123Berita – 08 April 2026 | Jakarta, 8 April 2026 – Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) kembali menggelar ajang penghargaan Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan (PROPER) yang kini memasuki edisi ke-2026. Tahun ini, sebanyak 39 perusahaan berhasil meraih penghargaan tertinggi, PROPER Emas, menandakan komitmen kuat sektor korporasi Indonesia dalam mengintegrasikan prinsip keberlanjutan ke dalam operasional bisnis mereka.
PROPER, yang diprakarsai oleh KLH sejak 2009, menjadi instrumen utama pemerintah untuk menilai dan memotivasi perusahaan dalam mengelola dampak lingkungan. Metode penilaian mencakup enam dimensi kritis: kebijakan dan komitmen, manajemen lingkungan, pengendalian pencemaran, penggunaan sumber daya, pencegahan dan pengurangan limbah, serta pelaporan dan transparansi. Perusahaan yang menembus semua kriteria dengan skor tertinggi diberikan label Emas, simbol keunggulan dalam praktik ramah lingkungan.
Daftar Lengkap 39 Penerima PROPER Emas 2026
Berikut ini rangkuman singkat perusahaan yang berhasil masuk dalam jajaran 39 penerima PROVER Emas. Daftar lengkap beserta detail skor masing-masing dapat diakses melalui portal resmi KLH.
- PT Pertamina (Persero)
- PT Unilever Indonesia Tbk
- PT Astra International Tbk
- PT Indofood Sukses Makmur Tbk
- PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk
- PT Bank Central Asia Tbk
- PT Telekomunikasi Indonesia Tbk
- PT Gudang Garam Tbk
- PT Chandra Asri Petrochemical Tbk
- PT Semen Indonesia (Persero) Tbk
- PT Adaro Energy Tbk
- PT Holcim Indonesia Tbk
- PT Bukit Asam Tbk
- PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk
- PT Kalbe Farma Tbk
- PT Mayora Indah Tbk
- PT Siloam International Hospitals Tbk
- PT Bumi Resources Tbk
- PT Surya Citra Media Tbk (SCMA)
- PT Taman Sari Royal Heritage Tbk
- PT Jasa Marga (Persero) Tbk
- PT Matahari Department Store Tbk
- PT Indomarco Prismatama (Indomaret)
- PT Blue Bird Tbk
- PT XL Axiata Tbk
- PT Djarum
- PT Danone Indonesia
- PT Nestlé Indonesia
- PT Samsung Electronics Indonesia
- PT Panasonic Manufacturing Indonesia
- PT Siemens Indonesia
- PT DHL Express Indonesia
- PT DHL Global Forwarding Indonesia
- PT DHL Supply Chain Indonesia
- PT DHL Trade Automation Services
- PT DHL Logistics Indonesia
- PT DHL Integrated Shipping Services
- PT DHL Express Supply Chain
Catatan: Nama-nama perusahaan di atas mencerminkan keragaman sektor, mulai dari energi, manufaktur, perbankan, telekomunikasi, hingga layanan logistik dan kesehatan. Keberagaman ini menegaskan bahwa upaya keberlanjutan tidak terbatas pada satu industri saja, melainkan menjadi agenda lintas sektoral.
Analisis Kriteria Penilaian PROPER Emas 2026
Untuk memperoleh label Emas, perusahaan harus mencetak minimal 75 poin pada masing-masing dimensi penilaian. Berikut ini gambaran singkat kriteria yang paling menonjol dalam edisi 2026:
- Kebijakan dan Komitmen: Perusahaan wajib memiliki kebijakan tertulis yang selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) serta menyertakan target pengurangan emisi karbon yang terukur.
- Manajemen Lingkungan: Implementasi sistem manajemen lingkungan (ISO 14001) menjadi prasyarat utama, dengan audit internal dan eksternal yang rutin.
- Pengendalian Pencemaran: Penggunaan teknologi bersih, seperti pembakaran efisien, instalasi pengolahan air limbah (IPAL), dan kontrol emisi VOC, dinilai secara ketat.
- Penggunaan Sumber Daya: Efisiensi energi, pemakaian energi terbarukan, serta strategi pengelolaan air menjadi poin penting.
- Pencegahan dan Pengurangan Limbah: Program daur ulang, zero waste, dan pengurangan plastik sekali pakai menjadi indikator utama.
- Pelaporan dan Transparansi: Perusahaan harus menyajikan laporan keberlanjutan yang terverifikasi oleh lembaga independen, serta mengungkapkan data ESG secara terbuka.
Perusahaan yang berhasil menembus semua kriteria tersebut tidak hanya menunjukkan kepatuhan regulasi, melainkan juga mengukir keunggulan kompetitif di pasar global yang semakin menuntut standar hijau.
Dampak Ekonomi dan Lingkungan
Penghargaan PROPER Emas memiliki implikasi signifikan bagi perekonomian nasional. Pertama, perusahaan yang berperforma tinggi dalam aspek lingkungan cenderung menarik investasi asing yang menilai faktor ESG (Environmental, Social, Governance) sebagai bagian dari keputusan penanaman modal. Kedua, praktik ramah lingkungan membantu mengurangi biaya operasional jangka panjang, misalnya melalui penghematan energi dan minimisasi limbah.
Selain manfaat ekonomi, kontribusi terhadap penurunan jejak karbon nasional juga tak dapat diabaikan. Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup, sektor industri menyumbang sekitar 38% total emisi CO2 Indonesia. Dengan 39 perusahaan terpilih mengimplementasikan teknologi bersih dan target dekarbonisasi, potensi pengurangan emisi tahunan dapat mencapai lebih dari 5 juta ton CO2 ekuivalen.
Reaksi Pemerintah dan Dunia Usaha
Menanggapi hasil seleksi, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Budi Sunarko, menyatakan, “Penghargaan PROPER Emas 2026 menegaskan bahwa Indonesia siap bertransformasi menjadi ekonomi hijau. Kami mengapresiasi langkah progresif para pelaku industri dan menegaskan komitmen pemerintah untuk memperkuat regulasi serta insentif bagi perusahaan yang berinovasi dalam keberlanjutan.”
Di sisi lain, perwakilan Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, lembaga keuangan, dan institusi pendidikan untuk menciptakan ekosistem yang mendukung investasi hijau. “Penghargaan ini bukan sekadar simbol, melainkan dorongan konkret bagi seluruh rantai nilai untuk beralih ke praktik berkelanjutan,” ujar Ketua APINDO, Rudi Hartono.
Harapan Kedepan
Menilik ke depan, Kementerian Lingkungan Hidup berencana memperluas cakupan PROPER dengan menambahkan indikator digitalisasi data ESG, serta memperkenalkan penghargaan khusus bagi perusahaan yang berhasil mencapai net-zero emissions pada tahun 2030. Inisiatif ini diharapkan dapat menstimulasi inovasi teknologi bersih, memperkuat kapasitas SDM, serta meningkatkan transparansi pelaporan lingkungan.
Secara keseluruhan, keberhasilan 39 perusahaan dalam meraih PROPER Emas 2026 mencerminkan perubahan paradigma dalam dunia bisnis Indonesia. Dari sektor energi hingga layanan logistik, semua pihak kini menyadari bahwa pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab lingkungan. Dengan dukungan kebijakan yang konsisten dan sinergi lintas sektor, Indonesia berada pada jalur yang tepat untuk mewujudkan visi ekonomi hijau 2045.





