123Berita – 04 April 2026 | Pemerintah Kota Banjarmasin bersama Kabupaten Banjar dan Kabupaten Barito Kuala menandatangani kesepakatan strategis untuk mewujudkan proyek percontohan nasional yang mengubah sampah kota menjadi energi listrik. Inisiatif ini ditujukan untuk mengatasi akumulasi sampah harian yang mencapai 678 ton serta mendukung Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Ramah Lingkungan, dan Indah).
Kolaborasi lintas wilayah ini menjadi langkah penting dalam rangka mengurangi beban penumpukan sampah di tiga wilayah tersebut. Dengan memanfaatkan teknologi pembangkit listrik tenaga sampah (PLTS), pemerintah setempat berharap dapat menghasilkan listrik yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sebagian rumah tangga dan fasilitas umum, sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Proyek percontohan ini akan dilaksanakan di lokasi yang telah dipilih secara bersama oleh ketiga pemerintah daerah, dengan kapasitas pengolahan yang dapat menangani seluruh volume sampah harian. Seluruh proses mulai dari pengumpulan, pemilahan, hingga pembakaran dalam instalasi khusus akan dikelola oleh tim teknis yang terdiri dari ahli lingkungan, insinyur energi, dan tenaga kerja lokal.
Berikut adalah poin-poin utama yang menjadi fokus pelaksanaan proyek:
- Penanganan sampah terintegrasi: Sistem pengumpulan sampah akan dioptimalkan menggunakan jaringan kendaraan ramah lingkungan dan jadwal pengangkutan yang terkoordinasi antara Banjarmasin, Banjar, dan Barito Kuala.
- Teknologi pembangkit listrik: Instalasi PLTS akan memanfaatkan proses pirolisis dan pembakaran termal untuk menghasilkan energi listrik serta panas yang dapat dimanfaatkan kembali.
- Pengurangan emisi karbon: Dengan mengalihkan sampah dari tempat pembuangan akhir (TPA) ke proses pembangkit, diperkirakan emisi gas rumah kaca dapat berkurang secara signifikan.
- Pemberdayaan ekonomi lokal: Proyek ini akan menciptakan lapangan kerja baru, mulai dari operasional harian hingga pemeliharaan teknis, serta membuka peluang usaha bagi UMKM di bidang daur ulang.
Selain manfaat lingkungan, proyek ini juga diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah yang bertanggung jawab. Pemerintah daerah berencana menggelar sosialisasi intensif, melibatkan sekolah, komunitas, serta sektor bisnis untuk mengedukasi praktik pemilahan sampah di sumber.
Dalam kerangka pendanaan, proyek ini menerima dukungan dana dari pemerintah pusat melalui program Gerakan Indonesia ASRI, serta alokasi anggaran daerah masing‑masing. Selain itu, terdapat peluang kemitraan dengan lembaga keuangan dan investor swasta yang tertarik pada sektor energi terbarukan.
Target jangka pendek meliputi penyelesaian pembangunan fasilitas PLTS dalam waktu 12 bulan, setelah itu produksi listrik diproyeksikan dapat mencapai 2,5 megawatt‑jam per hari. Energi yang dihasilkan akan disalurkan ke jaringan listrik kota melalui kontrak kerja sama dengan PT PLN (Persero). Pada fase selanjutnya, rencana ekspansi akan mempertimbangkan penambahan kapasitas untuk mengolah sampah dari daerah sekitarnya.
Para pemangku kepentingan menilai bahwa keberhasilan proyek ini dapat menjadi contoh bagi kota‑kota lain di Indonesia dalam mengintegrasikan pengelolaan sampah dengan produksi energi bersih. “Kami berkomitmen menjadikan Banjarmasin, Banjar, dan Barito Kuala sebagai pelopor solusi berkelanjutan yang dapat diadopsi secara nasional,” ujar Wali Kota Banjarmasin dalam sambutan resmi peluncuran proyek.
Dengan menggabungkan upaya pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta, proyek ini diharapkan tidak hanya mengurangi volume sampah yang menumpuk, tetapi juga memberikan kontribusi nyata dalam menurunkan emisi karbon serta meningkatkan ketahanan energi daerah. Keberhasilan inisiatif ini akan menjadi bukti bahwa pengelolaan sampah yang inovatif dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi hijau dan kualitas hidup yang lebih baik bagi warga.
Kesimpulannya, sinergi antara Pemerintah Kota Banjarmasin, Kabupaten Banjar, dan Kabupaten Barito Kuala dalam mengubah sampah menjadi energi listrik menandai langkah progresif menuju kota yang lebih bersih, mandiri, dan berkelanjutan. Proyek percontohan ini tidak hanya menjawab tantangan penumpukan sampah, tetapi juga memperkuat komitmen nasional dalam mengimplementasikan Gerakan Indonesia ASRI, sekaligus membuka peluang baru bagi pengembangan energi terbarukan di tingkat regional.