Bank OCBC NISP Sambut Dorongan OJK, Ungkap Tantangan Naik Kelas ke KBMI-4

Bank OCBC NISP Sambut Dorongan OJK, Ungkap Tantangan Naik Kelas ke KBMI-4
Bank OCBC NISP Sambut Dorongan OJK, Ungkap Tantangan Naik Kelas ke KBMI-4

123Berita – 09 April 2026 | PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP) menyatakan kesiapan untuk menanggapi himbauan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar bank-bank yang berada di Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) 3 segera naik kelas menjadi KBMI 4. Pernyataan tersebut disampaikan dalam rapat internal manajemen pada akhir pekan lalu, sekaligus mengakui bahwa proses peningkatan kelas tidak dapat dicapai secara instan karena melibatkan sejumlah tantangan struktural.

KBMI merupakan klasifikasi yang dikeluarkan OJK berdasarkan besaran modal inti (core capital) masing-masing bank. Kenaikan dari KBMI-3 ke KBMI-4 mensyaratkan peningkatan modal inti minimal 30 triliun rupiah, serta terpenuhinya sejumlah rasio prudensial seperti Capital Adequacy Ratio (CAR) yang lebih tinggi, Likuiditas, dan kualitas aset yang lebih baik. OJK menekankan bahwa transisi cepat ke KBMI-4 diharapkan dapat memperkuat ketahanan sistem perbankan nasional di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Bacaan Lainnya

Bank OCBC NISP mengidentifikasi empat pilar utama yang menjadi hambatan utama dalam upaya naik kelas. Pertama, pengumpulan modal tambahan yang harus dilakukan tanpa mengorbankan profitabilitas. Kedua, peningkatan kualitas aset yang memerlukan penurunan rasio Non-Performing Loan (NPL) ke level yang lebih kompetitif. Ketiga, penyempurnaan manajemen risiko untuk menyesuaikan standar OJK yang semakin ketat. Keempat, optimalisasi efisiensi operasional melalui digitalisasi layanan agar biaya operasional dapat ditekan tanpa mengurangi kualitas layanan nasabah.

Untuk mengatasi kendala modal, NISP berencana melakukan rights issue dan menjajaki kemungkinan penerbitan obligasi subordinasi. Langkah ini diharapkan dapat menambah modal inti tanpa menimbulkan dilusi signifikan bagi pemegang saham yang sudah ada. Selain itu, bank juga sedang menyiapkan program penjualan aset non-inti dan restrukturisasi portofolio kredit yang dianggap kurang produktif.

Di sisi kualitas aset, NISP menegaskan komitmen untuk menurunkan rasio NPL melalui penagihan yang lebih agresif, restrukturisasi kredit yang terukur, serta penjualan aset bermasalah ke lembaga penilai independen. Manajemen risiko pun sedang ditingkatkan dengan penguatan unit kredit, penambahan teknologi pemantauan risiko berbasis AI, serta pelatihan intensif bagi tim credit analyst.

Transformasi digital menjadi faktor kunci dalam upaya menurunkan biaya operasional. NISP tengah memperluas jaringan layanan perbankan digital, meluncurkan platform fintech yang terintegrasi, serta meningkatkan penggunaan kanal self-service di kantor cabang. Langkah ini tidak hanya mengurangi beban biaya, tetapi juga memperkuat daya saing di pasar perbankan yang semakin terdigitalisasi.

Meski tantangan masih signifikan, manajemen Bank OCBC NISP menegaskan bahwa target jangka menengah untuk mencapai KBMI-4 tetap realistis asalkan dukungan pemangku kepentingan, termasuk regulator, pemegang saham, dan nasabah, tetap solid. “Kami tidak menutup kemungkinan untuk mencapai KBMI-4 dalam kurun waktu tiga hingga lima tahun, asalkan strategi pendanaan, perbaikan kualitas aset, dan digitalisasi berjalan selaras,” ujar Direktur Utama NISP dalam pernyataan resmi.

Kesimpulannya, upaya Bank OCBC NISP untuk naik kelas ke KBMI-4 mencerminkan komitmen sektor perbankan Indonesia dalam memperkuat fondasi keuangan nasional. Dengan rencana penguatan modal, perbaikan aset, dan adopsi teknologi digital, NISP berharap dapat memenuhi ekspektasi OJK sekaligus meningkatkan nilai tambah bagi pemegang saham dan nasabah.

Pos terkait