Sejarah Penggunaan Masker di Dunia, Abad ke-17 Berbentuk Paruh Burung

123berita.com – Saat ini masker telah menjadi salah satu kebutuhan setiap orang yang sangat penting keberadaannya. Demi aman dari Covid-19 setiap orang harus menggunakan masker jika hendak bepergian keluar rumah. Sejarah mengatakan masker sudah sedari dulu digunakan masyarakat dunia terlebih ketika menghadapi suatu wabah.

Salah seorang sejarawan, Bonnie Triyana mengatakan masker tertua yang dapat terlacak dimulai di Eropa pada abad ke-17. Kala itu masker berbentuk seperti burung dan digunakan untuk menghadapi penyakit yang sedang melanda.

“Masker ini digunakan karena memang waktu itu juga ada wabah, ya menghindari penyebaran penyakit dari udara dan di dalam paruhnya itu biasanya diisi sama herbs gitu, jadi kayak rempah,” kata Bonnie pada talkshow di Graha BNPB, Jakarta.

Masker pada saat itu belum seperti sekarang. Bonnie mengatakan dahulu masker dibuat dari bahan-bahan seperti wol tipis hingga bahan-bahan lain yang tersedia di zamannya.

“Maskernya itu terbuatnya dari ya seadanya bikinnya. Seadanya itu misalkan dari rajutan bahan rajutan kaos kaki atau dari perban atau dari kain kasa,” terang dia.

Bonnie menyebut bentuk masker pada saat wabah Flu Spanyol sudah mulai berubah hampir menyerupai bentuk masker saat ini.

Baca Juga:  Konsorsium Riset: Belum Ada Obat Spesifik untuk Covid-19

“Sudah agak berubah jadi nggak kayak paruh burung lagi. Jadi bentuknya itu yang kalau kita lihat ini hampir mirip-mirip karena dia (masker saat itu) bisa bergerak gitu jadi kalau berbicara bisa gerak-gerak,” sebutnya.

Berkaca dari sejarah, respons masyarakat terhadap penggunaan masker berubah-ubah dan bervariasi. Mengambil contoh masyarakat di Amerika Utara yang menerima penggunaan masker dan masyarakat di Kanada yang tidak menghiraukan penggunaan masker.

“Kalau di Amerika Utara mereka menerima itu sebagai sebuah kewajiban dan cara untuk menjaga solidaritas kemanusiaan supaya mencegah penyebaran wabah pandemi Flu Spanyol,” ucap Bonnie.

“Nah kalau di Kanada ini responsnya beda lagi, walaupun mandatori diwajibkan mereka bandel, mereka tidak memakai. Di salah satu tulisan disebutkan kalau ada polisi baru dipakai, jadi kalau ada razia gitu baru dipakai. Tingkat kesadarannya tuh rendah karena mereka merasa tidak nyaman dan menganggap masker itu suatu hal yang aneh,” sambungnya.

Bonnie menjelaskan respons dari masyarakat dapat berbeda-beda. Respons sangat dipengaruhi pemahaman dan pengetahuan mereka terhadap wabah yang tengah terjadi.

Baca Juga:  Kasus Covid-19 Terus Meningkat di Banyak Negara, Ini yang Dilakukan RI

“Kalau melihat sejarah, kebanyakan respons dari masyarakat itu kan sangat bergantung pada tingkat pemahaman mereka yang juga sangat bergantung pada pengetahuan mereka atas wabah yang terjadi. Semakin mereka tidak tahu kan semakin mereka abai,” jelasnya.

Bonnie turut menceritakan upaya pemerintah dalam mengatasi wabah Flu Spanyol saat wabah tersebut melanda Indonesia atau Hindia Belanda kala itu, yakni melalui pendekatan, seperti wayang, pamflet yang mengadaptasi kisah Ramayana, serta pendekatan lainnya dengan mempertimbangkan budaya setempat.

“Justru pemerintah Hindia Belanda saat itu mencoba menggunakan pendekatan kultur budaya untuk mensosialisasikan bahayanya penyakit ini dan untuk mensosialisasikan bagaimana upaya pencegahannya,” terang dia.

Bonnie tidak menemukan sejarah yang menjelaskan mengenai penggunaan dan manfaat masker di Indonesia pada saat itu. Namun, ia mengatakan tindakan seperti lockdown atau pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sudah pernah diterapkan.

“Kalau cara-cara untuk mencegah misalkan dalam bahasa sekarang lockdown atau PSBB itu juga dulu ada. Pernah ada tindakan demikian, misalkan satu desa kalau ada yang kena wabah itu tidak boleh kemana-mana harus tetap tinggal di rumah itu sudah ada,” tambahnya, dilansir dari laman resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana, bnpb.go.id, Minggu (30/08/2020).

Baca Juga:  Bukan Scuba & Buff, Ini Jenis Masker Buat Lawan Covid-19 dari WHO

Sementara upaya meningkatkan kesadaran dari masyarakat mengenai kondisi saat ini, Bonnie mengatakan dibutuhkan cara-cara lebih kreatif dan menyenangkan, terlebih jika akan menyampaikannya ke anak muda. Selain materi, media dan cara menyampaikan sebuah pesan juga penting diperhatikan.

“Mensosialisasikan pengetahuan mengenai wabah ini sendiri harus terus diberikan dengan cara kreatif. Mungkin buat anak muda dan tentu saja yang masif gitu ya. Banyak anak muda sekarang kan kalau dikasih cara yang membosankan gitu mereka nggak suka,” ucapnya.

Bonnie pun mengimbau masyarakat untuk menjaga kesehatan melalui cuci tangan, menjaga sanitasi, dan tidak melakukan kegiatan berisiko menyebarkan Covid-19 seperti kumpul-kumpul.

“Tapi mungkin pentingnya sekarang kerja sama komunitas, kemudian dengan pemerintah sama-sama untuk mendorong kesadaran masyarakat di dalam mencegah Covid-19 ini ya. Tidak hanya soal pakai masker, tapi juga cuci tangan, menjaga sanitasi, kemudian juga tidak melakukan hal-hal yang berpotensi ke arah penyebaran,” kata Bonnie.

author
Journalist & Content Writer