Aqsa Sutan Aswar: Dari Medali Emas Asian Games ke Dunia Bisnis, Menolak Jalur PNS

Aqsa Sutan Aswar: Dari Medali Emas Asian Games ke Dunia Bisnis, Menolak Jalur PNS
Aqsa Sutan Aswar: Dari Medali Emas Asian Games ke Dunia Bisnis, Menolak Jalur PNS

123Berita – 06 April 2026 | Aqsa Sutan Aswar, nama yang kini identik dengan prestasi di arena jetski internasional, kembali menjadi sorotan publik tak hanya karena keberhasilan meraih medali emas pada Asian Games 2026, tetapi juga karena keputusan berani menolak tawaran menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) demi menapaki dunia bisnis. Keputusan tersebut mengundang perbincangan luas di kalangan pecinta olahraga, pengamat kebijakan publik, dan pelaku usaha muda di Indonesia.

Berawal dari keluarga yang mencintai olahraga air, Aqsa menapaki kariernya sejak usia dini. Lahir di Surabaya pada 1998, ia tumbuh dalam lingkungan yang mendukung eksplorasi bakat di bidang olahraga ekstrim. Pada usia 12 tahun, ia pertama kali menginjakkan kaki di atas jet ski, dan bakatnya segera terlihat ketika berhasil menguasai teknik manuver yang rumit. Dukungan orang tua serta pelatih profesional mengantarkannya pada kompetisi nasional pada usia 16 tahun, di mana ia mulai mengumpulkan poin penting dalam peringkat nasional.

Bacaan Lainnya

Karier internasional Aqsa menanjak tajam pada 2022, ketika ia menembus final Kejuaraan Dunia Jet Ski dan berhasil meraih podium pertama. Kesuksesan tersebut menjadi batu loncatan bagi partisipasinya di Asian Games Hangzhou 2026, dimana ia menjuarai kategori men’s runabout open dengan selisih waktu yang signifikan dari pesaing terdekat. Kemenangan tersebut tidak hanya menambah koleksi medali emas Indonesia, tetapi juga mengangkat profil jetski sebagai cabang olahraga yang layak mendapat perhatian lebih di negeri ini.

Setelah pulang dengan medali berkilau, Aqsa mendapatkan panggilan resmi dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenpanRB) yang menawarkan posisi PNS dengan gaji kompetitif dan jaminan karier jangka panjang. Tawaran tersebut, menurut sumber internal, diberikan sebagai penghargaan atas prestasi atletik yang dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda. Namun, dalam sebuah wawancara eksklusif, Aqsa mengungkapkan pertimbangan matang di balik penolakannya.

“Saya sangat menghargai kepercayaan pemerintah, namun saya merasa bahwa peran saya di luar lapangan masih dapat memberikan kontribusi yang lebih signifikan melalui inovasi bisnis,” ujar Aqsa. Ia menambahkan bahwa ia ingin memanfaatkan popularitas dan jaringan yang telah terbentuk selama kariernya untuk mengembangkan ekosistem olahraga air di Indonesia, termasuk fasilitas pelatihan, penyediaan peralatan, dan program beasiswa bagi atlet muda.

Berbekal modal awal yang diperoleh dari sponsor pribadi, hadiah kompetisi, serta dukungan keluarga, Aqsa meluncurkan dua perusahaan: pertama, sebuah dealer resmi peralatan jet ski yang berlokasi di Surabaya dan berencana membuka cabang di Jakarta; kedua, sebuah pusat pelatihan yang menyasar calon atlet jetski dan juga menawarkan paket wisata olahraga air bagi turis domestik. Kedua usaha tersebut diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja, meningkatkan standar pelatihan, dan memperluas pasar olahraga air di nusantara.

Langkah berwirausaha ini tidak lepas dari tantangan. Persaingan dengan merek internasional, regulasi impor peralatan, serta kebutuhan akan tenaga ahli menjadi beberapa hambatan yang harus dihadapi. Namun, Aqsa menyatakan bahwa semangat kompetitif yang terbentuk sejak usia muda menjadi aset utama dalam mengatasi rintangan tersebut. “Saya terbiasa mengatur strategi di lintasan balap, kini saya menerapkan strategi yang sama di dunia bisnis,” ujarnya.

Para pengamat ekonomi menilai keputusan Aqsa sebagai contoh sinergi antara dunia olahraga dan sektor swasta yang dapat memperkuat ekosistem industri kreatif. Menurut Dr. Budi Santoso, pakar kebijakan publik, “Ketika atlet beralih ke dunia bisnis, mereka tidak hanya membawa modal finansial, tetapi juga nilai-nilai disiplin, kerja keras, dan jaringan internasional yang dapat mempercepat pertumbuhan industri terkait,” tambahnya.

Reaksi publik pun beragam. Sebagian masyarakat mengapresiasi keberanian Aqsa menolak jalur birokrasi yang dianggap aman, sementara yang lain menyoroti pentingnya peran PNS dalam memberikan stabilitas ekonomi bagi atlet pasca karier. Namun, mayoritas komentar di media sosial menyoroti inspirasi yang diberikan Aqsa kepada generasi muda: bahwa pilihan karier tidak harus terbatas pada satu jalur, melainkan dapat dioptimalkan sesuai passion dan visi pribadi.

Ke depan, Aqsa berencana memperluas jaringan bisnisnya ke pulau-pulau utama di Indonesia, termasuk Bali dan Lombok, yang memiliki potensi wisata air yang besar. Ia juga menargetkan untuk berkolaborasi dengan pemerintah daerah dalam penyediaan infrastruktur pelatihan, serta mengadakan kompetisi regional yang dapat menarik sponsor internasional.

Keputusan untuk menolak menjadi PNS sekaligus menggeluti bisnis bukan sekadar pilihan karier, melainkan sebuah pernyataan bahwa atlet dapat menjadi agen perubahan ekonomi. Dengan menggabungkan prestasi di lapangan dengan inovasi di dunia usaha, Aqsa Sutan Aswar mencontohkan bagaimana olahraga dapat menjadi katalisator pertumbuhan industri kreatif dan sosial di Indonesia.

Secara keseluruhan, perjalanan Aqsa dari medali emas Asian Games hingga pengusaha muda menunjukkan bahwa keberhasilan tidak hanya diukur dari jumlah trofi, tetapi juga dari dampak positif yang dapat diciptakan bagi masyarakat luas.

Pos terkait