123Berita – 07 April 2026 | Aktris Fanny Fadillah yang dikenal luas berkat perannya sebagai Ucup Bajaj Bajuri dalam serial televisi populer, baru-baru ini mengungkapkan fakta yang selama ini disembunyikannya. Dalam sebuah wawancara eksklusif, ia mengonfirmasi bahwa ia telah resmi bercerai sejak tahun 2021, namun memilih menahan informasi tersebut demi menjaga kesejahteraan mental anak‑anaknya.
Pengakuan Fanny muncul setelah spekulasi publik yang beredar selama bertahun‑tahun tentang status pernikahannya. Ia menyatakan bahwa keputusan untuk menutup rapat informasi perceraian itu bukanlah langkah mudah, melainkan pertimbangan matang yang melibatkan prioritas utama: stabilitas emosional sang anak. “Saya tidak ingin anak‑anak saya terbebani dengan rumor atau stigma yang mungkin muncul ketika mereka masih sangat muda,” ujar Fanny di tengah sesi tanya‑jawab.
Fanny menambahkan bahwa selama masa transisi, ia mengambil langkah-langkah konkret untuk melindungi kesejahteraan anak, termasuk mengatur jadwal kunjungan yang teratur, menghindari pertengkaran di depan mereka, serta menyediakan akses ke konseling psikologis bila diperlukan. Ia menegaskan bahwa dukungan profesional menjadi bagian penting dalam proses adaptasi keluarga pasca‑perceraian.
Pengakuan ini juga membuka perbincangan lebih luas mengenai stigma perceraian di kalangan publik, khususnya dalam industri hiburan Indonesia. Banyak yang menilai keberanian Fanny untuk berbagi cerita ini sebagai contoh positif bagi orang tua lain yang mungkin berada dalam situasi serupa. “Tidak ada yang salah dengan perceraian, yang penting adalah bagaimana cara kita mengelolanya, terutama bagi anak,” tuturnya.
Selain menyoroti pentingnya kesehatan mental anak, Fanny juga menyampaikan rasa terima kasih kepada para penggemar yang selama ini memberikan dukungan moral. Ia berharap cerita ini dapat menjadi pelajaran bahwa transparansi dan komunikasi terbuka antara orang tua sangat vital dalam mengatasi tantangan keluarga.
Secara keseluruhan, pengakuan Fanny Fadillah menegaskan kembali pentingnya menempatkan kebutuhan emosional anak di atas ekspektasi sosial. Keputusan untuk menahan informasi perceraian selama hampir tiga tahun menunjukkan komitmen kuatnya dalam melindungi generasi berikutnya dari beban psikologis yang tidak perlu. Dengan mengedepankan konsistensi, kasih sayang, dan bantuan profesional, ia berharap dapat memberikan contoh nyata bahwa perceraian tidak harus menjadi akhir dari kebahagiaan keluarga, melainkan dapat menjadi titik awal bagi pertumbuhan pribadi yang lebih sehat bagi semua pihak yang terlibat.





