Sejarah Puasa Asyura 10 Muharram yang Jatuh Sabtu 29 Agustus 2020

123berita.com – Shaum atau puasa Asyura adalah puasa yang dilaksanakan setiap 10 Muharram dalam kalender Hijriyah. Tahun ini, tanggal tersebut jatuh pada Sabtu besok, bertepatan 29 Agustus 2020.

Puasa Asyura adalah salah satu amalan sunah bagi umat Islam. Puasa yang memiliki nilai pahala tinggi di sisi Allah subhanahu wa ta’ala ini biasa dilakukan Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Lantas, bagaimana sejarah dilaksanakannya Puasa Asyura? Berikut penjelasannya dilansir dari laman dakwah.id.

Pada masa jahiliyah, orang-orang Quraisy memiliki kebiasaan shaum di tanggal 10 tiap Bulan Muharram. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun juga melaksanakan shaum itu saat masih berada di Mekah. Hal ini pernah diceritakan istri beliau, Aisyah radhiyallahu ‘anha. Beliau berkata,

“Di zaman jahiliyah dahulu, orang Quraisy biasa melakukan shaum ’Asyura. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam juga melakukan shaum tersebut. Saat tiba di Madinah, beliau melakukan shaum tersebut dan memerintahkan yang lain untuk melakukannya. Namun, tatkala puasa Ramadan diwajibkan, beliau meninggalkan shaum ’Asyura. Lalu beliau bersabda, ‘Barangsiapa yang mau, silakan shaum. Barangsiapa yang mau, silakan meninggalkannya (tidak shaum)’,” (HR. Bukhari no. 2002 dan Muslim no. 1125).

Shaum Asyura yang diamalkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat di Mekah, hanya untuk beliau sendiri. Beliau tak pernah sekali pun memerintahkan kepada para sahabat untuk mengamalkannya.

Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah, saat di Madinah beliau melihat orang Yahudi juga melakukan shaum itu. Bahkan, mereka juga menjadikan 10 Muharram sebagai hari raya istimewa. Orang Yahudi sangat memuliakan hari itu.

Mereka berargumen, 10 Muharram adalah hari di mana Allah ‘Azza wa Jalla menyelamatkan Nabi Musa dan kaumnya. Pada hari itu pula, Allah ‘Azza wa Jalla menenggelamkan Fir’aun berikut bala tentaranya.

Kisah ini tercantum dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Beliau berkata,

“Ketika tiba di Madinah, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mendapati orang-orang Yahudi melakukan puasa ’Asyura. Kemudian Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bertanya, “Hari yang kalian bepuasa ini adalah hari apa?”

Orang-orang Yahudi menjawab,

“Ini adalah hari yang sangat mulia. Ini adalah hari di mana Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya. Ketika itu pula Fir’aun dan kaumnya ditenggelamkan. Musa berpuasa pada hari ini dalam rangka bersyukur, maka kami pun mengikuti beliau berpuasa pada hari ini”.

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam lantas bersabda, “Kita seharusnya lebih berhak dan lebih utama mengikuti Musa daripada kalian.” Lalu setelah itu Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam memerintahkan kaum muslimin untuk shaum.” (HR. Muslim no. 1130)

Imam an-Nawawi rahimahullah menguatkan dengan penjelasannya,

“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam biasa melakukan puasa ’Asyura di Makkah sebagaimana dilakukan pula oleh orang-orang Quraisy. Kemudian Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam tiba di Madinah dan menemukan orang Yahudi melakukan puasa ‘Asyura, lalu beliau shallallahu ’alaihi wa sallam pun juga tetap melakukannya.” (Al-Minhaj Syarh Muslim, 8/11)

Terkait dengan shaum Asyura yang diamalkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mengamalkan shaum tersebut berdasarkan wahyu, bukan mengikuti adat orang-orang jahiliyah sebelumnya.

Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan,

“Namun beliau melakukan puasa ini berdasarkan wahyu, berita mutawatir (dari jalur yang sangat banyak), atau dari ijtihad beliau, dan bukan semata-mata berita salah seorang dari mereka (orang Yahudi).” (Al-Minhaj Syarh Muslim, 8/11) Wallahu a’lam

author
Journalist & Content Writer