123Berita – 06 April 2026 | Jakarta, 5 April 2026 – Saat mengunjungi kamp kerja paksa (romusha) di Banten pada masa pendudukan Jepang, Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno, tidak mampu menahan emosi. Ratusan ribu rakyat Indonesia kehilangan nyawa dalam kondisi mengerikan, dan pemandangan para pekerja yang tampak seperti tengkorak memicu air mata sang proklamator.
Romusha merupakan kebijakan kerja paksa yang diterapkan pemerintah militer Jepang antara 1942‑1945. Rakyat sipil, termasuk petani, pelajar, dan pekerja kota, dipaksa mengangkat beban berat, menebang hutan, atau membangun infrastruktur militer tanpa upah. Kelelahan, kelaparan, dan penyakit menular menjadi penyebab utama kematian massal. Di provinsi Banten, yang dulu merupakan pusat produksi pertanian dan industri, angka korban diperkirakan mencapai ratusan ribu jiwa.
Perjalanan Soekarno ke Banten pada awal 1945 bertujuan meninjau kondisi rakyat dan menggalang dukungan internasional menjelang proklamasi kemerdekaan. Sesampainya di lokasi, beliau disambut oleh pemandangan mengerikan: barisan pekerja berlutut, tubuh kurus, kulit pucat, dan wajah yang tampak tanpa kehidupan. Sebagian besar tampak seperti kerangka, menimbulkan kesan “tengkorak hidup”.
“Aku melihat mereka seperti boneka yang tak lagi bernyawa,” ujar Soekarno dalam catatan pribadi yang kemudian dibukukan. “Setiap langkah mereka terhenti oleh rasa sakit, setiap napas terasa berat. Saya tak dapat menahan air mata yang mengalir deras.” Air mata itu tidak hanya melambangkan kesedihan pribadi, melainkan simbol kepedihan seluruh bangsa yang sedang berada di bawah cengkraman tirani.
Pengalaman itu memperkuat tekad Soekarno untuk memperjuangkan kemerdekaan. Ia menyadari bahwa perjuangan tidak hanya bersifat politik, melainkan juga kemanusiaan. “Jika kita tidak mengangkat suara mereka yang terdiam, maka kebebasan hanyalah ilusi,” katanya dalam pidato yang disampaikan pada pertemuan rahasia di Bandung beberapa bulan kemudian.
Sejumlah saksi mata, termasuk salah satu romusha bernama Haji Ahmad, mengingat kembali momen tersebut. “Ketika Bung Karno tiba, kami semua terdiam. Tapi tatapan matanya yang penuh air mata memberi kami harapan. Kami merasa tidak sendirian dalam penderitaan ini,” ujar Haji Ahmad, kini berusia 95 tahun.
Penelitian terbaru oleh Lembaga Sejarah Nasional (Lemhanas) memperkirakan lebih dari 600 ribu warga Indonesia menjadi korban romusha di seluruh nusantara. Data tersebut dikumpulkan melalui arsip militer Jepang, catatan saksi, dan dokumen pemerintah pendudukan. Banten tercatat sebagai salah satu wilayah dengan tingkat kematian tertinggi, terutama pada tahun 1944‑1945 ketika intensitas pembangunan jalur logistik militer meningkat.
Hingga kini, jejak sejarah romusha masih terasa. Di beberapa desa di Banten, monumen peringatan dibangun untuk menghormati para korban. Pemerintah Provinsi Banten menggelar acara tahunan “Hari Romusha” pada tanggal 5 April, memperingati hari di mana Soekarno meneteskan air mata di antara mereka. Upacara tersebut melibatkan tarian tradisional, pembacaan puisi, serta penyuluhan tentang pentingnya mengenang masa kelam agar tidak terulang kembali.
Para sejarawan menilai bahwa narasi air mata Soekarno menjadi elemen penting dalam pembentukan identitas nasional pasca‑kemerdekaan. “Ia menempatkan rasa kemanusiaan di atas retorika politik,” kata Dr. Siti Nurhaliza, dosen Sejarah di Universitas Indonesia. “Momen itu menunjukkan betapa kuatnya ikatan antara pemimpin dan rakyat, serta menegaskan bahwa kemerdekaan harus dibangun di atas dasar keadilan sosial.”
Meski sudah lebih dari delapan dekade berlalu, dampak psikologis dan sosial romusha masih dirasakan oleh generasi keturunan. Beberapa keluarga masih menyimpan artefak, seperti rantai kerja paksa dan dokumen kerja, sebagai bukti penderitaan nenek moyang mereka. Upaya edukasi di sekolah-sekolah kini menekankan pentingnya mengingat tragedi tersebut, tidak hanya sebagai catatan sejarah, tetapi sebagai pelajaran moral bagi generasi mendatang.
Kesimpulannya, air mata yang ditumpahkan oleh Ir. Soekarno saat melihat rakyat Banten berjuang dalam kondisi menyerupai tengkorak menjadi simbol kebanggaan sekaligus duka mendalam bangsa Indonesia. Peristiwa ini menegaskan bahwa kemerdekaan tidak lahir dari kemenangan militer semata, melainkan dari kesadaran kolektif akan penderitaan rakyat. Mengingat kembali tragedi romusha menjadi panggilan moral untuk memastikan bahwa kebijakan kerja paksa tidak pernah kembali, serta menegaskan komitmen bangsa dalam menjaga hak asasi manusia.





