123Berita – 09 April 2026 | Bank of England (BoE) mengeluarkan peringatan tegas bahwa praktik penetapan harga dinamis atau “surge pricing” berpotensi menyusul ke rak-rak supermarket di Britania Raya. Fenomena yang selama ini dikenal dalam layanan transportasi online dan layanan pengantaran makanan kini diprediksi akan meluas ke sektor ritel makanan, memicu kekhawatiran tentang keadilan harga dan perlindungan konsumen.
Surge pricing adalah strategi penetapan harga yang berubah-ubah berdasarkan tingkat permintaan konsumen pada suatu waktu tertentu. Pada puncak permintaan, harga dapat meningkat secara signifikan, sementara pada periode sepi harga kembali turun. Di pasar transportasi, model ini telah menjadi hal biasa; namun dalam konteks belanja kebutuhan sehari-hari, dampaknya dapat jauh lebih luas karena melibatkan barang-barang pokok yang tidak dapat ditunda pembeliannya.
BoE menyebutkan bahwa adopsi teknologi label digital di supermarket membuka pintu bagi penerapan algoritma penentuan harga secara real‑time. Label elektronik yang terpasang di rak dapat menampilkan harga yang berubah tiap menit, menyesuaikan dengan faktor-faktor seperti fluktuasi pasokan, cuaca, atau pola belanja konsumen. Sejumlah retailer besar di Inggris sudah menguji coba sistem ini, dan survei terbaru menunjukkan hampir setengah dari perusahaan ritel berskala menengah hingga besar berencana meningkatkan penggunaan harga dinamis dalam dua tahun ke depan.
Data yang dirilis oleh Financial Times mengungkapkan bahwa 48 persen perusahaan ritel di Inggris mengidentifikasi “dynamic pricing” sebagai strategi utama untuk meningkatkan margin keuntungan. Sementara itu, The Telegraph melaporkan bahwa BoE khawatir praktik ini dapat memperlebar kesenjangan ekonomi, terutama bagi konsumen berpenghasilan rendah yang lebih rentan terhadap fluktuasi harga pada barang-barang esensial.
Berikut beberapa poin utama yang diangkat dalam peringatan BoE:
- Transparansi harga: Konsumen harus dapat melihat dan memahami alasan di balik perubahan harga secara jelas, bukan hanya melihat angka yang berubah secara tiba‑tiba.
- Pengawasan regulator: Otoritas persaingan usaha (CMA) dan lembaga perlindungan konsumen diharapkan meningkatkan pengawasan terhadap praktik penetapan harga yang dianggap eksploitatif.
- Kebijakan internal retailer: Supermarket diimbau untuk menetapkan batas maksimum kenaikan harga dalam periode tertentu, serta menyediakan notifikasi sebelumnya kepada pembeli.
Para ahli ekonomi menilai bahwa meski harga dinamis dapat membantu retailer mengoptimalkan stok dan mengurangi pemborosan, mekanisme tersebut harus diimbangi dengan kebijakan perlindungan konsumen yang kuat. Dr. Amelia Clarke, pakar ekonomi konsumen di University of London, menekankan bahwa “tanpa regulasi yang tepat, surge pricing dapat menjadi alat diskriminatif yang merugikan kelompok rentan”.
Di sisi lain, perwakilan beberapa jaringan supermarket berargumen bahwa penetapan harga berbasis data memungkinkan mereka menyesuaikan penawaran dengan kondisi pasar secara lebih responsif. “Kami berkomitmen untuk tetap menjaga keadilan bagi semua pelanggan, dan teknologi baru akan dipergunakan untuk meningkatkan efisiensi tanpa mengorbankan kepentingan konsumen,” kata seorang juru bicara dari salah satu jaringan supermarket terbesar di Inggris.
Penerapan label digital juga menimbulkan tantangan operasional. Penyesuaian harga secara otomatis membutuhkan infrastruktur IT yang kuat, serta integrasi data antara pemasok, logistik, dan sistem point‑of‑sale. Selain itu, pelatihan staf dan edukasi konsumen menjadi faktor penting untuk memastikan transisi yang mulus.
Dalam rangka menanggapi kekhawatiran publik, BoE berencana meluncurkan serangkaian rekomendasi kebijakan pada kuartal berikutnya. Rekomendasi tersebut mencakup pembuatan standar transparansi harga, pelaporan berkala tentang penggunaan algoritma penentuan harga, serta mekanisme pengaduan yang mudah diakses oleh konsumen.
Sejauh ini, respons konsumen terhadap ide harga dinamis masih beragam. Survei yang dilakukan oleh organisasi konsumen Inggris menunjukkan bahwa 62 persen responden merasa tidak nyaman dengan kemungkinan harga berubah-ubah dalam satu hari, terutama untuk produk makanan segar dan barang kebutuhan rumah tangga.
Jika tidak diatur dengan tepat, surge pricing di supermarket dapat menimbulkan efek domino pada inflasi, mengingat makanan dan kebutuhan pokok merupakan komponen utama dalam perhitungan indeks harga konsumen (IHK). BoE mengingatkan bahwa kontrol harga yang tidak efektif dapat memperparah tekanan inflasi yang masih menjadi tantangan utama bagi kebijakan moneter Inggris.
Dengan latar belakang tersebut, pihak regulator diharapkan dapat menemukan keseimbangan antara inovasi teknologi retail dan perlindungan hak konsumen. Keputusan yang diambil kini akan menjadi penentu apakah model penetapan harga dinamis akan menjadi norma baru dalam belanja sehari‑hari atau tetap menjadi fenomena terbatas pada sektor layanan digital.
Kesimpulannya, meskipun teknologi label digital membuka peluang efisiensi operasional bagi supermarket, risiko penerapan surge pricing harus dikelola secara hati‑hati. Kebijakan yang transparan, pengawasan regulator yang kuat, dan edukasi konsumen menjadi kunci untuk memastikan bahwa inovasi tidak berbalik menjadi beban bagi pembeli.