123Berita – 05 April 2026 | Sabtu pagi, hujan lebat yang berlangsung sejak dinihari menimbulkan aliran sungai yang meluap secara tiba‑tiba di Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Curah hujan ekstrem menyebabkan terjadinya banjir bandang yang menyeret sejumlah pemukiman di wilayah Kecamatan Karangtengah, Kecamatan Mijen, dan sekitarnya. Air mengalir dengan kecepatan tinggi, menghanyutkan material bangunan, memutus alur transportasi, serta memaksa ratusan warga mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Kondisi darurat semakin parah ketika air meluap hingga menutupi jalan utama, menenggelamkan rumah‑rumah penduduk, serta menenggelamkan lahan pertanian. Petugas pemadam kebakaran dan tim SAR daerah segera dikerahkan untuk mengevakuasi warga yang terjebak di dalam rumah. Hingga siang hari, jumlah rumah yang mengalami kerusakan berat mencapai dua belas unit, dengan beberapa di antaranya hanyut terbawa arus kuat dan menghilang di tepi sungai. Lebih dari empat ratus jiwa dipindahkan ke posko darurat yang disediakan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Demak serta beberapa balai desa.
Kerusakan fisik tidak hanya terbatas pada hunian. Sekitar dua puluh lima hektar lahan pertanian terendam, mengakibatkan kehilangan hasil panen dan mengganggu mata pencaharian petani. Infrastruktur publik, termasuk jembatan kecil di Jalan Raya Demak‑Mijen, runtuh total akibat erosi tanah yang dipicu aliran deras. Selain itu, listrik dan jaringan telepon seluler mengalami gangguan, menyulitkan komunikasi korban dengan keluarga dan tim bantuan.
Tim evakuasi yang dipimpin oleh Kepala Dinas Sosial Kabupaten Demak, Bapak H. Suharto, mengkoordinasikan pemindahan warga ke tiga lokasi penampungan sementara: Balai Desa Karangtengah, Balai Desa Mijen, dan aula serbaguna Universitas Islam Demak. Setiap posko dilengkapi dengan tenda, perlengkapan sanitasi, serta persediaan makanan dan air bersih. Selama proses evakuasi, lebih dari 400 orang berhasil dipindahkan, sementara sejumlah keluarga tetap berada di rumah yang masih dapat dihuni namun berada dalam zona risiko tinggi.
Pemerintah Kabupaten Demak mengaktifkan dana bantuan sosial darurat sebesar Rp 2,5 miliar untuk membantu korban. Bantuan tersebut meliputi paket sembako, bantuan tunai, serta subsidi listrik selama tiga bulan ke depan. Selain itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama Dinas Pekerjaan Umum melakukan penilaian kerusakan struktural pada jembatan dan jalan yang runtuh, serta menyiapkan rencana perbaikan jangka pendek dan menengah. Tim teknis juga melakukan pembersihan sungai dari puing‑puing yang dapat memperparah aliran air.
Organisasi non‑pemerintah (NGO) dan relawan masyarakat setempat turut serta dalam upaya penanggulangan. Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Demak membuka klinik darurat di setiap posko untuk memberikan pertolongan pertama kepada korban yang mengalami luka ringan, kelelahan, atau gangguan kesehatan akibat paparan air. Kelompok Relawan Masyarakat (KRM) menggalang sumbangan pakaian, selimut, dan kebutuhan pokok lainnya. Sejumlah perusahaan swasta di wilayah Jawa Tengah juga menyumbangkan dana serta bahan bangunan untuk mempercepat proses rehabilitasi rumah yang rusak.
Analisis awal ahli hidrologi Universitas Diponegoro menunjukkan bahwa banjir bandang ini dipicu oleh kombinasi curah hujan ekstrem yang melebihi ambang batas normal serta kondisi tanah yang jenuh air karena kurangnya sistem drainase yang memadai. Penurunan tutupan hutan di daerah hulu Sungai Pemali juga berkontribusi pada berkurangnya kemampuan penyerapan air, sehingga mempercepat aliran permukaan ke daerah rendah. Pemerintah provinsi Jawa Tengah telah menyiapkan rencana jangka panjang untuk memperbaiki jaringan drainase, melakukan reboisasi di daerah hulu, serta membangun tanggul penahan di sepanjang alur sungai kritis.
Sejumlah warga yang mengungsi menyatakan keprihatinan akan lamanya proses pemulihan. “Kami kehilangan rumah dan ladang, dan belum tahu kapan kami dapat kembali ke tempat asal,” ujar Ibu Siti Nurjanah, salah satu korban yang mengungsi bersama keluarganya. Ia menambahkan bahwa bantuan pemerintah sangat membantu, namun ia berharap adanya kepastian tentang perbaikan infrastruktur jalan dan jembatan sehingga mobilitas warga dapat pulih secepatnya.
Dengan skala kerusakan yang signifikan, banjir bandang di Demak menegaskan pentingnya kesiapsiagaan bencana serta investasi pada infrastruktur penanggulangan air. Upaya koordinasi antara pemerintah daerah, lembaga penanggulangan bencana, serta masyarakat luas menjadi kunci utama dalam meminimalisir dampak serupa di masa depan. Pemerintah Kabupaten Demak berjanji akan mempercepat proses rehabilitasi, memperkuat sistem peringatan dini, dan melaksanakan program mitigasi yang lebih komprehensif guna melindungi warga dari ancaman banjir berulang.





