123Berita – 04 April 2026 | Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI) kembali menegaskan komitmen sosialnya dengan menyalurkan bantuan pembangunan jembatan gantung di Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Proyek ini diharapkan menjadi penghubung strategis bagi warga yang selama ini harus menempuh jalur darat yang memakan waktu lama dan berbahaya, terutama pada musim hujan. Dengan mengatasi hambatan geografis, PERADI tidak hanya memperkuat jaringan transportasi, melainkan juga memberikan dampak positif pada ekonomi lokal, pendidikan, dan layanan kesehatan.
Jembatan gantung yang dibangun memiliki panjang sekitar 120 meter dan lebar 3,5 meter, cukup untuk menampung kendaraan ringan, sepeda motor, serta pejalan kaki. Struktur utama mengadopsi desain tahan karat berbahan baja galvanis, sementara tali penopang dipilih dengan standar keamanan internasional. Seluruh proses konstruksi melibatkan tenaga kerja lokal, sehingga menambah lapangan pekerjaan bagi masyarakat setempat dan meningkatkan transfer pengetahuan teknik sipil.
Penggalangan dana untuk proyek ini dilakukan secara transparan melalui sumbangan anggota PERADI, donatur individu, serta sponsor korporat. Total anggaran yang dialokasikan mencapai Rp 2,5 miliar, mencakup biaya material, tenaga kerja, transportasi, dan pemeliharaan awal. Sebelum peluncuran resmi, tim teknis melakukan survei topografi dan studi kelayakan yang melibatkan Badan Penelitian dan Pengembangan Infrastruktur Daerah (BPPI) serta Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Solok.
Dalam upacara peresmian, Ketua Umum PERADI, Advokat Dr. H. M. Yusuf, S.H., menekankan bahwa jembatan ini merupakan wujud nyata solidaritas profesi hukum terhadap pembangunan berkelanjutan. “Kami percaya bahwa peran advokat tak terbatas pada ruang sidang; kami juga berperan dalam memperkuat fondasi masyarakat melalui kontribusi nyata pada infrastruktur penting,” ujarnya. Sementara itu, Bupati Solok, H. Ahmad Zaki, menyampaikan apresiasi atas kehadiran PERADI dan menegaskan bahwa proyek ini akan mempercepat distribusi hasil pertanian, khususnya padi dan sayuran, ke pasar-pasar utama.
Manfaat jangka pendek yang diharapkan meliputi berkurangnya waktu tempuh antar desa, penurunan biaya transportasi, serta peningkatan akses layanan darurat. Secara jangka panjang, jembatan gantung ini berpotensi menarik investasi baru, terutama di sektor pariwisata, mengingat Solok memiliki potensi wisata alam yang belum sepenuhnya optimal karena keterbatasan akses. Pemerintah daerah berencana mengintegrasikan jembatan ini dalam rencana pengembangan zona ekonomi khusus (ZE) yang akan memicu pertumbuhan usaha kecil dan menengah (UKM).
Untuk menjamin keberlanjutan, PERADI dan pihak berwenang setempat menyusun mekanisme pemeliharaan bersama. Jadwal inspeksi rutin setiap tiga bulan akan melibatkan tim insinyur sipil, teknisi, serta perwakilan masyarakat. Selain itu, program pelatihan pemeliharaan jembatan diberikan kepada warga setempat, sehingga mereka dapat mengidentifikasi potensi kerusakan sejak dini dan melakukan perbaikan ringan tanpa menunggu intervensi eksternal.
Keberhasilan proyek jembatan gantung ini menjadi contoh sinergi antara organisasi profesi dan pemerintah daerah dalam mengatasi tantangan infrastruktur. Dengan menghubungkan wilayah-wilayah terpencil, PERADI tidak hanya mengukuhkan peran sosialnya, tetapi juga membuka peluang pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif bagi Kabupaten Solok. Diharapkan, inisiatif serupa dapat direplikasi di daerah lain yang memiliki kebutuhan serupa, menjadikan advokat sebagai agen perubahan yang berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat secara luas.





