123Berita – 10 April 2026 | Jakarta, 10 April 2026 – PT Danantara Investment Management (DIM) resmi memperkenalkan anak perusahaan terbarunya yang difokuskan pada proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik. Inisiatif ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang grup Danantara untuk mengintegrasikan solusi berkelanjutan dalam portofolio bisnisnya, sekaligus menjawab tantangan pengelolaan limbah dan kebutuhan energi bersih di Indonesia.
Peluncuran anak usaha ini juga mencerminkan komitmen Danantara dalam mengoptimalkan modal dan sumber daya manusia yang dimilikinya. PT Danantara Investment Management, yang selama ini dikenal sebagai lembaga pengelola investasi di sektor energi, kini memperluas cakupan operasionalnya dengan menambahkan lini produksi energi terbarukan. Dengan menyiapkan struktur korporasi terpisah, Danantara dapat mengefisienkan alokasi dana, mempercepat pengambilan keputusan, serta meminimalkan risiko operasional yang biasanya melekat pada proyek infrastruktur berskala besar.
- Peningkatan Nilai Tambah: Mengubah sampah menjadi listrik tidak hanya memberi manfaat lingkungan, tetapi juga menciptakan nilai ekonomis dari bahan yang sebelumnya dianggap beban.
- Dukungan Pemerintah: Kebijakan nasional yang mendukung pengelolaan sampah dan pengembangan energi terbarukan memberikan insentif fiskal serta kemudahan perizinan bagi proyek WTE.
- Potensi Pasar: Dengan populasi lebih dari 270 juta jiwa dan tingkat urbanisasi yang terus naik, permintaan akan solusi pengelolaan sampah dan listrik terbarukan diproyeksikan meningkat signifikan dalam dekade mendatang.
Dalam pernyataannya, Direktur Utama PT Danantara Investment Management menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Ia menyebut, “Kami tidak dapat mengatasi permasalahan limbah dan krisis energi secara terpisah. Sinergi antara pemerintah, swasta, dan komunitas akademik menjadi kunci utama untuk mengimplementasikan teknologi WTE yang handal dan berkelanjutan.” Ia menambahkan bahwa anak perusahaan baru akan mengadopsi standar internasional dalam hal keselamatan operasional, efisiensi energi, serta pelaporan keberlanjutan, sehingga dapat menarik investor institusional yang semakin menuntut transparansi ESG (Environmental, Social, Governance).
Proyek percontohan pertama diperkirakan akan dibangun di kawasan industri yang strategis, mengingat konsentrasi sampah industri dan komersial yang tinggi. Lokasi tersebut dipilih berdasarkan kajian kelayakan yang mempertimbangkan faktor akses transportasi, kedekatan dengan jaringan listrik PLN, serta potensi pasokan bahan baku sampah yang stabil. Diharapkan, fasilitas awal dengan kapasitas 10 megawatt dapat mulai beroperasi pada akhir 2027, setelah melalui fase perizinan, rekayasa, dan pengujian pilot.
Langkah ini juga membuka peluang kerja baru di bidang teknik lingkungan, manajemen operasional, serta riset teknologi energi. Anak perusahaan akan merekrut tenaga ahli, termasuk insinyur proses, ahli kimia, serta profesional manajemen proyek, yang diharapkan dapat memperkuat ekosistem inovasi dalam negeri. Selain itu, program pelatihan dan magang bagi mahasiswa teknik dan lingkungan juga direncanakan sebagai bagian dari inisiatif tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
Secara makro, inisiatif Danantara sejalan dengan agenda Nasional 2025‑2035 yang menargetkan peningkatan kontribusi energi terbarukan hingga 23% dari total bauran energi listrik. Dengan mengintegrasikan teknologi WTE, Indonesia tidak hanya mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, tetapi juga mengoptimalkan penggunaan sumber daya yang selama ini terabaikan. Keberhasilan proyek ini dapat menjadi contoh bagi pelaku industri lain untuk mengadopsi model bisnis serupa, mempercepat transisi energi hijau, dan mengatasi permasalahan sampah yang semakin mendesak.
Kesimpulannya, pembentukan anak perusahaan baru oleh Danantara melalui PT Danantara Investment Management menandai langkah konkret dalam menggabungkan investasi, teknologi, dan kebijakan publik untuk menghasilkan listrik bersih dari sampah. Inisiatif ini tidak hanya menawarkan solusi lingkungan yang inovatif, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru, memperkuat ketahanan energi nasional, dan menegaskan peran Indonesia dalam peta energi terbarukan global.





