123Berita – 09 April 2026 | Pengadilan Kriminal di London menjatuhkan hukuman penjara 15 tahun kepada Jasveen Sangha, seorang pewaris kaya asal Inggris yang dijuluki “Ketamine Queen“, karena perannya dalam kematian aktor Amerika Serikat, Matthew Perry, pada Oktober 2023. Keputusan ini menandai puncak penyelidikan intensif yang mengungkap jaringan perdagangan narkoba internasional yang melibatkan ketamin, obat yang pada awalnya dikembangkan sebagai anestesi namun kini sering disalahgunakan sebagai zat psikoaktif.
Matthew Perry, yang terkenal melalui peran Chandler Bing dalam serial sitkom legendaris “Friends”, ditemukan tak bernyawa di apartemennya di Los Angeles pada 28 Oktober 2023. Pemeriksaan medis mengidentifikasi penyebab kematian sebagai overdosis ketamin, sebuah temuan yang memicu serangkaian penyelidikan lintas negara. Pada akhir 2023, kepolisian Los Angeles serta otoritas Inggris berhasil melacak asal-usul narkotika tersebut ke jaringan yang dipimpin oleh Sangha.
Sangha, yang dikenal di kalangan elit sosial Inggris sebagai pewaris kekayaan keluarga industri, mulai terlibat dalam perdagangan ketamin pada awal 2020-an. Menurut dokumen pengadilan, ia menggunakan jaringan pertemanan dan akses ke klub malam eksklusif untuk mendistribusikan narkotika kepada selebritas, termasuk Perry. Penyelidikan mengungkap bahwa pada bulan September 2023, Sangha secara langsung mengirimkan paket berisi ketamin ke alamat Perry, yang kemudian menjadi dosis fatal yang dikonsumsi oleh aktor tersebut.
Selama persidangan, jaksa menekankan bahwa Sangha tidak hanya bertindak sebagai perantara, melainkan juga sebagai penjual utama yang mengetahui risiko tinggi penggunaan ketamin dalam dosis berbahaya. Bukti berupa rekaman pesan teks, email, serta catatan transaksi keuangan menunjukkan bahwa Sangha memperoleh keuntungan signifikan dari penjualan narkotika ini, dengan perkiraan nilai transaksi mencapai ratusan ribu poundsterling dalam kurun waktu satu tahun.
Pengadilan juga menyoroti beberapa poin penting yang memperparah hukuman bagi Sangha:
- Penipuan dan penyalahgunaan kepercayaan publik, mengingat status sosial dan kekayaan Sangha yang membuatnya menjadi figur yang berpengaruh.
- Keterlibatan dalam jaringan perdagangan narkoba internasional yang melintasi batas negara, memperkuat ancaman terhadap keamanan publik.
- Kelalaian dalam memastikan keamanan konsumen, terutama mengingat bahwa Perry memiliki riwayat penyalahgunaan zat.
Hakim yang memimpin sidang menyatakan bahwa hukuman 15 tahun mencerminkan keseriusan kejahatan yang dilakukan serta kebutuhan untuk memberikan efek jera bagi pelaku perdagangan narkoba kelas atas. “Kasus ini menunjukkan bahwa tidak ada tempat yang aman bagi mereka yang berada di puncak hierarki sosial untuk melanggar hukum,” ujar hakim dalam putusannya.
Pada kesempatan pertama, Sangha menolak semua tuduhan yang diarahkan kepadanya. Melalui kuasa hukumnya, ia menyatakan bahwa ia tidak memiliki pengetahuan mengenai dosis berbahaya yang diberikan kepada Perry, dan bahwa ia tidak pernah secara langsung menyuplai narkotika kepada aktor tersebut. Namun, bukti forensik dan saksi yang dihadirkan selama persidangan memperkuat tuduhan bahwa Sangha memiliki peran aktif dalam transaksi tersebut.
Kasus ini menimbulkan gelombang reaksi di kalangan publik dan industri hiburan. Banyak penggemar Matthew Perry menyatakan duka mendalam sekaligus keprihatinan atas peran jaringan narkoba dalam menelan nyawa seorang artis yang selama bertahun‑tahun menghibur jutaan orang. Di sisi lain, organisasi anti‑narkotika menilai keputusan pengadilan sebagai kemenangan penting dalam memerangi peredaran obat terlarang yang kini semakin mengglobal.
Selain itu, kasus ini menyoroti peran penting kerja sama internasional antara lembaga penegak hukum Amerika Serikat dan Inggris. Melalui pertukaran intelijen, analisis keuangan, dan operasi penyamaran, otoritas berhasil membongkar jaringan yang selama ini beroperasi secara tersembunyi di antara kalangan elit. Keberhasilan ini diharapkan menjadi model bagi penanganan kasus narkotika serupa di masa depan.
Dalam pernyataannya setelah vonis, keluarga Matthew Perry mengungkapkan rasa harapan bahwa keadilan telah ditegakkan. “Kami berharap kasus ini menjadi pelajaran bagi semua orang tentang bahaya narkoba dan pentingnya menegakkan hukum tanpa pandang bulu,” kata perwakilan keluarga.
Hukuman 15 tahun yang dijatuhkan kepada Jasveen Sangha juga menimbulkan pertanyaan mengenai reformasi hukum narkotika di Inggris. Beberapa pakar hukum berpendapat bahwa kasus ini memperlihatkan kebutuhan untuk memperketat regulasi dan memperluas sanksi bagi pelaku perdagangan narkotika, terutama yang melibatkan zat yang dulunya bersifat medis.
Kesimpulannya, keputusan pengadilan terhadap “Ketamine Queen” menegaskan bahwa status sosial atau kekayaan tidak memberikan kebebasan dari pertanggungjawaban hukum. Kasus ini menjadi contoh konkret bagaimana penyalahgunaan narkoba dapat menembus lapisan elit dan mengancam nyawa publik, sekaligus menekankan pentingnya kolaborasi internasional dalam memerangi perdagangan narkotika yang semakin canggih.





