123Berita – 06 April 2026 | Tim kru Artemis II resmi memasuki zona pengaruh gravitasi Bulan pada hari kelima misi, menandai langkah krusial sebelum pesawat luar angkasa Orion melakukan lintasan terbang mengitari satelit alami kita. Momen ini menandai pertama kalinya manusia kembali berada dalam jarak dekat Bulan sejak pendaratan Apollo 17 pada 1972, sekaligus menguji kemampuan sistem propulsi, navigasi, dan komunikasi dalam kondisi ekstrem.
Masuknya Orion ke “sphere of influence” Bulan terjadi sekitar 38 jam setelah peluncuran dari Kennedy Space Center pada 29 Desember 2023. Pada titik ini, gaya gravitasi Bulan mulai mendominasi gerakan pesawat, menggantikan tarikan Bumi yang sebelumnya menjadi pengendali utama. Proses transisi ini memerlukan penyesuaian orbit yang presisi, termasuk pembakaran koreksi (correction burn) yang berhasil diselesaikan pada hari kelima misi. Tim insinyur NASA mengonfirmasi bahwa semua parameter mesin, suhu, dan tekanan berada dalam batas aman, menegaskan kesiapan Orion untuk fase berikutnya.
- Tujuan utama: Menguji performa sistem kapal dalam jarak 600 mil (sekitar 965 km) dari permukaan Bulan, termasuk komunikasi radio yang akan mengalami jeda hingga 1,3 detik.
- Manfaat ilmiah: Mengumpulkan data tentang medan magnet Bulan, radiasi kosmik, serta melakukan pemetaan detail kawah selebar 600 mil yang belum pernah dilihat manusia secara langsung.
- Persiapan kru: Para astronot, termasuk komandan Reid Wiseman, pilot Victor Glover, misi khusus Jeremy Hansen dari Kanada, serta ahli ilmiah Christina Koch, menjalani latihan intensif mengatasi kehilangan kontak sementara dengan Bumi, sebuah skenario yang diproyeksikan akan terjadi selama fase flyby.
Selama fase ini, kru Orion akan mengalami periode komunikasi yang terputus (comm blackout) selama sekitar 40 menit, saat sinyal radio harus menembus medan gravitasi Bulan dan menyesuaikan jarak. Kejadian ini sebelumnya pernah dipelajari dalam misi Apollo, namun Artemis II menjadi misi pertama yang menggunakan teknologi komunikasi digital modern. Tim misi menyiapkan prosedur darurat, termasuk penggunaan sistem backup dan protokol suara internal untuk menjaga koordinasi kru.
Selain tantangan teknis, Artemis II juga menandai kolaborasi internasional yang lebih luas. Astronot Kanada Jeremy Hansen menjadi bagian penting dari kru, menegaskan komitmen Kanada dalam program Artemis melalui kontribusi pada modul logistik dan sistem propulsi. Sementara itu, partisipasi ilmuwan dari berbagai negara memberikan nilai tambah pada eksperimen mikrogravitasi dan observasi astronomi yang direncanakan selama penerbangan.
Pengalaman terbang mengelilingi Bulan tidak hanya menguji kemampuan teknis, tetapi juga memberikan data kritis bagi misi Artemis III yang dijadwalkan untuk mendaratkan astronot di kutub selatan Bulan. Data dari Artemis II akan membantu merencanakan jalur pendaratan yang aman, mengidentifikasi area berpotensi mengandung air beku, serta menilai kondisi termal pada fase descent.
Pencapaian ini mendapat sorotan luas dari komunitas ilmiah dan publik internasional. Pengamat menilai bahwa keberhasilan Artemis II dapat memperkuat posisi NASA sebagai pelopor eksplorasi luar angkasa, sekaligus membuka peluang bagi sektor komersial yang ingin berpartisipasi dalam infrastruktur lunar. Investor dan perusahaan start-up ruang angkasa menantikan regulasi dan kebijakan yang akan muncul seiring dengan peningkatan frekuensi misi ke Bulan.
Dalam laporan resmi NASA, disebutkan bahwa semua sistem Orion beroperasi dengan baik, termasuk modul layanan yang menyediakan listrik, air, dan oksigen selama misi. Sistem pengendalian termal berhasil menjaga suhu internal tetap stabil meskipun berada dalam bayangan Bulan yang ekstrem. Pada saat yang sama, tim misi melakukan pemantauan terus-menerus terhadap radiasi kosmik, dengan harapan data ini dapat meningkatkan perlindungan bagi kru pada misi jangka panjang ke Mars.
Selanjutnya, kru akan melanjutkan perjalanan selama tiga hari menuju titik terdekat dengan permukaan Bulan, yang disebut perigee. Pada fase ini, Orion diperkirakan akan berada pada jarak 600 mil dari permukaan, memberikan pandangan langsung terhadap kawah raksasa yang sebelumnya hanya dapat dilihat dari satelit. Pengamatan visual serta pengambilan gambar resolusi tinggi diharapkan dapat memperkaya pemahaman geologi Bulan.
Setelah fase flyby selesai, Orion akan melakukan manuver kembali ke orbit Bumi, menandai akhir perjalanan sekitar 10 hari. Seluruh proses akan menjadi dasar bagi misi berawak berikutnya, termasuk rencana pendaratan manusia di Bulan pada 2025 serta misi ke Mars pada dekade berikutnya.
Dengan menembus batas gravitasi Bulan, Artemis II tidak hanya menorehkan babak baru dalam eksplorasi luar angkasa, tetapi juga menegaskan tekad umat manusia untuk kembali ke tetangga kosmik terdekat kita. Keberhasilan misi ini diharapkan akan menginspirasi generasi berikutnya, memperkuat kolaborasi internasional, dan membuka peluang ekonomi baru di luar angkasa.





