Bung Karno Bantu Gotong Jenazah Ibu Amsi: Perjalanan Menembus Hutan dan Bukit di Ende

Bung Karno Bantu Gotong Jenazah Ibu Amsi: Perjalanan Menembus Hutan dan Bukit di Ende
Bung Karno Bantu Gotong Jenazah Ibu Amsi: Perjalanan Menembus Hutan dan Bukit di Ende

123Berita – 07 April 2026 | Pada era penjajahan Belanda, kisah kemanusiaan dan solidaritas sering muncul di tengah kerasnya kebijakan kolonial. Salah satu episode yang jarang diangkat dalam buku sejarah adalah upaya Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, yang secara pribadi memimpin gotong-royong pengurusan jenazah Ibu Amsi, seorang warga Ende, Nusa Tenggara Timur. Peristiwa ini tidak hanya mencerminkan kepedulian Soekarno terhadap rakyatnya, tetapi juga menggambarkan tantangan logistik yang harus dihadapi ketika pemerintah kolonial menolak memberi bantuan perawatan dan bahkan melarang pemakaman di dalam kota.

Situasi bermula ketika Ibu Amsi, seorang perempuan berusia lanjut yang dikenal sebagai sosok kebijaksanaan di karesidenan Ende, jatuh sakit parah. Karena keterbatasan fasilitas medis di wilayah itu, pemerintah kolonial tidak memberikan bantuan apa pun. Dokumen arsip menunjukkan bahwa pejabat karesidenan bahkan menolak mengirimkan perawat atau obat-obatan ke rumahnya. Kondisi ini memaksa keluarga Ibu Amsi mencari alternatif, dan pada saat itulah nama Soekarno muncul sebagai harapan terakhir.

Bacaan Lainnya

Berita mengenai penderitaan Ibu Amsi sampai ke telinga Soekarno melalui jaringan aktivis nasionalis yang beroperasi di wilayah timur. Mengetahui situasi darurat, Soekarno tidak hanya mengirimkan surat dukungan, melainkan memutuskan untuk turun langsung ke Ende bersama rombongan kecil yang terdiri dari para relawan, aparat keamanan, serta beberapa tokoh masyarakat setempat. Kedatangan sang pemimpin nasional menjadi sorotan utama, karena pada saat itu ia masih berada dalam proses pergerakan kemerdekaan yang intens.

Sesampainya di Ende, Soekarno menemukan bahwa Ibu Amsi telah meninggal dunia. Pemerintah karesidenan, yang masih memegang otoritas administratif, melarang agar jenazahnya dikubur di dalam kota. Kebijakan tersebut didasarkan pada alasan sanitasi dan kontrol wilayah, namun secara implisit mengekang hak warga untuk melakukan pemakaman sesuai tradisi. Soekarno menolak kebijakan itu dan memerintahkan agar jenazah dipindahkan ke lokasi pemakaman tradisional di luar kota, yang berada di antara hutan lebat dan perbukitan yang terjal.

Proses pemindahan jenazah tidaklah mudah. Rute yang harus ditempuh melintasi hutan tropis yang belum pernah dijelajahi oleh rombongan resmi sebelumnya. Tanah yang licin, curah hujan yang tinggi, serta keberadaan jalur setapak yang sempit menambah kompleksitas. Soekarno memimpin langsung para relawan dalam proses gotong-royong, mengangkat peti jenazah dengan cara tradisional, sambil mengatur pergantian posisi secara bergantian agar beban terdistribusi merata.

Selama perjalanan, Soekarno tidak hanya berfokus pada tugas logistik, tetapi juga meluangkan waktu untuk berinteraksi dengan penduduk setempat. Ia menyampaikan pidato singkat tentang pentingnya persatuan, keadilan, dan penghormatan terhadap tradisi lokal. Momen ini menjadi simbolik, menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak hanya terletak pada kebijakan makro, melainkan juga pada kepedulian terhadap detail kehidupan sehari-hari masyarakat.

Setelah menempuh jarak sekitar tiga puluh kilometer melalui hutan dan bukit, rombongan berhasil menurunkan jenazah Ibu Amsi di lokasi makam yang telah dipersiapkan sebelumnya. Upacara pemakaman dilaksanakan dengan adat setempat, lengkap dengan tarian, nyanyian, dan doa. Soekarno hadir di samping para pemuka adat, memberikan penghormatan terakhir kepada almarhumah sekaligus menegaskan kembali komitmennya untuk melindungi hak-hak tradisional warga Indonesia.

Peristiwa ini kemudian menjadi bahan perbincangan di kalangan elit politik kolonial dan nasionalis. Pemerintah Belanda, yang awalnya menolak memberikan bantuan, kini harus mengakui fakta bahwa tindakan Soekarno berhasil mengatasi hambatan administratif dan logistik yang mereka ciptakan. Bagi para aktivis, kisah ini menjadi bukti nyata bahwa solidaritas dan keberanian dapat melampaui batas-batas geografis dan struktural.

Sejak saat itu, nama Ibu Amsi dan perjuangannya bersama Soekarno terus dikenang di Ende. Setiap tahun, masyarakat setempat mengadakan peringatan kecil di makamnya, mengingat kembali nilai-nilai kebersamaan yang dihidupkan oleh sang pemimpin. Kisah ini juga menjadi pelajaran penting bagi generasi muda Indonesia: bahwa kepemimpinan sejati melibatkan aksi nyata di lapangan, bukan sekadar retorika di atas kertas.

Kesimpulannya, upaya Bung Karno dalam membantu gotong-jenazah Ibu Amsi menembus hutan dan bukit tidak hanya menyelamatkan hak warga untuk berbuat sesuai adat, tetapi juga memperlihatkan kekuatan moral dan keberanian seorang pemimpin dalam menghadapi kebijakan kolonial yang menindas. Peristiwa tersebut menegaskan kembali komitmen Soekarno terhadap keadilan sosial, sekaligus menambah dimensi humanis dalam narasi sejarah perjuangan Indonesia.

Pos terkait