Banjir Demak Tinggi 1,5 Meter, 2.839 Warga Mengungsi; Akses Jalan Terputus

Banjir Demak Tinggi 1,5 Meter, 2.839 Warga Mengungsi; Akses Jalan Terputus
Banjir Demak Tinggi 1,5 Meter, 2.839 Warga Mengungsi; Akses Jalan Terputus

123Berita – 04 April 2026 | Hujan deras yang melanda Kabupaten Demak, Jawa Tengah, pada akhir pekan lalu memicu peningkatan signifikan pada permukaan sungai-sungai utama. Akibatnya, ketinggian air mencapai 1,5 meter di beberapa titik kritis, menenggelamkan permukiman, menggenangi lahan pertanian, dan membuat jaringan jalan utama lumpuh total.

Situasi kritis ini dipicu oleh intensitas curah hujan yang tidak biasa pada wilayah Demak selama 48 jam terakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa curah hujan pada beberapa daerah melebihi 200 mm, melampaui ambang batas normal bulanan. Kombinasi antara volume air yang tinggi dan sistem drainase yang tidak memadai memperparah dampak banjir.

Bacaan Lainnya

Air yang menggenangi jalan utama, terutama di Jalan Raya Demak‑Kendal dan Jalan Pantura, menyebabkan akses masuk dan keluar wilayah terdampak terputus. Kendaraan darurat, termasuk mobil ambulans dan truk bantuan, harus mencari jalur alternatif yang lebih sempit, menghambat proses evakuasi dan distribusi bantuan. Warga yang terperangkap di daerah-daerah rendah melaporkan kesulitan mendapatkan bantuan medis dan kebutuhan pokok.

BNPB bersama Dinas Penanggulangan Bencana Daerah (DPBD) Demak telah menurunkan tim tanggap cepat ke lokasi terdampak. Tim tersebut menyalurkan bantuan berupa beras, air bersih, selimut, dan perlengkapan kebersihan kepada para pengungsi. Selain itu, tim penyelamat juga berkoordinasi dengan TNI dan Polri untuk melakukan evakuasi warga yang berada di daerah rawan longsor.

Berikut adalah ringkasan data utama terkait bencana banjir di Demak:

  • Jumlah pengungsi: 2.839 jiwa
  • Ketinggian air tertinggi: 1,5 meter
  • Lokasi terparah: Kecamatan Demak, Trengguli, dan Sayung
  • Jalan utama yang lumpuh: Jalan Raya Demak‑Kendal, Jalan Pantura
  • Pihak penanggulangan: BNPB, DPBD Demak, TNI, Polri, relawan masyarakat

Para ahli mitigasi bencana menilai bahwa fenomena banjir ini menunjukkan perlunya peningkatan infrastruktur drainase, terutama di daerah-daerah yang berada di dataran rendah. Mereka juga menekankan pentingnya sistem peringatan dini yang terintegrasi, sehingga warga dapat diperingatkan lebih awal sebelum air meluap.

Selain kerusakan fisik, banjir ini berdampak pada aktivitas ekonomi lokal. Banyak lahan pertanian, terutama sawah dan kebun sayur, terendam air, mengancam hasil panen musim tanam berikutnya. Pedagang pasar tradisional yang biasanya membuka kios di area tepi sungai terpaksa menutup usaha, menambah beban ekonomi bagi keluarga yang sudah terdampak.

Warga yang mengungsi di posko darurat di Balai Desa Demak melaporkan kondisi kehidupan yang serba terbatas. Meskipun ada upaya distribusi makanan dan air bersih, kebutuhan akan pakaian kering, obat-obatan, dan perlindungan dari cuaca masih tinggi. Organisasi kemanusiaan lokal, seperti Palang Merah Indonesia (PMI) cabang Demak, terus menambah stok logistik untuk memenuhi kebutuhan mendesak.

Pemerintah Kabupaten Demak juga mengumumkan rencana pembentukan posko penanggulangan darurat yang lebih permanen, yang dilengkapi dengan fasilitas sanitasi dan ruang perawatan medis. Rencana tersebut diharapkan dapat mempercepat respons pada bencana selanjutnya, serta mengurangi beban pada tim penyelamat yang harus beroperasi di kondisi lapangan yang berat.

Secara umum, banjir ini menegaskan pentingnya koordinasi lintas sektoral antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten, serta peran aktif masyarakat dalam mitigasi bencana. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada, mematuhi arahan pihak berwenang, dan melaporkan kondisi darurat melalui jalur resmi.

Dengan upaya bersama antara pemerintah, lembaga penanggulangan bencana, dan warga, diharapkan pemulihan kondisi Demak dapat berjalan lebih cepat dan dampak jangka panjang dapat diminimalkan.

Pos terkait