123Berita – 09 April 2026 | Sejumlah artis K‑Pop ternama, termasuk Cha Eun‑Woo dan Kim Seon‑Ho, menjadi sorotan publik setelah terjerat dalam sengketa pajak yang melibatkan agensi manajemen mereka, Fantasio. Pada Rabu (9 April 2026), perwakilan Fantasio mengeluarkan pernyataan resmi yang memuat permintaan maaf publik serta komitmen untuk memperbaiki sistem manajemen keuangan internal.
Kasus ini bermula ketika Badan Pajak Korea Selatan (NTS) mengirimkan pemberitahuan kepada Cha Eun‑Woo dan Kim Seon‑Ho terkait keterlambatan pelaporan penghasilan serta perhitungan pajak yang tidak sesuai. Kedua artis, yang masing‑masing dikenal sebagai anggota grup SEVENTEEN dan sebagai aktor serial drama, telah menandatangani kontrak dengan Fantasio sejak awal karier mereka. Namun, pengelolaan pajak atas penghasilan mereka, termasuk royalti iklan, pendapatan konser, dan hak cipta, ternyata belum memenuhi standar kepatuhan fiskal.
Fantasio, yang dikenal sebagai salah satu agensi terkemuka di industri hiburan Korea, segera merespons dengan mengeluarkan pernyataan tertulis. Dalam pernyataan tersebut, agensi menyatakan, “Kami menyampaikan permohonan maaf yang sedalam‑dalamnya kepada para penggemar, mitra bisnis, dan otoritas pajak atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan. Kami berkomitmen untuk melakukan audit menyeluruh serta merevisi prosedur keuangan guna mencegah terulangnya kasus serupa di masa mendatang.”
Selain permintaan maaf, Fantasio juga mengumumkan langkah konkret yang akan diambil, antara lain:
- Menggandeng firma akuntansi internasional untuk melakukan audit independen atas semua catatan keuangan artis selama lima tahun terakhir.
- Menetapkan unit kepatuhan pajak internal yang berfungsi sebagai pengawas utama pelaporan pajak artis.
- Mengadakan pelatihan reguler bagi manajer dan staf keuangan mengenai peraturan perpajakan domestik dan internasional.
- Menyiapkan mekanisme pelaporan transparan yang dapat diakses oleh artis dan perwakilan hukum mereka.
Reaksi dari publik dan penggemar pun beragam. Sebagian besar netizen mengapresiasi sikap terbuka Fantasio, sementara sebagian lain menuntut pertanggungjawaban yang lebih tegas, termasuk potensi pemutusan kontrak bagi pihak yang terbukti lalai. Di media sosial, tagar #FantasiaMintaMaaf dan #PajakSelebriti menjadi trending dalam beberapa jam pertama setelah pernyataan tersebut dipublikasikan.
Para pakar industri hiburan menilai kasus ini sebagai peringatan penting bagi agensi lain. Dr. Lee Min‑soo, dosen Fakultas Ekonomi di Universitas Seoul, menjelaskan, “Manajemen pajak artis tidak boleh dianggap remeh. Penghasilan mereka bersifat multikomponen dan lintas‑negara, sehingga memerlukan sistem pelaporan yang canggih dan kepatuhan yang ketat. Kegagalan dalam hal ini dapat merusak reputasi agensi serta menurunkan kepercayaan investor dan sponsor.”
Di sisi lain, Cha Eun‑Woo dan Kim Seon‑Ho belum memberikan pernyataan pribadi terkait masalah ini. Kedua artis diketahui sedang menjalani jadwal promosi yang padat, termasuk rekaman drama terbaru dan penampilan dalam program varietas. Sumber dekat mereka menyebutkan bahwa kedua artis telah berdiskusi dengan tim hukum mereka dan menantikan hasil audit internal Fantasio.
Kasus pajak yang melibatkan selebriti tidak baru di Korea Selatan. Beberapa tahun lalu, aktor dan penyanyi terkenal pernah dikenai sanksi administratif karena kesalahan serupa. Namun, biasanya agensi segera mengambil langkah perbaikan, termasuk membayar denda dan mengembalikan dana yang belum dilaporkan. Dalam konteks ini, Fantasio tampak berusaha mengatasi masalah dengan lebih proaktif, mengingat skala potensi denda dan dampak reputasi yang lebih besar.
Penting untuk dicatat bahwa meskipun pernyataan permintaan maaf sudah dikeluarkan, proses hukum belum selesai. NTS masih melakukan verifikasi data, dan kemungkinan denda tambahan atau sanksi administratif masih terbuka. Fantasio menegaskan bahwa mereka akan berkoordinasi penuh dengan otoritas pajak untuk menyelesaikan semua kewajiban secara tuntas.
Secara keseluruhan, insiden ini menyoroti kebutuhan akan standar manajemen keuangan yang lebih tinggi dalam industri hiburan yang semakin global. Penggemar berharap agar artis yang mereka dukung dapat melanjutkan karier tanpa beban hukum yang mengganggu, sementara agensi diharapkan dapat meningkatkan transparansi serta akuntabilitas dalam setiap aspek operasional.
Kesimpulannya, permintaan maaf Fantasio menandai langkah pertama dalam proses perbaikan yang melibatkan audit independen, restrukturisasi internal, dan pelatihan kepatuhan pajak. Keberhasilan upaya ini akan menjadi tolok ukur bagi industri hiburan Korea dalam menangani tantangan fiskal di era globalisasi, sekaligus menentukan apakah kepercayaan publik dapat dipulihkan sepenuhnya.





