552 Rumah Warga Terdampak Banjir di Donggala, Sulawesi Tengah: Dampak, Tanggap Darurat, dan Upaya Pemulihan

552 Rumah Warga Terdampak Banjir di Donggala, Sulawesi Tengah: Dampak, Tanggap Darurat, dan Upaya Pemulihan
552 Rumah Warga Terdampak Banjir di Donggala, Sulawesi Tengah: Dampak, Tanggap Darurat, dan Upaya Pemulihan

123Berita – 04 April 2026 | Donggala, Sulawesi TengahHujan lebat yang mengguyur wilayah pantai dan dataran rendah Kabupaten Donggala pada pekan lalu memicu luapan air yang melanda sejumlah desa pesisir. Berdasarkan data terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sebanyak 552 rumah warga terdampak banjir. Meskipun belum ada laporan korban jiwa, situasi masih memerlukan penanganan intensif karena jumlah pengungsi belum selesai diinventarisasi secara menyeluruh.

Wilayah yang paling parah terkena dampak berada di kecamatan Banawa dan Banawa Tengah, di mana tingkat kemudahan aliran air ke laut terhambat oleh sedimentasi serta kondisi infrastruktur yang kurang memadai. Rumah-rumah tradisional yang dibangun di dataran rendah terendam air setinggi lutut hingga pinggang, merusak perabotan, pakaian, dan persediaan pangan. Beberapa keluarga terpaksa mengungsi ke posko darurat yang didirikan di balai desa dan sekolah-sekolah yang belum terpakai.

Bacaan Lainnya

Berita baiknya, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan hingga saat ini. Namun, aparat setempat tetap meningkatkan kewaspadaan, terutama karena curah hujan masih berpotensi tinggi di minggu-minggu mendatang. Tim SAR dan relawan lokal terus melakukan evakuasi serta mendistribusikan bantuan pokok seperti beras, air bersih, dan perlengkapan kebersihan kepada warga yang mengungsi.

Berikut rangkuman langkah-langkah penanggulangan yang telah diambil:

  • Tim Evakuasi dan Penyelamatan: Dibentuk oleh Satpol PP bersama BNPB, tim ini beroperasi 24 jam untuk mengevakuasi warga dari rumah yang terendam dan menyalurkan mereka ke posko aman.
  • Penyediaan Posko Darurat: Terdapat tiga posko utama di Desa Banawa, Banawa Tengah, dan Luwuk, masing-masing dilengkapi dengan tenda, tempat tidur lipat, serta persediaan makanan dan minuman selama tiga hari pertama.
  • Distribusi Bantuan Logistik: Badan Sosial Kemasyarakatan (BSKM) dan Palang Merah Indonesia (PMI) mengirimkan paket bantuan yang mencakup beras, minyak goreng, mie instant, serta perlengkapan kebersihan.
  • Pemulihan Infrastruktur: Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) bersama Dinas Perhubungan mulai menilai kerusakan jalan akses utama dan jalur evakuasi, serta merencanakan perbaikan darurat.
  • Monitoring dan Penilaian Dampak: Tim survei lapangan terus mengumpulkan data mengenai jumlah korban, kerusakan properti, serta kebutuhan jangka panjang seperti perbaikan rumah dan dukungan psikososial.

Gubernur Sulawesi Tengah, Rusdy Mastura, dalam pernyataan resmi menyatakan bahwa pemerintah provinsi siap memberikan dukungan tambahan, baik dalam bentuk dana bantuan maupun tenaga ahli teknik. “Kami tidak akan tinggal diam. Prioritas utama adalah keselamatan warga dan memulihkan kehidupan mereka secepat mungkin,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala BPBD Donggala, H. Syarif, menekankan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat. “Banjir bukanlah kejadian yang dapat dihindari sepenuhnya, namun dengan sistem peringatan dini, penataan ruang yang lebih baik, dan partisipasi aktif warga, dampaknya dapat diminimalisir,” katanya.

Para ahli meteorologi mengingatkan bahwa fenomena cuaca ekstrem yang terjadi baru-baru ini merupakan bagian dari tren perubahan iklim global. Peningkatan intensitas curah hujan dan pergeseran pola musiman dapat meningkatkan risiko banjir di wilayah pesisir Indonesia, termasuk Donggala. Mereka mengusulkan langkah-langkah mitigasi jangka panjang seperti pembangunan bendungan mikro, revitalisasi sistem drainase, serta penanaman vegetasi penahan erosi di daerah tangkapan air.

Di sisi lain, warga yang terdampak menunjukkan semangat solidaritas tinggi. Kelompok relawan lokal, yang dipimpin oleh tokoh masyarakat Pak Dedi, secara sukarela membantu membersihkan puing, memperbaiki atap rumah yang rusak, serta menyediakan makanan bagi tetangga yang masih mengungsi. “Kita harus saling bantu. Tidak ada yang bisa kita lakukan sendirinya,” kata Pak Dedi dalam sebuah wawancara singkat.

Masalah pendataan pengungsi masih menjadi tantangan utama. Hingga kini, angka pasti penghuni yang mengungsi belum terkonfirmasi karena banyak rumah yang masih terendam dan akses jalan terbatas. Petugas BPBD menggunakan aplikasi mobile untuk mencatat data secara real-time, namun keterbatasan jaringan di daerah terpencil menghambat proses tersebut. Diharapkan dalam beberapa hari ke depan, data final akan tersedia sehingga alokasi bantuan dapat dilakukan secara lebih tepat sasaran.

Secara umum, situasi di Donggala masih berada dalam fase tanggap darurat, namun dengan koordinasi lintas sektoral antara pemerintah daerah, lembaga kemanusiaan, serta partisipasi aktif warga, proses pemulihan diproyeksikan dapat berjalan lancar. Pemerintah provinsi berjanji akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan penanggulangan bencana di wilayah ini, termasuk peninjauan kembali tata ruang dan investasi pada infrastruktur penahan banjir.

Dengan tidak adanya korban jiwa dan upaya penanganan yang terkoordinasi, harapan besar tetap terjaga bahwa Donggala dapat bangkit kembali lebih kuat. Namun, tantangan jangka panjang tetap ada, terutama dalam memperkuat ketahanan lingkungan dan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi peristiwa cuaca ekstrem di masa depan.

Pos terkait