123Berita – 07 April 2026 | Jakarta Selatan, 7 April 2026 – Pada sore hari kemarin, deretan warga menanti giliran di titik penjualan sembako bersubsidi Kartu Jakarta Pintar (KJP) di kawasan Ulujami memuncak menjadi antrean panjang yang memanjang hingga beberapa blok. Fenomena ini menandai peningkatan signifikan minat masyarakat terhadap program pangan bersubsidi yang diluncurkan pemerintah daerah untuk meringankan beban biaya hidup, terutama di tengah inflasi yang terus menggerogoti daya beli konsumen.
Program KJP, yang awalnya dikenal sebagai kartu bantuan pendidikan bagi anak-anak kurang mampu, kini diperluas menjadi instrumen penyaluran sembako murah. Setiap kartu memuat kuota belanja berupa beras, minyak goreng, gula pasir, dan bahan pokok lainnya dengan harga yang jauh di bawah pasar. Warga yang memiliki kartu tersebut dapat menukarkan kuota mereka di titik penjualan yang ditunjuk, salah satunya berada di Ulujami, sebuah wilayah padat penduduk yang dikenal dengan aktivitas pasar tradisionalnya.
“Saya datang pagi-pagi sekali, namun tetap harus menunggu hampir dua jam,” ujar Ibu Siti Nurhaliza, seorang ibu rumah tangga berusia 38 tahun. “Anak‑anak saya butuh beras dan minyak, dan kalau tidak ada KJP, kami harus mengurangi porsi makanan. Dengan harga yang disubsidi, kami bisa mengatur anggaran bulanan lebih baik.”
Pengelola titik penjualan, Bapak Hadi Pratama, menjelaskan bahwa kapasitas distribusi dirancang untuk melayani 5.000 kartu per hari. Namun, pada hari kejadian, jumlah warga yang datang melebihi kapasitas tersebut, memaksa petugas untuk menambah shift kerja dan menyiapkan stok tambahan. “Kami berusaha seoptimal mungkin, tetapi antusiasme warga memang luar biasa. Kami berharap ke depannya pemerintah dapat menambah titik penjualan atau meningkatkan kuota agar tidak terjadi kemacetan seperti ini,” tambahnya.
Berikut ini merupakan daftar bahan pokok yang termasuk dalam kuota KJP di titik penjualan Ulujami:
- Beras medium 5 kg – Harga subsidi Rp 12.000 (harga pasar sekitar Rp 30.000)
- Minyak goreng 1 liter – Harga subsidi Rp 7.000 (harga pasar sekitar Rp 15.000)
- Gula pasir 1 kg – Harga subsidi Rp 3.000 (harga pasar sekitar Rp 8.000)
- Telur ayam ras 1 kg – Harga subsidi Rp 10.000 (harga pasar sekitar Rp 22.000)
Penggunaan KJP untuk kebutuhan pangan diharapkan dapat menurunkan tingkat kemiskinan relatif dan meningkatkan keamanan pangan di kalangan rumah tangga berpenghasilan rendah. Analisis awal dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan penurunan persentase rumah tangga yang mengalokasikan lebih dari 30 % pendapatan mereka untuk kebutuhan makanan, dari 18 % pada kuartal pertama 2025 menjadi 13 % pada kuartal pertama 2026.
Namun, tidak semua pihak menyambut baik fenomena antrean panjang ini. Beberapa pedagang pasar tradisional mengeluhkan potensi penurunan penjualan mereka karena konsumen lebih memilih barang bersubsidi yang lebih murah. “Kami tetap menjual barang dengan harga normal, tetapi banyak pembeli yang memilih KJP karena lebih hemat. Kami berharap ada kebijakan yang seimbang agar pedagang tidak dirugikan,” kata Pak Rudi, penjual sayur di pasar terdekat.
Selain itu, sejumlah aktivis sosial menyoroti pentingnya transparansi dalam distribusi kuota. Mereka meminta agar pemerintah membuka data real‑time mengenai sisa kuota per kartu, serta memperluas jaringan titik penjualan ke area yang belum terlayani, khususnya di wilayah pinggiran kota. “Program ini sangat membantu, tetapi harus ada kontrol yang ketat agar tidak terjadi penyelewengan atau pemalsuan kartu,” ujar Lestari, aktivis dari Lembaga Pengawas Kesejahteraan Sosial.
Menanggapi hal tersebut, Walikota Jakarta Selatan, Dr. Fajar Hidayat, menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk meningkatkan aksesibilitas program. “Kami sedang menyiapkan tambahan 10 titik penjualan di wilayah Jakarta Selatan dan merencanakan penambahan kuota sebesar 20 % pada kuartal berikutnya. Selain itu, sistem monitoring digital akan diperkuat agar semua pihak dapat melihat ketersediaan kuota secara real‑time,” ujarnya dalam konferensi pers.
Secara keseluruhan, lonjakan antrean di Ulujami mencerminkan keberhasilan program KJP dalam menjangkau warga yang membutuhkan, sekaligus mengungkap tantangan operasional yang harus diatasi. Pemerintah, pedagang, dan masyarakat diharapkan dapat berkolaborasi untuk memastikan bantuan pangan ini terus berjalan efektif, adil, dan berkelanjutan.
Dengan meningkatnya tekanan inflasi dan kebutuhan dasar yang terus bertambah, program KJP berpotensi menjadi salah satu pilar utama dalam kebijakan kesejahteraan sosial Jakarta Selatan. Ke depannya, evaluasi dan penyesuaian kebijakan akan menjadi kunci untuk mengoptimalkan manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat.





