123Berita – 07 April 2026 | Ketua Komisi XII DPR RI, Bambang Patijaya, menegaskan kembali komitmen pemerintah untuk memanfaatkan potensi bahan bakar nabati sebagai strategi utama mencapai kemandirian energi nasional. Dalam serangkaian pertemuan dengan pelaku industri, akademisi, dan perwakilan daerah, Patijaya menyoroti peran strategis biodiesel dan bioetanol dalam mengurangi ketergantungan pada impor minyak bumi serta memperkuat ketahanan energi Indonesia.
Indonesia, sebagai negara agraris terbesar di Asia Tenggara, memiliki lahan subur yang melimpah untuk menumbuhkan tanaman energi seperti kelapa sawit, jagung, dan tebu. Menurut data Kementerian Pertanian, luas lahan potensial untuk produksi biofuel mencapai lebih dari 15 juta hektar. Dengan memanfaatkan lahan tersebut, produksi biodiesel dan bioetanol dapat meningkat secara signifikan, menciptakan rantai nilai baru yang melibatkan petani, pengolah, hingga konsumen akhir.
Patijaya menekankan bahwa kebijakan energi harus bersifat terintegrasi, menggabungkan aspek ekonomi, lingkungan, dan sosial. “Biodiesel dan bioetanol bukan sekadar alternatif, melainkan pilar yang dapat menstabilkan harga bahan bakar, membuka lapangan kerja, dan menurunkan emisi karbon,” ujarnya dalam sambutan yang hangat.
Beberapa langkah konkret yang diusulkan antara lain:
- Penetapan kuota produksi biodiesel dan bioetanol yang progresif, dengan target jangka menengah 5-10 tahun.
- Peningkatan insentif fiskal bagi investor yang menanamkan modal di pabrik pengolahan bahan bakar nabati.
- Pembangunan infrastruktur distribusi yang memudahkan penyediaan biofuel di seluruh wilayah Indonesia, termasuk daerah terpencil.
- Kolaborasi riset antara lembaga penelitian, universitas, dan industri untuk meningkatkan efisiensi proses konversi dan menurunkan biaya produksi.
Para pengamat menilai bahwa kebijakan tersebut dapat memberikan dampak ganda: meningkatkan ketahanan energi sekaligus mendukung agenda pembangunan berkelanjutan. Dalam konteks perubahan iklim, pemakaian bahan bakar nabati yang bersifat karbon netral dapat mengurangi jejak karbon sektor transportasi, yang selama ini menjadi penyumbang utama emisi gas rumah kaca.
Namun, tantangan tetap ada. Persaingan lahan antara produksi pangan dan biofuel menjadi sorotan utama. Patijaya menegaskan bahwa pemerintah harus memastikan tidak terjadi konflik lahan dengan memperkuat program pertanian berkelanjutan dan memanfaatkan lahan marginal yang tidak cocok untuk pangan. Selain itu, kualitas feedstock harus terjaga agar hasil biodiesel dan bioetanol memenuhi standar internasional.
Sejumlah provinsi seperti Riau, Lampung, dan Jawa Barat telah menjadi contoh sukses pengembangan biofuel. Di Riau, pabrik biodiesel berbasis kelapa sawit menghasilkan lebih dari 200 ribu ton per tahun, sekaligus menyediakan ribuan lapangan kerja bagi masyarakat setempat. Di Jawa Barat, proyek bioetanol dari tebu berhasil menurunkan konsumsi bensin sebesar 8% di wilayah tersebut.
Patijaya juga mengingatkan pentingnya peran konsumen dalam mendorong transisi energi. “Kita butuh kesadaran bersama bahwa memilih bahan bakar nabati adalah keputusan yang mendukung ekonomi nasional dan lingkungan,” katanya. Pemerintah berencana meluncurkan kampanye edukasi publik, termasuk program pelabelan produk biofuel yang transparan.
Dalam rapat kerja terakhir Komisi XII, anggota parlemen sepakat untuk mengajukan RUU yang memberikan kepastian hukum bagi industri biofuel, termasuk perlindungan terhadap investasi dan mekanisme penyelesaian sengketa lahan. RUU tersebut diharapkan dapat segera dibahas dalam rapat pleno DPR.
Secara keseluruhan, upaya memperkuat biodiesel dan bioetanol sebagai pilar energi nasional mencerminkan visi jangka panjang Indonesia untuk menjadi negara yang mandiri secara energi, sekaligus berkontribusi pada agenda global pengurangan emisi. Jika kebijakan ini diimplementasikan secara konsisten, Indonesia berpotensi menjadi produsen biofuel terbesar di dunia, sekaligus menciptakan sinergi antara sektor pertanian, industri, dan energi.
Dengan dukungan politik yang kuat, sinergi lintas sektor, serta partisipasi aktif masyarakat, harapan untuk melihat jalan energi bersih yang terjangkau dan berkelanjutan di Indonesia semakin nyata. Keberhasilan strategi ini tidak hanya akan mengurangi ketergantungan pada impor minyak, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam peta energi dunia.





