123Berita – 10 April 2026 | Aktress muda Fergie Brittany Rela kembali menarik sorotan publik setelah menampakkan penampilan yang sangat mengubah wujudnya dalam film body horror berjudul AIN. Proses transformasi yang menuntut ketahanan fisik dan mental tinggi ini melibatkan penggunaan make‑up prostetik berteknologi tinggi, sehingga sang aktris tampak seperti makhluk lain yang menakutkan. Penayangan perdana film tersebut dijadwalkan pada 7 Mei 2026, dan menimbulkan antisipasi kuat di kalangan penikmat genre horor.
Film AIN mengusung tema tubuh yang terdistorsi, memadukan unsur psikologis dengan visual yang mengerikan. Sebagai pemeran utama, Fergie Brittany harus menanggung serangkaian prosedur rias yang tidak hanya memakan waktu, melainkan juga menuntut toleransi rasa sakit. Tim make‑up prostetik, yang dipimpin oleh seniman rias ternama di industri film Indonesia, memanfaatkan silikon, lateks, serta bahan khusus lainnya untuk menciptakan efek kulit mengelupas, jaringan yang terdistorsi, dan luka yang tampak nyata.
Penggunaan prostetik dalam film horor bukan hal baru, namun tingkat kompleksitas dalam AIN diklaim lebih tinggi dibandingkan produksi serupa sebelumnya. Tim rias menggabungkan teknik tradisional dengan inovasi digital, termasuk pencetakan 3D untuk menciptakan bagian‑bagian khusus yang harus pas dengan kontur tubuh aktris. Hasil akhirnya adalah penampilan yang seolah‑olah menampilkan metamorfosis manusia menjadi makhluk mengerikan, lengkap dengan tekstur kulit yang tampak mengeras, benjolan‑benjolan tidak wajar, serta alur‑alur yang menyerupai luka terbuka.
Berikut adalah rangkaian tahapan utama dalam proses make‑up prostetik yang dijalani Fergie Brittany Rela:
- Persiapan kulit: Pembersihan menyeluruh dan penggunaan barrier cream untuk melindungi kulit dari iritasi.
- Pencetakan wajah: Pengambilan cetakan 3D dari wajah aktris untuk membuat prostetik yang pas.
- Pembuatan lapisan prostetik: Pencampuran silikon dan lateks, serta pewarnaan khusus agar cocok dengan tone kulit.
- Pemasangan dan penyelesaian: Penempelan lapisan demi lapisan, pengeringan, serta finishing dengan cat khusus untuk menambah realisme.
- Pengujian gerakan: Pemeriksaan fleksibilitas prostetik saat aktris bergerak, memastikan tidak mengganggu aksi.
Proses tersebut menuntut disiplin tinggi dari semua pihak. Tim rias harus memastikan tidak ada risiko alergi atau infeksi pada kulit aktris, sementara Fergie harus mempersiapkan mental untuk menahan rasa tidak nyaman selama syuting. Selama proses pengambilan gambar, aktris dilaporkan hanya diberikan jeda singkat antara adegan, sehingga kelelahan menjadi faktor penting yang harus dikelola.
Selain tantangan fisik, Fergie Brittany juga harus menyesuaikan teknik aktingnya. Karakter dalam AIN tidak hanya mengandalkan penampilan visual, melainkan juga menuntut ekspresi emosi yang intens meskipun wajah tertutup prostetik. Ia harus mengandalkan gerakan tubuh, intonasi suara, serta bahasa tubuh untuk menyampaikan rasa sakit, ketakutan, dan kegilaan yang dialami karakternya. “Berakting dengan wajah tertutup membuat saya harus lebih fokus pada mata dan gerakan tangan. Saya belajar mengekspresikan rasa takut tanpa mengandalkan ekspresi wajah,” ujarnya.
Film AIN sendiri diproduksi oleh rumah produksi independen yang telah dikenal berani mengambil risiko dalam genre horor. Sutradara film ini mengungkapkan bahwa pemilihan Fergie Brittany sebagai pemeran utama didasari oleh keberanian dan dedikasinya dalam menghadapi tantangan ekstrem. “Saya ingin menampilkan sesuatu yang belum pernah dilihat penonton. Fergie siap menjadi jembatan antara dunia nyata dan dunia mimpi buruk yang kami ciptakan,” kata sutradara dalam konferensi pers.
Reaksi awal dari kalangan kritikus film dan penggemar horor sangat positif. Banyak yang memuji keberanian Fergie dalam menanggung proses rias yang berat, sekaligus menantikan visual yang menakutkan namun artistik. Di media sosial, hashtag #AINFilm dan #FergieProstetik menjadi trending, menandakan antisipasi tinggi menjelang rilis film pada 7 Mei 2026.
Secara keseluruhan, transformasi ekstrem yang dialami Fergie Brittany Rela dalam film AIN menjadi contoh nyata dedikasi seorang aktris dalam mempersembahkan karya seni yang menantang batas konvensional. Proses make‑up prostetik yang memakan waktu, menguji ketahanan fisik, serta menuntut adaptasi akting menunjukkan sinergi antara seni rias, teknologi, dan penampilan layar yang menghasilkan pengalaman sinematik yang memukau. Penonton yang menyaksikan film ini diharapkan tidak hanya terkesima oleh efek visual, tetapi juga merasakan intensitas perjuangan di balik layar yang menjadikan setiap adegan terasa hidup.
Dengan penayangan yang dijadwalkan pada awal Mei 2026, AIN siap menjadi sorotan utama dalam kalender film horor Indonesia, sekaligus menegaskan posisi Fergie Brittany Rela sebagai figur yang berani mengeksplorasi batas kemampuan aktingnya.





