Balita 3 Tahun Tewas Terseret Arus Gorong-gorong di Jakarta Barat, Ditemukan 5 km dari Lokasi Kejadian

123Berita – 09 April 2026 | Jakarta, 9 April 2026 – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mengonfirmasi penemuan jasad seorang balita berusia tiga tahun yang hilang setelah terseret arus gorong‑gorong pada Rabu siang, 8 April. Korban, yang diidentifikasi sebagai Muhammad Haadi (MH), ditemukan dalam keadaan meninggal pada pagi hari Kamis, 9 April, sekitar pukul 08.35 WIB, di daerah pembatas air Cengkareng Drain, Kelurahan Kedaung Kali Angke. Penemuan ini menandai akhir pencarian yang berlangsung selama lebih dari 18 jam sejak kejadian.

Peristiwa tragis tersebut terjadi pada pukul 13.30 WIB, ketika hujan deras mengguyur wilayah Jakarta Barat. MH bersama teman‑temannya tengah bermain dan mandi hujan di trotoar Jalan Flamboyan. Saat bermain, balita tersebut diduga terpeleset dan jatuh ke dalam lubang gorong‑gorong yang berada di pinggir jalan. Arus air yang mengalir deras menyebabkan MH terseret jauh ke arah selatan, menjauh dari area permukiman.

Bacaan Lainnya

Warga sekitar yang menyaksikan kejadian segera melakukan pencarian mandiri, namun upaya tersebut tidak membuahkan hasil pada malam hari. Menyadari kompleksitas situasi, pihak kepolisian dan BPBP mengerahkan tim gabungan pada pagi hari Kamis. Tim tersebut terdiri dari petugas pemadam kebakaran, relawan SAR, serta aparat kepolisian yang menggunakan perahu kecil dan peralatan penyisiran khusus untuk menelusuri aliran air.

Proses penyisiran berlangsung sepanjang aliran gorong‑gorong, dimulai dari titik masuk di Jalan Flamboyan hingga ke area Cengkareng Drain. Petugas harus menghadapi aliran air yang masih deras meski intensitas hujan telah berkurang. Setelah hampir dua jam penyisiran intensif, tim berhasil menemukan jasad MH tergeletak di tepi aliran, terendam sebagian namun tidak lagi dalam kondisi hidup.

Insiden ini menimbulkan keprihatinan mendalam di kalangan masyarakat Jakarta Barat, terutama karena kejadian serupa pernah terjadi di wilayah lain yang menunjukkan risiko bahaya gorong‑gorong pada anak‑anak. Pemerintah daerah melalui BPBD menegaskan pentingnya edukasi keamanan lingkungan bagi warga, khususnya anak‑anak yang sering bermain di area publik. “Kami mengimbau orang tua untuk lebih memperhatikan anak saat bermain di luar rumah, terutama pada saat hujan. Gorong‑gorong bukan tempat bermain, meskipun tampak seperti selokan biasa,” ujar Yohan.

Selain itu, otoritas setempat berjanji akan mempercepat perbaikan dan penutupan lubang‑lubang tidak terpakai pada jaringan saluran air kota. Peninjauan rutin serta pemasangan penutup yang lebih kuat menjadi prioritas untuk mencegah terulangnya kejadian serupa. Dinas Penataan Ruang dan Lingkungan Kota Jakarta Barat juga akan melakukan sosialisasi kepada warga mengenai tanda bahaya dan prosedur darurat bila terjadi kecelakaan di saluran air.

Kasus MH menambah daftar korban tragis yang terjadi akibat kecelakaan di saluran air perkotaan. Sebelumnya, media melaporkan insiden serupa di wilayah lain yang menyoroti kurangnya infrastruktur pengaman pada sistem drainase. Pihak kepolisian kini membuka penyelidikan lebih lanjut untuk menilai apakah faktor kelalaian atau kecelakaan murni menjadi penyebab utama.

Di sisi lain, keluarga korban yang masih berduka menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam proses pencarian. “Kami sangat berterima kasih kepada tim penyelamat yang tidak lelah mencari putra kami. Meskipun hasilnya menyedihkan, setidaknya kami tidak lagi menunggu dalam ketidakpastian,” kata istri MH dalam pernyataan singkat kepada media.

Kasus ini sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya peran serta masyarakat dalam menjaga keselamatan lingkungan. Warga diimbau untuk melaporkan lubang atau celah pada saluran air yang berpotensi membahayakan, serta mengedukasi anak‑anak tentang bahaya bermain di dekatnya. Pemerintah daerah menegaskan komitmen untuk meningkatkan sistem peringatan dini, termasuk pemasangan signage peringatan di lokasi berisiko tinggi.

Dengan penemuan jasad MH, proses pencarian resmi berakhir, namun upaya pencegahan dan penanganan infrastruktur yang lebih baik terus menjadi agenda prioritas. Diharapkan, kejadian serupa dapat diminimalisir melalui kerja sama lintas sektoral antara pemerintah, lembaga penanggulangan bencana, dan masyarakat.

Pos terkait