123Berita – 09 April 2026 | Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan bahwa probabilitas terjadinya fenomena iklim El Nino yang sangat kuat atau yang kini dikenal sebagai “Super El Nino” pada tahun 2024 berada pada level yang relatif rendah. Meskipun demikian, BMKG memperingatkan bahwa musim kemarau dapat berlangsung lebih lama dari biasanya, menimbulkan tantangan bagi sektor pertanian, kesehatan, dan kebakaran hutan.
El Nino merupakan kondisi anomali suhu permukaan laut di daerah khatulistiwa Pasifik bagian tengah hingga timur yang berpotensi memengaruhi pola cuaca global. Versi ekstremnya, Super El Nino, biasanya diikuti oleh peningkatan suhu laut yang signifikan, penurunan curah hujan, serta peningkatan frekuensi gelombang panas. Pada siklus sebelumnya, Super El Nino 2015‑2016 menyebabkan kerugian ekonomi mencapai ratusan miliar dolar di sejumlah negara, termasuk Indonesia.
Walaupun kemungkinan Super El Nino menurun, BMKG menegaskan bahwa pola kemarau di Indonesia dapat tetap mengalami perpanjangan. Data historis mengindikasikan bahwa fenomena El Nino, meski tidak dalam kategori “super”, mampu memperpanjang musim kemarau hingga tiga hingga empat minggu lebih lama dibandingkan rata‑rata tahunan. Dampak ini berpotensi mengurangi ketersediaan air untuk irigasi, menurunkan hasil panen padi, serta meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.
- Pertanian: Tanaman padi yang sedang memasuki fase generatif memerlukan curah hujan konsisten. Keterlambatan atau penurunan intensitas hujan dapat menurunkan hasil produksi hingga 10‑15 % pada beberapa wilayah Jawa dan Sumatra.
- Kesehatan: Suhu udara yang lebih tinggi dan kelembaban yang menurun menciptakan kondisi ideal bagi penyebaran penyakit pernapasan dan vektor penyakit seperti demam berdarah.
- Kebakaran: Tanah yang kering meningkatkan peluang kebakaran hutan, terutama di kawasan yang sebelumnya mengalami deforestasi atau penebangan ilegal.
Untuk menghadapi skenario tersebut, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah menyusun rencana kontinjensi yang mencakup distribusi bibit padi tahan kekeringan, peningkatan kapasitas pompa air di daerah rawan, serta penegakan hukum yang lebih ketat terhadap praktik pembukaan lahan secara ilegal.
Para pakar klimatologi, seperti Dr. Rina Setiawan dari Institut Teknologi Bandung, menilai bahwa adaptasi jangka pendek menjadi kunci. “Kita tidak dapat mengendalikan fenomena alam, namun mitigasi melalui kebijakan berbasis data dan peningkatan kesadaran petani dapat mengurangi kerugian ekonomi,” ujar Rina dalam sebuah diskusi panel pada konferensi iklim nasional.
BMKG juga menekankan pentingnya pemantauan berkelanjutan melalui jaringan satelit dan stasiun cuaca darat. Data real‑time akan memungkinkan otoritas untuk memberikan peringatan dini kepada masyarakat, terutama di wilayah yang paling rentan terhadap kekeringan dan kebakaran. Pemerintah daerah di beberapa provinsi, termasuk Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Nusa Tenggara Barat, telah menyiapkan dana darurat untuk mendukung kegiatan pertanian dan pemadaman kebakaran.
Secara keseluruhan, meskipun peluang terjadinya Super El Nino pada tahun ini berada pada level yang relatif rendah, ancaman perpanjangan musim kemarau tetap menjadi fokus utama. Kesiapan lintas sektor—dari badan meteorologi, lembaga pertanian, hingga aparat keamanan—diharapkan dapat meminimalkan dampak negatif terhadap ekonomi dan kesehatan masyarakat Indonesia.





