026. Keputusan itu diambil sebagai respons atas serangan udara Israel ke wilayah Lebanon, yang dianggap Tehran sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata yang sedang berlangsung. Iran menilai aksi Israel sebagai tindakan provokatif yang mengancam stabilitas regional.
Persoalan kedua yang diangkat Faris terkait dengan peran Israel dalam dinamika konflik. Israel, yang secara tradisional berseteru dengan Iran, melancarkan serangan udara ke Lebanon pada hari yang sama ketika Iran menutup Selat Hormuz. Tehran menuduh Israel melanggar kesepakatan gencatan senjata dan mengancam keberlanjutan perjanjian dengan AS.
“Di mana Selat Hormuz ini kan menjadi wilayah politik Iran, namun Amerika Serikat meminta untuk itu dibuka. Tapi kita lihat setelah genjatan senjata itu kan tidak ada yang berani untuk lewat,” jelas Faris, menekankan bahwa ketidakpastian di jalur pelayaran menambah beban diplomatik bagi kedua negara.
Para pengamat menilai bahwa ketidaksepakatan ini tidak hanya bersifat teknis, melainkan mencerminkan rivalitas geopolitik yang lebih luas. Amerika Serikat berupaya menjaga kebebasan navigasi di perairan strategis, sementara Iran berusaha mempertahankan kedaulatan atas wilayah yang dianggapnya sebagai zona pengaruh utama.
Selain itu, dinamika di Lebanon menambah lapisan kompleksitas. Serangan Israel ke wilayah Lebanon dipicu oleh ketegangan yang telah berlangsung lama antara Hizbullah dan Israel. Tehran, yang memiliki hubungan erat dengan Hizbullah, melihat tindakan tersebut sebagai pelanggaran tidak hanya terhadap gencatan senjata dengan AS, tetapi juga sebagai ancaman terhadap kepentingan keamanan nasionalnya.
Faris Al-Fadhat menyimpulkan bahwa tanpa adanya titik temu yang jelas mengenai pengelolaan Selat Hormuz dan penyelesaian isu Israel-Lebanon, gencatan senjata antara AS dan Iran akan sulit bertahan. Ia menilai bahwa โkesepakatan ini tampaknya tidak bisa berumur panjang. Bahkan lebih dari satu hari pun tampaknya ini sudah tidak bisa,โ menegaskan kekhawatirannya.
Jika gencatan senjata gagal, risiko eskalasi militer di wilayah Timur Tengah dapat meningkat secara signifikan. Penutupan Selat Hormuz dapat mengganggu pasokan minyak global, sementara konflik yang meluas di Lebanon dapat memicu intervensi lebih luas dari negara-negara regional dan internasional.
Para pembuat kebijakan di Washington dan Tehran kini dihadapkan pada dilema: melanjutkan dialog diplomatik dengan mengorbankan sebagian tuntutan strategis atau mengakui kegagalan kesepakatan dan bersiap menghadapi konsekuensi ekonomi serta keamanan yang lebih berat. Keputusan selanjutnya akan sangat menentukan arah stabilitas kawasan dalam beberapa bulan ke depan.
Kesimpulannya, meskipun gencatan senjata antara AS dan Iran sempat menimbulkan harapan akan perdamaian, ketidaksepakatan tentang Selat Hormuz dan tindakan militer Israel di Lebanon telah menimbulkan keraguan serius mengenai kelangsungan perjanjian tersebut. Tanpa penyelesaian yang komprehensif atas isu-isu kunci ini, gencatan senjata berisiko besar untuk dibatalkan, yang pada gilirannya dapat memperburuk ketegangan geopolitik di Timur Tengah.





