123Berita – 10 April 2026 | Surabaya, 10 April 2026 – Tim peneliti dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) berhasil mengembangkan bahan bakar alternatif bernama “Benwit” yang terbuat dari minyak sawit. Inovasi ini diharapkan menjadi solusi energi berkelanjutan bagi Indonesia, sekaligus mengurangi ketergantungan pada minyak bumi impor.
Proses pembuatan Benwit melibatkan serangkaian tahapan kimia yang mengubah minyak kelapa sawit mentah menjadi campuran hidrokarbon mirip bensin konvensional. Peneliti mengklaim bahwa nilai oktan Benwit setara atau bahkan lebih tinggi dibandingkan bensin fosil, sehingga tidak mengurangi performa mesin kendaraan. Selain itu, emisi karbon dioksida (CO₂) yang dihasilkan selama pembakaran diperkirakan turun hingga 15 persen bila dibandingkan dengan bensin berbasis minyak bumi.
“Kami memanfaatkan keunggulan agrikultur Indonesia, khususnya produksi minyak sawit yang melimpah, untuk menciptakan bahan bakar yang ramah lingkungan dan ekonomis,” ujar Dr. Ahmad Fauzi, ketua tim riset Energi Terbarukan ITS. “Benwit bukan sekadar bahan bakar alternatif, melainkan sebuah langkah strategis dalam mengoptimalkan sumber daya domestik sekaligus menurunkan beban impor energi.
Berikut rangkaian utama proses produksi Benwit:
- Ekstraksi Minyak Sawit: Minyak kelapa sawit diambil dari buah buah sawit yang telah dipanen di perkebunan Jawa Timur.
- Transesterifikasi: Minyak mentah direaksikan dengan alkohol (biasanya metanol) dan katalis untuk menghasilkan ester.
- Hydrocracking: Ester diproses dalam reaktor bertekanan tinggi dengan hidrogen, memecah rantai molekul menjadi fraksi yang mirip bensin.
- Distilasi dan Pemurnian: Produk akhir disaring dan distilasi untuk menghilangkan impuritas, menghasilkan Benwit siap pakai.
Keunggulan teknis Benwit tidak hanya terletak pada kualitas bahan bakar, tetapi juga pada dampak ekonomi. Menurut data internal tim riset, biaya produksi Benwit diperkirakan 10-15 persen lebih rendah daripada bensin impor, mengingat harga minyak sawit yang relatif stabil dan ketersediaan bahan baku di dalam negeri.
Pemerintah Indonesia telah menaruh perhatian khusus pada pengembangan energi terbarukan, terutama melalui kebijakan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) 2025-2035. Dalam rapat kerja bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta Kementerian Pertanian, Benwit dinyatakan sebagai salah satu prototipe yang layak diuji coba secara komersial.
Berbagai pihak industri juga menunjukkan minat. Perusahaan migas PT Pertamina (Persero) menyiapkan tim khusus untuk melakukan uji coba skala pilot pada stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) di wilayah Surabaya dan Bandung. Sementara itu, asosiasi produsen kendaraan bermotor, seperti Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), menyatakan kesiapan melakukan penyesuaian mesin agar kompatibel dengan Benwit tanpa mengorbankan efisiensi.
Namun, inovasi ini tidak lepas dari tantangan. Salah satu isu utama adalah keberlanjutan produksi minyak sawit. Kritik internasional terhadap deforestasi dan penggunaan lahan untuk perkebunan sawit dapat mempengaruhi citra Benwit di pasar global. Menanggapi hal ini, tim ITS berkomitmen untuk memastikan bahwa bahan baku minyak sawit bersumber dari perkebunan yang memiliki sertifikasi standar RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil).
Dalam jangka menengah, para peneliti menargetkan produksi Benwit mencapai 500 ribu meter kubik per tahun, cukup untuk memasok kebutuhan bahan bakar di beberapa provinsi di Jawa Timur. Pada tahap akhir, mereka berharap Benwit dapat diekspor ke negara-negara tetangga yang memiliki kebutuhan energi terbarukan, seperti Malaysia dan Thailand.
Pengembangan Benwit juga membuka peluang lapangan kerja baru di sektor agrikultur, kimia, dan teknik mesin. Diperkirakan, proyek ini dapat menciptakan hingga 2.000 pekerjaan langsung, serta ribuan pekerjaan tidak langsung di rantai pasokan minyak sawit.
Secara keseluruhan, Benwit menandai langkah penting Indonesia dalam mengintegrasikan sumber daya alam domestik ke dalam sistem energi nasional. Jika berhasil diimplementasikan secara luas, inovasi ini dapat memperkuat kemandirian energi, menurunkan emisi karbon, dan mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Dengan dukungan pemerintah, industri, dan masyarakat, Benwit berpotensi menjadi contoh nyata bagaimana riset akademik dapat bertransformasi menjadi solusi praktis yang menguntungkan bagi seluruh bangsa.





