123Berita – 08 April 2026 | Selama bertahun-tahun, sebuah fosil berusia sekitar 300 juta tahun yang ditemukan di wilayah Lulworth, Inggris, telah dianggap sebagai bukti tertua keberadaan gurita (octopus) dalam catatan paleontologi. Penemuan tersebut, yang pertama kali dipublikasikan pada akhir 2022, menjadi sorotan utama karena menantang anggapan bahwa makhluk berotot lunak seperti gurita hanya muncul pada periode Cenozoic, sekitar 50 juta tahun yang lalu. Namun, studi terbaru yang menggunakan teknologi pencitraan sinar-X synchrotron tomografi mengungkapkan bahwa fosil ini sebenarnya bukanlah gurita, melainkan anggota kelompok cephalopoda lain yang memiliki struktur internal keras.
Tim peneliti yang dipimpin oleh Dr. Neil H. H. Hinde dari Universitas Cambridge melakukan pemindaian tiga dimensi dengan resolusi mikroskopik pada spesimen yang disimpan di Museum Geologi Natural History Museum, London. Metode ini memungkinkan mereka menelusuri detail anatomi yang sebelumnya tidak dapat dilihat dengan mikroskop konvensional. Hasil pemindaian menunjukkan keberadaan sebuah gladius—struktur silindris tipis yang berfungsi sebagai kerangka internal pada beberapa kelompok cephalopoda—serta jejak jaringan otot yang berbeda pola pembuluh darah dibandingkan gurita modern.
Selain gladius, para ilmuwan menemukan jejak sisa-sisa tentakel yang dilengkapi dengan kait kecil (hooks) yang khas pada kelompok belemnitida dan sejenisnya, bukan pada octopodida yang memiliki tentakel halus tanpa kait. Struktur otot pada fosil ini juga tampak lebih terorganisir menyerupai pola pada sepiolit atau cuttlefish purba, bukan pada gurita yang cenderung memiliki otot lebih tersebar dan fleksibel. Kombinasi fitur-fitur ini membuat peneliti yakin bahwa fosil tersebut lebih tepat diklasifikasikan sebagai anggota kelompok coleoid yang memiliki cangkang internal, bukan sebagai octopus.
Penemuan ini memiliki implikasi penting bagi pemahaman evolusi cephalopoda. Gurita, yang dikenal memiliki tubuh lunak hampir seluruhnya tanpa kerangka, memiliki catatan fosil yang sangat terbatas karena jaringan lunak mereka hampir tidak pernah terfosilkan. Sampai saat ini, fosil gurita paling tua yang diterima secara umum adalah spesimen dari periode Eocene (sekitar 50 juta tahun yang lalu) yang ditemukan di Lebanon. Jika fosil Lulworth benar-benar merupakan gurita, maka jarak evolusi mereka akan melompat lebih dari 250 juta tahun, menantang banyak hipotesis tentang adaptasi lunak dan strategi pertahanan mereka.
Namun, hasil baru ini menegaskan kembali bahwa fosil gurita tetap sangat langka dan bahwa klaim tentang fosil tertua mereka harus ditangani dengan hati-hati. Sejumlah media internasional, termasuk BBC, The Times, GB News, dan The Independent, melaporkan temuan ini dengan nada yang menekankan pentingnya revisi klasifikasi ilmiah berbasis data baru. Mereka menyoroti bagaimana teknologi pencitraan canggih kini membuka jendela ke dalam struktur mikro fosil, memungkinkan ilmuwan mengoreksi interpretasi yang sebelumnya bersifat spekulatif.
Selain menyoroti aspek taksonomi, penelitian ini juga menambah pengetahuan tentang biodiversitas laut pada periode Carboniferous. Pada masa itu, laut dipenuhi oleh berbagai jenis cephalopoda berkerangka internal, termasuk belemnitida, nautiloid, dan early coleoid. Keberadaan gladius pada fosil Lulworth mengindikasikan bahwa kelompok coleoid sudah mulai berevolusi dan berdiversifikasi jauh sebelum munculnya gurita modern, menandai langkah penting dalam evolusi adaptasi lunak yang akhirnya menghasilkan gurita dan cumi-cumi yang sangat cerdas.
Para peneliti juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas disiplin dalam paleontologi modern. Pemindaian sinar-X synchrotron yang dilakukan di fasilitas ESRF (European Synchrotron Radiation Facility) di Prancis memerlukan keahlian fisikawan, ahli geologi, dan ahli biologi evolusi. Hasil yang diperoleh tidak hanya mengubah status fosil tertentu, tetapi juga menunjukkan potensi teknologi serupa untuk meninjau kembali fosil-fosil lain yang telah lama diklasifikasikan secara tradisional.
Kesimpulannya, fosil yang sebelumnya dipersepsikan sebagai gurita tertua di dunia kini telah dikoreksi menjadi anggota kelompok cephalopoda berkerangka internal. Penemuan ini menegaskan kembali tantangan dalam mengidentifikasi fosil makhluk lunak, sekaligus menyoroti kemajuan teknologi pencitraan yang dapat membuka kembali lembaran sejarah hidup di Bumi. Meskipun catatan fosil gurita tetap terbatas, penelitian terbaru ini memberi harapan bahwa dengan metode yang lebih canggih, para ilmuwan dapat mengungkap jejak-jejak tersembunyi yang selama ini tersembunyi di dalam batuan. Masa depan paleontologi tampaknya akan dipenuhi penemuan-penemuan yang menguji kembali asumsi-asumsi lama, memperkaya pemahaman kita tentang evolusi kehidupan laut yang kompleks dan menakjubkan.





