123Berita – 07 April 2026 | Ben Kasyafani, aktor yang tak hanya dikenal lewat peran-peran di layar lebar, kini semakin menegaskan dirinya sebagai sosok foodies sejati. Dalam rangkaian perjalanan kuliner terbaru, Ben menelusuri jajaran cita rasa dari kota metropolitan Bangkok, Thailand, hingga kota suci Madinah, Arab Saudi. Perjalanan ini tidak sekadar menambah koleksi foto, melainkan menjadi catatan visual dan tulisan yang menampilkan ragam budaya makanan di dua wilayah yang sangat kontras.
Berangkat dari Jakarta, Ben memulai petualangan kuliner di Bangkok, sebuah kota yang selama ini menjadi magnet bagi para pencinta kuliner internasional. Di ibu kota Thailand tersebut, ia mengeksplorasi pasar tradisional, kedai pinggir jalan, serta restoran bintang lima yang menyajikan hidangan khas Siam. Salah satu momen paling berkesan tercipta ketika Ben mencicipi Pad Thai di sebuah warung kecil di kawasan Banglamphu. Dengan saus asam manis yang seimbang, mie beras bertekstur kenyal, serta taburan kacang tanah sangrai, hidangan tersebut berhasil menghidupkan kembali kenangan masa kecil Ben yang pernah berkunjung ke Thailand bersama keluarganya.
Tak berhenti di situ, Ben juga menyelami kuliner pedas khas Bangkok melalui Tom Yum Goong. Sup seafood dengan aroma serai, daun jeruk, dan cabai merah ini menawarkan sensasi pedas-asam yang memikat. Ben menuliskan dalam catatannya, “Rasa segar dari bahan-bahan alami mengubah setiap suapan menjadi pengalaman sensorik yang tak terlupakan.” Selain itu, ia tidak melewatkan kesempatan mencicipi Som Tum—salad pepaya hijau pedas—yang biasanya disajikan bersama Khao Niao (nasi ketan). Kombinasi rasa manis, asam, asin, dan pedas dalam satu piring menjadi bukti keahlian kuliner Thailand dalam menyeimbangkan rasa.
Sementara itu, di sisi manis, Ben menjajal dessert tradisional Thailand, Mango Sticky Rice. Nasi ketan yang lembut dipadukan dengan mangga matang dan santan kental, menghasilkan sensasi manis yang lembut di lidah. Dalam foto-foto yang ia bagikan, terlihat betapa benang merah antara rasa dan visual menjadi bagian penting dalam menyampaikan cerita kuliner.
Setelah menelusuri kekayaan rasa di Bangkok, Ben melanjutkan perjalanannya ke Madinah, sebuah kota suci yang lebih dikenal dengan nilai spiritualnya daripada sekadar kuliner. Namun, Ben berhasil menemukan sisi gastronomi yang tak kalah menarik di kota ini. Di Madinah, ia menyusuri pasar tradisional Al-Masjid al-Nabawi, dimana beragam hidangan Arab klasik dapat ditemui.
Berbagi meja dengan penduduk lokal, Ben mencicipi Kabsa, nasi berbumbu yang dimasak bersama daging kambing, kacang almond, dan rempah-rempah khas Arab. Aromanya yang harum mengisi ruangan, sementara tekstur nasi yang pulen menyatu sempurna dengan potongan daging yang empuk. Ben mencatat, “Meskipun sederhana, Kabsa menyiratkan kehangatan budaya Arab yang mengutamakan kebersamaan di meja makan.”
Tak ketinggalan, Ben juga menjajal Shawarma yang dijajakan di pinggir jalan. Daging domba atau ayam yang dipanggang perlahan, kemudian dibungkus dalam roti pita tipis, lengkap dengan saus tahini, acar, dan sayuran segar, menjadi pilihan cepat namun memuaskan bagi para pejalan kaki. Ben menyoroti bahwa kecepatan penyajian tidak mengorbankan kualitas rasa, melainkan justru menambah dinamika kuliner jalanan Madinah.
Untuk menutup rangkaian kuliner di Madinah, Ben menyantap Halwa – kue manis berbahan dasar tepung, gula, dan minyak, seringkali diperkaya dengan kacang pistachio. Tekstur kenyal dan rasa manis yang lembut memberikan sentuhan akhir yang menenangkan setelah seharian menjelajah kota.
Selama perjalanan, Ben tidak hanya mendokumentasikan makanan, melainkan juga interaksi dengan penjual, chef, dan warga setempat. Ia menyoroti bagaimana setiap hidangan menjadi cerminan nilai budaya, tradisi, dan sejarah tempatnya berasal. Dari pasar-pasar yang berwarna-warni di Bangkok hingga souk-souk beraroma rempah di Madinah, Ben menekankan pentingnya menghargai keberagaman rasa sebagai jembatan antar budaya.
Pengalaman kuliner Ben Kasyafani ini sekaligus menjadi inspirasi bagi para penikmat makanan di Indonesia. Ia mengajak pembaca untuk tidak takut mencoba hal baru, melainkan menjadikan makanan sebagai medium untuk menjelajahi dunia. “Setiap suapan adalah cerita,” ujar Ben dalam salah satu caption Instagramnya, “dan cerita itu layak untuk dibagikan.”
Dengan foto-foto yang memukau dan narasi yang penuh rasa, Ben berhasil mengubah sekadar wisata kuliner menjadi sebuah perjalanan edukatif yang menghubungkan selera, sejarah, dan kebersamaan. Bagi mereka yang ingin menelusuri jejak rasa, jejak langkah Ben menjadi peta yang dapat diikuti, baik secara virtual maupun melalui perjalanan nyata ke Bangkok atau Madinah.
Kesimpulannya, Ben Kasyafani membuktikan bahwa seorang aktor sekaligus presenter dapat menyalurkan passionnya dalam dunia kuliner secara autentik. Dari kehangatan Pad Thai hingga kehalusan Halwa, setiap hidangan menggambarkan keunikan budaya masing-masing tempat. Perjalanan ini tidak hanya menambah daftar destinasi kuliner Ben, tetapi juga memperkaya pengetahuan pembaca tentang keragaman rasa yang ada di dunia. Semoga catatan ini menjadi inspirasi bagi para foodies Indonesia untuk terus menjelajah, mengeksplorasi, dan menikmati setiap rasa yang ditawarkan bumi pertiwi dan lintas batas.





