Abimana Aryasatya & Morgan Oey Ungkap Kesulitan Syuting Adegan Laga 15 Menit Tanpa Henti di Ghost in the Cell

123Berita – 10 April 2026 | Film aksi fiksi ilmiah “Ghost in the Cell” kembali menjadi sorotan publik tak hanya karena alur cerita yang futuristik, melainkan juga karena proses produksi yang menuntut fisik serta mental para pemeran utamanya. Abimana Aryasatya dan Morgan Oey, dua aktor senior yang memerankan tokoh sentral dalam film tersebut, baru-baru ini berbagi pengalaman tentang tantangan luar biasa dalam menyelesaikan satu adegan laga berdurasi 15 menit tanpa jeda.

Produksi “Ghost in the Cell” menggunakan teknologi motion‑capture dan efek visual yang intens, sehingga para pemain harus menyesuaikan diri dengan peralatan khusus, seperti harness yang menahan beban serta sensor yang merekam setiap gerakan tubuh. Kedua aktor mengaku bahwa adaptasi terhadap peralatan tersebut memakan waktu lebih lama dibandingkan adegan aksi konvensional.

Bacaan Lainnya
  • Persiapan Fisik: Kedua aktor menjalani program kebugaran selama tiga bulan, meliputi latihan kardio, kekuatan otot inti, dan latihan bela diri. Mereka juga melakukan simulasi adegan di atas matras khusus untuk menurunkan risiko cedera.
  • Koordinasi Tim: Koreografer aksi, stuntman, dan tim efek visual bekerja secara sinkron, memastikan setiap pukulan, tendangan, dan gerakan akrobatik terintegrasi dengan efek CGI yang akan ditambahkan pada pasca produksi.
  • Pengaturan Kamera: Pengambilan gambar dilakukan dengan kamera handheld stabilizer yang bergerak mengikuti aksi, menambah beban fisik bagi aktor yang harus menjaga keseimbangan sekaligus mengeksekusi gerakan.
  • Kondisi Lingkungan: Adegan difilmkan di set indoor dengan pencahayaan tinggi dan suhu ruangan yang meningkat akibat lampu sorot, menambah rasa lelah pada aktor.

Abimana dan Morgan menyatakan bahwa mereka melakukan tiga kali pengulangan (take) sebelum akhirnya produksi menyetujui satu take terakhir yang dianggap paling memuaskan. “Setiap kali kami selesai satu take, tim langsung melakukan pengecekan visual, dan kami langsung diberikan umpan balik. Tekanan itu menambah beban mental, karena kami harus siap kembali ke posisi awal dan mengulang lagi dengan intensitas yang sama,” kata Morgan.

Selain tantangan fisik, keduanya juga menyoroti pentingnya dukungan tim produksi. Produser film, yang tidak disebutkan namanya, memberikan waktu istirahat yang cukup di antara pengambilan gambar dan menyediakan layanan fisioterapi serta nutrisi khusus. “Kami tidak akan bisa menyelesaikan adegan ini tanpa bantuan kru yang selalu mengawasi kondisi kami,” tambah Abimana.

Dalam konteks industri film Indonesia, adegan laga dengan durasi panjang dan tanpa jeda masih terbilang langka. Hal ini menandakan bahwa “Ghost in the Cell” berusaha meningkatkan standar produksi aksi lokal, menyaingi karya‑karya internasional yang sering menampilkan sekuens aksi yang kompleks.

Para kritikus film menilai bahwa upaya ini patut diapresiasi, meski hasil akhir masih harus dinilai setelah film dirilis secara luas. Mereka menekankan bahwa keberanian produser serta komitmen aktor dalam menempuh proses yang menuntut dapat menjadi contoh bagi proyek‑proyek selanjutnya.

Kesimpulannya, proses syuting adegan laga 15 menit tanpa jeda di “Ghost in the Cell” menguji batas kemampuan fisik dan mental Abimana Aryasatya serta Morgan Oey. Dengan persiapan matang, koordinasi tim yang solid, dan dukungan produksi yang optimal, mereka berhasil menaklukkan tantangan tersebut, membuka peluang baru bagi industri film aksi Indonesia untuk menghasilkan karya yang lebih ambisius dan kompetitif di kancah global.

Pos terkait