123Berita – 07 April 2026 | Ketegangan militer yang melanda wilayah Iran kini meluas ke ranah budaya, mengancam 29 situs yang masuk dalam Daftar Warisan Dunia UNESCO. Pada tengah-tengah konflik bersenjata, bangunan-bangunan bersejarah, taman arsitektur, dan situs arkeologi berusia ribuan tahun berisiko mengalami kerusakan atau bahkan kehilangan total. Dampak yang meluas ini menimbulkan kekhawatiran mendalam di kalangan akademisi, pelestari budaya, serta komunitas internasional yang menilai warisan tersebut sebagai identitas kolektif bangsa Iran.
Sejak awal tahun, peningkatan aktivitas militer di beberapa provinsi utara dan barat Iran menimbulkan gelombang serangan udara serta pertempuran darat yang tidak hanya melukai infrastruktur modern, tetapi juga menargetkan area bersejarah yang terletak berdekatan dengan zona konflik. Banyak ahli arkeologi mengingatkan bahwa kerusakan pada lapisan tanah, struktur batu, serta artefak kuno tidak dapat diperbaiki secara sederhana; satu kali hancur, nilai ilmiah dan estetika yang terkandung di dalamnya akan hilang selamanya.
Berikut beberapa contoh situs yang kini berada dalam zona bahaya:
- Masjed-e Jameh di Isfahan – Masjid berusia abad ke-8 yang dikenal dengan kombinasi arsitektur Safawi dan Seljuk.
- Persepolis – Ibukota kuno Kekaisaran Achaemenid yang menjadi ikon peradaban Persia kuno.
- Golestan Palace di Tehran – Kompleks istana kerajaan Qajar yang menyimpan koleksi seni dan artefak berharga.
- Pasargadae – Situs pemakaman raja Cyrus the Great, pendiri Kekaisaran Persia.
- Naqsh-e Jahan Square – Alun-alun megah di Isfahan yang dikelilingi oleh masjid, museum, dan pasar tradisional.
Selain lima contoh di atas, total 24 situs lainnya meliputi benteng kuno, taman air, serta kawasan perkotaan yang memiliki nilai universal. UNESCO telah mengirim tim observasi untuk menilai tingkat kerusakan dan menyusun rekomendasi darurat, namun akses ke lokasi-lokasi tersebut seringkali terhambat oleh operasi militer yang sedang berlangsung.
Para pakar menyoroti bahwa konflik bersenjata dapat memperparah degradasi fisik melalui tiga mekanisme utama: (1) ledakan dan getaran yang merusak struktur batu; (2) kebakaran yang menghancurkan bahan organik seperti kayu dan mural; serta (3) penjarahan artefak oleh pihak tak berwenang yang memanfaatkan kekacauan untuk kepentingan pribadi. Seluruh proses ini tidak hanya mengikis warisan material, tetapi juga menodai narasi sejarah yang telah dibangun selama ribuan tahun.
“Setiap batu di Persepolis menyimpan jejak peradaban yang memberi pelajaran tentang tata kelola, seni, dan ilmu pengetahuan. Kehilangan situs ini berarti menghilangkan bagian penting dari memori kolektif umat manusia,” ujar Dr. Leila Rahimi, pakar arkeologi Iran yang telah meneliti situs-situs UNESCO selama tiga dekade. Ia menambahkan bahwa upaya restorasi pasca-konflik akan membutuhkan sumber daya yang sangat besar, serta dukungan politik yang stabil.
Pemerintah Iran mengklaim bahwa perlindungan warisan budaya menjadi prioritas, dan telah menyiapkan tim khusus untuk melakukan evakuasi artefak yang dapat dipindahkan. Namun, dalam praktiknya, kendala logistik dan keamanan menjadi hambatan utama. Sementara itu, organisasi non-pemerintah internasional menyerukan penghentian permusuhan dan penetapan zona aman di sekitar situs-situs penting.
Secara ekonomi, potensi kehilangan nilai pariwisata juga menjadi sorotan. Sebelum konflik, ribuan turis setiap tahun mengunjungi warisan dunia Iran, menghasilkan pendapatan signifikan bagi sektor perhotelan, transportasi, dan kerajinan lokal. Kerusakan pada situs-situs utama dapat menurunkan daya tarik wisata, memperburuk kondisi ekonomi yang sudah tertekan akibat sanksi internasional.
Dalam konteks geopolitik, perlindungan warisan dunia menjadi alat diplomasi budaya. Negara-negara lain dapat memanfaatkan situasi ini untuk menekan pihak yang terlibat dalam konflik, dengan mengingatkan akan konsekuensi hukum internasional bila situs UNESCO dihancurkan. UNESCO sendiri telah menegaskan bahwa pelanggaran terhadap perlindungan warisan budaya dapat dianggap sebagai kejahatan perang.
Langkah-langkah mitigasi yang sedang dipertimbangkan meliputi: pendirian zona perlindungan yang disepakati bersama, penggunaan teknologi satelit untuk memantau kerusakan secara real-time, serta pelibatan komunitas lokal dalam upaya konservasi darurat. Beberapa negara sahabat Iran, termasuk Turki dan India, menawarkan bantuan teknis dan sumber daya manusia untuk membantu proses pemulihan.
Kesimpulannya, ancaman terhadap 29 situs Warisan Dunia Iran bukan sekadar kehilangan fisik, melainkan erosi identitas budaya yang telah membentuk peradaban Persia sejak milenium pertama Masehi. Upaya bersama dari pemerintah, komunitas internasional, dan masyarakat lokal sangat diperlukan untuk mencegah tragedi tak terulang. Keberlanjutan warisan ini menuntut solusi damai yang mengedepankan nilai universal manusia, sekaligus menegaskan bahwa budaya harus tetap dilindungi meski di tengah gejolak perang.





