123Berita – 04 April 2026 | Aktor sekaligus produser Ari Sihasale dan aktris senior Nia Zulkarnaen kembali menarik perhatian publik setelah menamatkan proses syuting dokumenter terbaru mereka dengan menempuh jarak lebih dari 19.000 kilometer selama 53 hari. Petualangan ini tidak hanya menjadi bukti dedikasi mereka terhadap seni perkuliahan, melainkan juga menegaskan komitmen keduanya dalam mengangkat kisah-kisah Indonesia yang jarang terjamah oleh kamera mainstream.
Perjalanan dimulai pada awal bulan Maret lalu, ketika keduanya berangkat dari Jakarta menuju berbagai destinasi di Asia Tenggara, Oceania, dan bahkan Eropa. Rute yang dilalui mencakup kota-kota besar seperti Bangkok, Singapura, Manila, hingga Melbourne, sebelum akhirnya berlanjut ke Sydney, Auckland, dan melintasi Samudra Pasifik menuju Honolulu. Dari sana, tim produksi melanjutkan ke Los Angeles, San Francisco, dan melintasi daratan Amerika Utara hingga mencapai New York sebelum kembali ke tanah air melalui rute darat di Amerika Selatan dan kembali ke Asia lewat Jakarta.
Selama 53 hari penuh, Ari dan Nia tidak hanya berperan sebagai pemeran utama, melainkan juga mengambil peran penting dalam proses produksi, termasuk pemilihan lokasi, wawancara narasumber, serta pengambilan gambar yang memerlukan keterampilan teknis tinggi. Mereka bekerja sama dengan tim kamerawan, penata suara, dan penulis naskah yang tersebar di setiap lokasi, memastikan setiap adegan dapat menggambarkan keaslian budaya dan tantangan lingkungan yang dihadapi.
Kondisi syuting yang ekstrem menuntut keduanya untuk beradaptasi dengan cuaca yang beragam, dari panas tropis di Manila hingga suhu beku di Reykjavik. Di beberapa titik, mereka harus mengatasi hambatan logistik, seperti keterbatasan akses listrik, keterlambatan transportasi, bahkan kendala perizinan yang memerlukan negosiasi intensif dengan pihak berwenang setempat. Namun, semangat mereka tidak pernah surut; justru setiap rintangan menjadi bahan bakar kreatif yang menambah kedalaman narasi dokumenter.
Dalam sebuah wawancara eksklusif, Ari Sihasale mengungkapkan motivasi utama di balik proyek ambisius ini. “Kami ingin menampilkan keberagaman Indonesia dan negara-negara sahabat melalui lensa yang realistis, tanpa mengandalkan efek visual yang berlebihan. Perjalanan sejauh 19.000 km ini memberi kami kesempatan untuk menyentuh langsung kehidupan masyarakat di setiap titik, sehingga cerita yang kami sajikan terasa hidup,” ujarnya. Sementara Nia Zulkarnaen menambahkan, “Saya merasa terhormat dapat berbagi perjalanan ini dengan Ari, seorang visioner yang selalu menantang batasan. Kami berharap penonton tidak hanya terhibur, tetapi juga terinspirasi untuk menjelajahi dunia dengan rasa ingin tahu yang lebih besar.”
Film dokumenter yang sedang mereka garap diprediksi akan dirilis pada akhir tahun ini, dengan penekanan pada tema keberlanjutan, migrasi manusia, serta dampak perubahan iklim terhadap komunitas pesisir. Menurut tim produksi, materi yang terkumpul selama perjalanan meliputi lebih dari 200 jam rekaman video, ribuan foto, serta ratusan jam wawancara dengan tokoh-tokoh lokal, akademisi, dan aktivis lingkungan.
Pengalaman syuting yang melintasi lima benua ini juga memberikan pelajaran penting bagi industri film Indonesia. Ari dan Nia menegaskan pentingnya kolaborasi lintas negara, penggunaan peralatan ramah lingkungan, serta strategi distribusi yang memanfaatkan platform digital untuk menjangkau audiens global. “Kami ingin menjadi contoh bagi sineas muda di tanah air, bahwa dengan tekad dan persiapan matang, produksi berskala internasional bukan lagi mimpi yang tak terjangkau,” kata Ari.
Selain nilai artistik, proyek ini juga memberikan dampak ekonomi bagi daerah-daerah yang menjadi lokasi syuting. Selama berada di setiap kota, tim produksi membeli perlengkapan lokal, menyewa transportasi, serta mengontrak tenaga kerja setempat. Hal ini secara tidak langsung meningkatkan pendapatan sektor pariwisata dan kreatif di wilayah-wilayah tersebut.
Dengan selesainya proses pengambilan gambar, tim kini memasuki fase pasca produksi yang meliputi penyuntingan, penambahan musik latar, serta penyusunan narasi akhir. Ari dan Nia tetap terlibat aktif dalam proses ini, memastikan setiap adegan tetap setia pada visi awal mereka. Penonton dapat menantikan visual yang memukau, suara alam yang autentik, dan cerita yang mengalir secara natural.
Keseluruhan, perjalanan 19.000 km selama 53 hari yang ditempuh Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen menjadi bukti nyata bahwa sinema dapat menjadi jembatan budaya yang menghubungkan beragam masyarakat di seluruh dunia. Proyek ini tidak hanya menambah portofolio prestisius mereka, tetapi juga memperkaya khazanah perfilman Indonesia dengan karya yang memiliki nilai edukatif dan estetika tinggi.





