123Berita – 10 April 2026 | Beberapa pekan lalu, video singkat menampilkan Chris Kempczinski, pimpinan global McDonald’s, sedang mencicipi burger terbaru mereka, Big Arch, dengan cara yang dianggap tidak biasa oleh netizen. Potongan video yang beredar luas di platform TikTok, Instagram, dan X (Twitter) menunjukkan CEO tersebut meneguk burger secara cepat, menelan dalam satu gigitan besar, lalu mengangkat tangan seolah‑seolah memberi isyarat keberhasilan. Gaya makan yang tampak “rakus” itu langsung memicu gelombang komentar, meme, dan perdebatan di kalangan pengguna media sosial di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Video tersebut pertama kali diunggah pada tanggal 12 Maret 2024 oleh akun resmi McDonald’s Amerika dengan caption promosi peluncuran Big Arch. Namun, fokus utama penonton beralih dari produk baru ke cara CEO tersebut menikmati makanan. Banyak pengguna menilai aksi tersebut “aneh” atau “berlebihan”, sementara sebagian lainnya memuji keberanian Kempczinski untuk menampilkan sisi manusiawi dalam posisi eksekutif senior. Hashtag #BigArchChallenge dan #ChrisEatsSoon merajalela, menghasilkan lebih dari 2,3 juta tampilan dalam 48 jam.
Reaksi publik tidak hanya terbatas pada komentar lucu. Beberapa ahli gizi mengkritik kemungkinan dampak kesehatan dari cara makan tersebut, mengingat ukuran burger Big Arch yang diperkirakan mengandung lebih dari 900 kalori per porsi. Di sisi lain, pakar perilaku konsumen menyoroti bagaimana aksi spontan semacam ini dapat memperkuat citra merek yang berani dan tidak terlalu formal. Menurut Rina Wulandari, konsultan pemasaran digital, “Ketika seorang CEO menuruti tren media sosial, ia tidak hanya mengurangi jarak antara manajemen dan konsumen, tetapi juga menciptakan momen yang mudah diingat dan dibagikan.”
Menanggapi gelombang komentar, kantor pusat McDonald’s mengeluarkan pernyataan resmi pada 15 Maret 2024. Dalam pernyataan tersebut, mereka menjelaskan bahwa gaya makan Kempczinski tidak dirancang sebagai kampanye pemasaran, melainkan sebagai “eksperimen pribadi” untuk menilai reaksi pasar terhadap Big Arch. CEO tersebut kemudian mengirimkan video balasan melalui akun pribadi yang menegaskan, “Saya ingin menunjukkan betapa beragamnya cara orang menikmati makanan kami. Tidak ada yang salah dengan menikmati burger dengan penuh semangat, asalkan tetap dalam batas wajar.”
- CEO McDonald’s menegaskan bahwa aksi tersebut tidak dimaksudkan untuk mempromosikan pola makan berlebihan.
- Perusahaan menambahkan bahwa Big Arch tetap diproduksi dengan standar gizi yang transparan.
- McDonald’s berjanji akan terus memantau umpan balik konsumen terkait produk baru.
Analisis lebih lanjut mengungkap bahwa video tersebut secara tidak langsung meningkatkan eksposur merek. Data internal McDonald’s menunjukkan lonjakan 18% dalam pencarian kata kunci “Big Arch” di Google Indonesia selama tiga hari setelah video viral. Penjualan Big Arch di beberapa gerai di Jakarta dan Surabaya meningkat sekitar 12% dibandingkan minggu sebelumnya, meskipun belum ada data resmi yang dirilis secara publik.
Di dunia fast‑food, strategi memanfaatkan viralitas bukan hal baru. McDonald’s pernah menggelar kampanye “McPick 2” dan “McPlant” yang berhasil menarik perhatian generasi milenial lewat tantangan media sosial. Namun, keberhasilan kali ini menonjol karena melibatkan sosok eksekutif tertinggi perusahaan, yang jarang muncul dalam konten hiburan atau pemasaran konsumen.
Sejumlah pengamat menilai bahwa fenomena ini memberikan pelajaran penting bagi merek lain. “Ketika otoritas perusahaan turun ke lapangan dan berinteraksi secara otentik, konsumen cenderung merespons dengan rasa penasaran dan keterlibatan tinggi,” ujar Dwi Putra, dosen komunikasi di Universitas Indonesia. Namun, ia menambahkan, risiko juga ada: aksi yang dianggap berlebihan dapat menimbulkan persepsi negatif terkait kesehatan atau etika perusahaan.
Selain dampak komersial, episode ini menimbulkan diskusi budaya mengenai norma makan di ruang publik. Beberapa pengguna media sosial Indonesia menyoroti perbedaan kebiasaan makan di Amerika versus Indonesia, mengingat budaya makan bersama dan porsi yang lebih kecil di tanah air. Diskusi ini memperkaya perspektif tentang bagaimana tren global dapat berinteraksi dengan nilai lokal.
Ke depan, McDonald’s berjanji akan terus mendengarkan masukan konsumen. Pimpinan regional Asia‑Pasifik, Chris Kempczinski, menyatakan akan mengadakan sesi tanya‑jawab daring dengan pelanggan pada akhir bulan April, guna membahas produk baru, kebijakan gizi, dan strategi pemasaran yang lebih inklusif. Harapan perusahaan adalah menciptakan dialog dua arah yang lebih transparan, sekaligus memanfaatkan momentum viral untuk memperkuat loyalitas pelanggan.
Secara keseluruhan, aksi makan Big Arch yang menjadi sorotan media sosial berhasil menambah warna baru pada strategi komunikasi McDonald’s. Meskipun menu baru tersebut masih dalam tahap pengenalan, respons publik yang kuat menunjukkan bahwa cara penyajian cerita—bahkan melalui momen yang tampak sederhana—dapat menjadi katalisator pertumbuhan brand. Bagi konsumen, episode ini menjadi pengingat bahwa di era digital, setiap gerak-gerik publik figur dapat berubah menjadi perbincangan nasional, menuntut perusahaan untuk selalu siap menanggapi dengan cepat, jujur, dan bertanggung jawab.