123Berita – 07 April 2026 | Desa Upang Marga, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan menjadi saksi nyata keberhasilan layanan darurat Call Center 110 dalam menanggapi situasi kritis seorang nelayan. Pada suatu pagi di pertengahan bulan ini, seorang nelayan lokal yang sedang mengarungi perairan sungai Musi mengalami gangguan kesehatan yang mengancam nyawanya. Kondisi tersebut memaksa ia memohon pertolongan medis secara mendesak.
Setelah konfirmasi, tim Ditpolairud (Direktorat Polisi Lalu Lintas dan Angkutan Udara) Polda Sumatera Selatan langsung dikerahkan. Tim khusus yang terdiri dari petugas medis, paramedis, serta unit pengamanan wilayah segera menyiapkan sarana transportasi darurat berupa mobil ambulans berperlengkapan lengkap. Dalam hitungan menit, ambulans mencapai titik pertemuan di tepi sungai, tepat di depan rumah nelayan yang membutuhkan pertolongan.
Proses evakuasi berjalan dengan cepat dan terkoordinasi. Petugas medis melakukan penilaian awal, memberikan pertolongan pertama, serta menstabilkan kondisi korban sebelum dipindahkan ke mobil ambulans. Selama perjalanan, tim medis terus memantau tanda vital dan memberikan perawatan lanjutan, sehingga risiko komplikasi dapat diminimalisir.
Setibanya di RSUD Palembang, rumah sakit rujukan utama di Sumatera Selatan, korban langsung diterima oleh dokter spesialis penyakit dalam. Setelah serangkaian pemeriksaan, diketahui bahwa penderita mengalami serangan jantung ringan yang dipicu oleh kelelahan fisik dan dehidrasi ekstrem. Berkat penanganan cepat, prosedur medis yang tepat, serta dukungan tim paramedis, kondisi pasien stabil dan kini berada dalam proses pemulihan.
Kapten Polisi Sektor Polda Sumatera Selatan yang memimpin operasi evakuasi, Kombes Pol. Rudi Hartono, menegaskan pentingnya sinergi antara layanan darurat 110 dan unit kepolisian. “Kami berkomitmen memberikan respons secepat kilat bila ada panggilan darurat, terutama pada kasus yang menyangkut nyawa. Kolaborasi dengan petugas medis dan fasilitas kesehatan menjadi kunci utama keberhasilan penanganan,” ungkapnya dalam konferensi pers singkat.
Pihak Call Center 110 juga menyampaikan kebanggaannya atas keberhasilan penanganan kasus ini. Kepala Unit Layanan Darurat, Sersan Komandan (SKom) Andi Prasetyo, menjelaskan prosedur standar operasional yang diterapkan. “Setiap panggilan yang masuk kami kategorikan berdasarkan tingkat keparahan. Pada kasus ini, kami mengidentifikasi kondisi kritis dan langsung menghubungkan dengan unit medis terdekat serta menyiapkan tim kepolisian untuk pengamanan dan evakuasi,” jelasnya.
Kasus evakuasi nelayan kritis ini menyoroti peran vital layanan Call Center 110 dalam sistem penanggulangan darurat di Indonesia. Sejak resmi beroperasi pada tahun 2020, layanan ini telah mencatat ribuan panggilan yang berhasil ditangani, mulai dari kecelakaan lalu lintas, kebakaran, hingga bencana alam. Kecepatan respons dan kemampuan koordinasi lintas sektoral menjadi keunggulan utama yang diakui masyarakat.
Selain itu, peristiwa ini mengingatkan pentingnya kesadaran akan risiko kesehatan pada pekerja sektor perikanan. Banyak nelayan yang menghabiskan waktu berjam‑jam di atas perahu dengan kondisi fisik yang menantang, tanpa akses langsung ke fasilitas medis. Pemerintah daerah Banyuasin berencana meningkatkan program edukasi kesehatan bagi komunitas nelayan, termasuk pelatihan pertolongan pertama, penyediaan posko kesehatan di pelabuhan, serta peningkatan sarana transportasi darurat di wilayah pesisir.
Dalam rangka memperkuat jaringan layanan darurat, Polda Sumatera Selatan berkolaborasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Kesehatan setempat untuk melakukan simulasi evakuasi secara periodik. Simulasi ini bertujuan menguji kecepatan respons, kelancaran komunikasi, serta kesiapan sarana medis di lapangan. Hasil evaluasi terbaru menunjukkan peningkatan signifikan dalam waktu respons, dari rata‑rata 15 menit menjadi kurang dari 5 menit pada kasus kritis.
Para ahli kesehatan menilai bahwa keberhasilan evakuasi ini tidak lepas dari kesiapan mental dan fisik petugas lapangan. “Kesiapan fisik, pengetahuan medis, serta kemampuan berkomunikasi dengan cepat menjadi faktor penentu dalam menyelamatkan nyawa,” ujar Dr. Siti Nurhayati, pakar kedokteran darurat dari Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya.
Secara keseluruhan, evakuasi nelayan kritis di Banyuasin menjadi contoh konkret bagaimana sinergi antara layanan darurat Call Center 110, kepolisian, serta fasilitas kesehatan dapat menghasilkan respons yang cepat dan tepat. Keberhasilan ini diharapkan menjadi motivasi bagi daerah lain untuk memperkuat jaringan layanan darurat, mengoptimalkan pelatihan bagi petugas, dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menghubungi nomor 110 saat menghadapi situasi darurat.