123Berita – 09 April 2026 | Jakarta, 9 April 2026 – Direktur Utama sekaligus CEO PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), Anindya Bakrie, mengumumkan bahwa grup usaha Bakrie kini memegang total empat belas hak cipta strategis yang akan menjadi landasan utama dalam rencana ekspansi ke sektor teknologi. Pengumuman ini menandai langkah ambisius perusahaan konglomerat asal Indonesia untuk memperluas portofolio bisnisnya dari bidang tradisional seperti pertambangan, properti, dan infrastruktur menuju ekosistem digital yang sedang berkembang pesat.
Dalam rangka mewujudkan visi tersebut, Anindya menegaskan bahwa Bakrie & Brothers akan mengalokasikan dana investasi sebesar Rp 5 triliun dalam tiga tahun ke depan. Dana ini akan diarahkan pada tiga pilar utama: pengembangan produk teknologi, akuisisi startup yang memiliki nilai strategis, serta pembangunan infrastruktur digital yang mendukung ekosistem inovasi. “Kami tidak hanya ingin menjadi pemain, melainkan juga katalisator bagi ekosistem teknologi Indonesia,” tambahnya.
Pegangan hak cipta tersebut meliputi paten pada algoritma prediksi pasar yang dapat meningkatkan efisiensi perdagangan saham, sistem keamanan siber berbasis blockchain, serta teknologi sensor IoT yang dapat diaplikasikan pada sektor agrikultur dan energi terbarukan. Dengan mengintegrasikan hak cipta ini ke dalam portofolio bisnis, Bakrie berharap dapat menciptakan sinergi antara lini bisnis tradisional dan digital, sehingga menghasilkan nilai tambah yang signifikan bagi pemegang saham.
Langkah ekspansi ke ranah teknologi juga didukung oleh strategi kemitraan yang agresif. Anindya mengungkapkan bahwa grup akan menjalin kerja sama dengan universitas terkemuka, lembaga riset, serta perusahaan teknologi global. “Kolaborasi dengan institusi akademik dan mitra internasional memungkinkan transfer pengetahuan yang lebih cepat, sekaligus memperkuat posisi kami dalam kompetisi inovasi,” jelasnya.
- Investasi R&D – Peningkatan alokasi anggaran riset dan pengembangan sebesar 25% dibandingkan tahun sebelumnya.
- Akusisi Startup – Target akuisisi minimal lima startup teknologi yang memiliki teknologi inti terkait hak cipta yang dimiliki.
- Pengembangan Talenta – Program pelatihan intensif bagi 1.000 karyawan untuk menguasai keterampilan digital dan data analytics.
Pengembangan talenta menjadi fokus penting dalam strategi Bakrie. Anindya menekankan pentingnya membangun tim yang mampu mengelola dan mengoptimalkan hak cipta yang dimiliki. Oleh karena itu, grup berencana meluncurkan akademi internal yang akan memberikan sertifikasi dalam bidang AI, data science, dan keamanan siber. Program ini diharapkan dapat menyiapkan generasi penerus yang kompeten dalam mengoperasikan teknologi canggih.
Selain itu, Bakrie & Brothers juga akan memperkuat kehadirannya di pasar fintech. Dengan memanfaatkan hak cipta pada solusi pembayaran digital dan analitik risiko, grup berencana meluncurkan platform keuangan yang terintegrasi, yang dapat melayani pelaku usaha kecil hingga menengah (UKM) serta konsumen akhir. Platform ini diharapkan dapat mengurangi biaya transaksi, meningkatkan inklusi keuangan, serta memberikan akses kredit yang lebih cepat dan transparan.
Di sektor e‑commerce, Bakrie berencana mengembangkan marketplace berbasis AI yang dapat menyesuaikan rekomendasi produk secara real‑time, memanfaatkan data perilaku konsumen yang diolah melalui algoritma prediktif. Integrasi ini diharapkan tidak hanya meningkatkan konversi penjualan, tetapi juga membuka peluang bagi produsen lokal untuk menembus pasar internasional.
Strategi diversifikasi ke teknologi juga dipandang sebagai upaya mitigasi risiko terhadap volatilitas harga komoditas yang selama ini menjadi sumber pendapatan utama grup. “Dengan menambah porsi pendapatan dari sektor teknologi, kami dapat menyeimbangkan portofolio bisnis dan memperkuat ketahanan keuangan perusahaan,” ungkap Anindya.
Pengamat pasar menilai langkah ini sebagai respons terhadap tren digitalisasi yang semakin menguat di Asia Tenggara. Menurut laporan terbaru, investasi di bidang teknologi di wilayah ini diproyeksikan mencapai US$ 150 miliar pada akhir 2026. Keberadaan empat belas hak cipta strategis memberi Bakrie keunggulan kompetitif dalam memanfaatkan peluang tersebut.
Namun, tantangan tidak dapat diabaikan. Persaingan dengan raksasa teknologi global, regulasi data yang ketat, serta kebutuhan akan sumber daya manusia yang terampil menjadi faktor kritis yang harus dikelola. Anindya menyadari hal ini dan menekankan pentingnya kepatuhan terhadap regulasi serta etika penggunaan data.
Secara keseluruhan, strategi ekspansi teknologi Bakrie & Brothers mencerminkan transformasi digital yang sedang berlangsung di Indonesia. Dengan menggabungkan aset intelektual yang kuat, investasi besar, dan kemitraan strategis, grup berambisi menjadi pemimpin dalam ekosistem teknologi nasional sekaligus menambah nilai bagi pemangku kepentingan.
Keberhasilan rencana ini akan bergantung pada kemampuan perusahaan dalam mengintegrasikan hak cipta ke dalam produk nyata, mengelola risiko, serta mengembangkan budaya inovasi yang berkelanjutan. Jika berhasil, Bakrie & Brothers dapat menjadi contoh transformasi konglomerat tradisional menjadi pemain teknologi kelas dunia.





