72 Siswa SD Dirawat Akibat Keracunan Makanan, Pramono Turun Lapangan ke RS Duren Sawit

72 Siswa SD Dirawat Akibat Keracunan Makanan, Pramono Turun Lapangan ke RS Duren Sawit
72 Siswa SD Dirawat Akibat Keracunan Makanan, Pramono Turun Lapangan ke RS Duren Sawit

123Berita – 04 April 2026 | Jakarta Timur – Pada Senin pagi, Kepala Sekolah (Kepsek) Pramono melakukan kunjungan ke Rumah Sakit Duren Sawit setelah 72 orang siswa Sekolah Dasar (SD) dilaporkan mengalami keracunan makanan dan dirawat di unit gawat darurat. Kunjungan tersebut menandai langkah pertama otoritas pendidikan setempat dalam menanggapi insiden yang menimbulkan kepanikan di kalangan orang tua dan warga sekitar.

Pramono menyampaikan rasa prihatin mendalam kepada keluarga korban serta menegaskan komitmen pihak sekolah untuk bekerja sama dengan rumah sakit dan Dinas Kesehatan DKI Jakarta. “Kami sangat menyesal atas kejadian ini. Prioritas utama kami adalah keselamatan dan pemulihan anak‑anak kami,” ujarnya saat bertemu dengan dokter dan perawat di ruang perawatan intensif.

Bacaan Lainnya

Berikut merupakan ringkasan data pasien berdasarkan kelas yang dirawat di RS Duren Sawit:

Kelas Jumlah Siswa
Kelas 1 12
Kelas 2 15
Kelas 3 10
Kelas 4 9
Kelas 5 13
Kelas 6 13

Para orang tua yang hadir di rumah sakit mengungkapkan kekhawatiran mereka terhadap kondisi anak‑anak mereka. “Anak saya masih lemas, kami berharap tim medis dapat memberikan penanganan terbaik,” kata Ibu Siti, salah satu ibu murid kelas 2.

Pihak rumah sakit menjelaskan bahwa semua pasien telah mendapatkan cairan rehidrasi intravena serta pengobatan simptomatik untuk mengurangi muntah dan diare. Sejauh ini, tidak ada laporan komplikasi serius, namun dokter tetap memantau kondisi setiap anak secara intensif selama 24‑48 jam ke depan.

Tim investigasi dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta bersama Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan telah memulai penyelidikan. Tim tersebut akan memeriksa sisa makanan, catatan kebersihan dapur, serta prosedur penyimpanan bahan makanan di kantin sekolah. Menurut keterangan petugas, sampel makanan telah dikirim ke laboratorium forensik makanan untuk analisis bakteri Salmonella, Staphylococcus aureus, serta racun toksin lainnya.

Selama kunjungan, Pramono menegaskan bahwa sekolah akan menutup sementara kantin hingga hasil penyelidikan selesai. “Kami tidak akan melanjutkan operasional kantin sebelum ada jaminan keamanan pangan yang jelas,” tegasnya. Selain itu, pihak sekolah berencana mengadakan pelatihan kebersihan dan keamanan pangan bagi seluruh staf katering.

Insiden serupa pernah terjadi di beberapa kota lain di Indonesia, menggarisbawahi pentingnya penerapan standar keamanan pangan di lingkungan pendidikan. Menurut data Kementerian Kesehatan, sekitar 30 % kasus keracunan makanan di Indonesia melibatkan institusi pendidikan, terutama pada jenjang dasar.

Dinas Kesehatan DKI Jakarta juga mengumumkan rencana inspeksi mendadak ke semua sekolah di wilayah Jakarta Timur dalam dua minggu ke depan. Pemerintah provinsi menyiapkan anggaran khusus untuk memperkuat pelatihan higiene bagi pengelola kantin sekolah serta menyediakan paket inspeksi rutin.

Sejauh ini, tidak ada indikasi tindakan hukum terhadap pihak katering, mengingat proses penyelidikan masih berjalan. Namun, otoritas berjanji akan menindak tegas pihak yang terbukti lalai dalam menerapkan standar kebersihan.

Kasus ini menimbulkan perdebatan luas di media sosial, dengan banyak netizen menuntut transparansi dan akuntabilitas. Pihak sekolah berkomitmen untuk mengirimkan laporan perkembangan secara berkala kepada orang tua melalui grup WhatsApp resmi serta situs web sekolah.

Dengan 72 siswa masih berada di rumah sakit, situasi tetap membutuhkan perhatian serius dari semua pemangku kepentingan. Upaya kolaboratif antara sekolah, rumah sakit, dinas kesehatan, dan orang tua diharapkan dapat mempercepat pemulihan anak‑anak serta mencegah terulangnya kejadian serupa di masa depan.

Pos terkait