123Berita – 10 April 2026 | Band legendaris Seringai kembali menggebrak panggung musik Indonesia dengan sesi dengar eksklusif album comeback mereka yang berjudul IV: Anastasis. Setelah hampir delapan tahun menghilang dari sorotan publik, grup yang dipimpin oleh vocalist Accon ini menampilkan karya terbaru yang tidak hanya menandai kebangkitan kreatif, tetapi juga menyimpan nilai sentimental yang dalam bagi para penggemar dan sesama musisi. Album ini menjadi catatan emosional karena menjadi karya terakhir yang melibatkan gitaris senior mereka, Ricky Siahaan, yang meninggal dunia beberapa bulan lalu.
Dalam acara pendengaran khusus yang dihadiri oleh media, rekan-rekan musisi, serta sejumlah penggemar setia, Seringai memutar seluruh dua belas trek yang terkandung dalam IV: Anastasis. Album tersebut dijadwalkan akan tersedia secara penuh di platform streaming digital pada 23 April 2026, menandai tanggal penting yang sekaligus menjadi peringatan bagi dunia musik underground Indonesia.
Keunikan IV: Anastasis terletak pada upaya menjaga orisinalitas suara gitar yang selama ini menjadi ciri khas Seringai. Seluruh lagu pada album ini direkam dengan menggunakan tuning gitar serta peralatan asli milik almarhum Ricky Siahaan. Keputusan ini bukan sekadar penghormatan, melainkan juga bentuk komitmen band untuk menyampaikan suara yang sesungguhnya, tanpa mengorbankan integritas musik yang telah dibangun selama bertahun‑tahun.
Setelah kepergian Ricky, posisi gitar utama dalam proses rekaman maupun penampilan live dipercayakan kepada Angga Kusuma sebagai gitaris tamu. Angga, yang sebelumnya pernah berkolaborasi dengan beberapa proyek metal di tanah air, menyatakan rasa terhormatnya dapat melanjutkan warisan gitarik Ricky. “Saya merasa beban sekaligus kebanggaan dapat mengisi ruang yang ditinggalkan oleh seorang maestro,” ungkapnya dalam wawancara singkat setelah sesi dengar.
Salah satu trek yang paling banyak menarik perhatian adalah trek ke‑11 berjudul Akar. Lagu ini menampilkan demo gitar akustik asli Ricky yang direkam secara spontan pada sebuah workshop internal band. Demo tersebut menampilkan nuansa raw dan belum diproses, memberikan gambaran intim tentang proses kreatif Ricky sebelum ia meninggal. Seringai berencana untuk merilis materi demo asli tersebut secara terpisah setelah peluncuran album, memungkinkan pendengar merasakan keaslian musik dalam kondisi apa adanya.
Dalam rangka menambah kedalaman narasi album, Seringai juga mengumumkan rencana penerbitan paket khusus yang berisi foto-foto backstage, catatan produksi, serta rekaman video proses pembuatan IV: Anastasis. Paket ini dirancang khusus untuk para kolektor dan penggemar yang ingin mengintip di balik layar, sekaligus menjadi penghormatan visual kepada Ricky Siahaan yang selalu dikenal memiliki dedikasi tinggi dalam setiap sesi rekaman.
Sejak kemunculan pertama mereka pada awal 2000‑an, Seringai telah menjadi ikon dalam skena metal Indonesia, dikenal dengan riff gitar yang berat, lirik yang kritis, serta penampilan panggung yang energik. Kehilangan Ricky, yang bergabung dengan band pada era Serigala Militia, meninggalkan sebuah kekosongan yang sulit diisi. Namun, melalui IV: Anastasis, band berupaya mengubah duka menjadi energi kreatif, menjadikan album ini sebagai simbol kebangkitan dan penghormatan sekaligus.
Penggemar yang hadir pada sesi dengar menilai album ini berhasil menyatukan elemen keagresifan klasik Seringai dengan sentuhan melankolis yang dipengaruhi oleh kehadiran gitar akustik pada beberapa trek. “Saya merasakan kombinasi yang kuat antara kejamnya distorsi dan kehalusan akustik yang membawa saya kembali pada kenangan bersama Ricky,” ujar salah satu penonton yang mengaku telah mengikuti perjalanan band sejak album debut mereka.
Rencana promosi album tidak hanya terbatas pada rilis digital. Seringai berencana menggelar rangkaian konser mini di beberapa kota besar Indonesia, termasuk Jakarta, Bandung, dan Surabaya, dengan menampilkan Angga Kusuma sebagai gitaris utama. Konser tersebut akan menjadi kesempatan terakhir bagi penonton untuk mendengar secara langsung interpretasi lagu-lagu yang mengandung jejak gitar Ricky.
Selain itu, band juga menyiapkan kolaborasi dengan sejumlah artis indie dan metal lain dalam bentuk remix atau versi akustik dari beberapa lagu dalam IV: Anastasis. Inisiatif ini diharapkan dapat memperluas jangkauan musik mereka ke audiens yang lebih luas, sekaligus memberikan ruang bagi musisi lain untuk menghormati warisan Ricky melalui interpretasi mereka masing‑masing.
Keseluruhan, IV: Anastasis bukan sekadar album comeback, melainkan sebuah dokumen emosional yang menandai akhir sebuah era dan awal yang baru bagi Seringai. Dengan menjaga integritas suara asli Ricky, melibatkan musisi tamu yang menghormati warisan tersebut, serta merencanakan rilis materi tambahan yang bersifat arsip, band berhasil menciptakan sebuah karya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengingatkan kita pada pentingnya menghargai setiap jejak dalam perjalanan musik.
Dengan rilis resmi yang dijadwalkan pada 23 April 2026, para pendengar di seluruh Indonesia serta mancanegara dapat menyaksikan bagaimana Seringai mengukir kembali identitas mereka sambil menapaki jejak terakhir sang gitaris legendaris. Album ini diyakini akan menjadi salah satu referensi penting dalam sejarah metal Indonesia, sekaligus menjadi kenangan abadi bagi semua yang pernah merasakan energi panggung Ricky Siahaan.





