Konsorsium Riset: Belum Ada Obat Spesifik untuk Covid-19

JAKARTA, 123berita.com – Banyak upaya telah diusahakan berbagai pihak guna mengatasi penyebaran COVID-19 serta penyembuhan pasien-pasien terjangkit. Salah satu upaya nyata yang kini telah menghasilkan lebih dari 61 inovasi terkait penanganan COVID-19 adalah dibentukya konsorsium guna melakukan berbagai riset dari sisi pencegahan terhadap virus dan pengobatan bagi para pasien yang sudah berjalan selama empat bulan terakhir.

Namun, sampai saat ini, menurut Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi COVID-19 Kemenristek/BRIN, Ali Ghufron Mukti, belum ada satu pun obat spesifik yang bisa diklaim sebagai obat penyembuh Virus SARS-CoV-2, termasuk imunomodulator yang sedang dikembangkan oleh konsorsium.

Pernyataan itu didukung anggota Komite Nasional Penilai Obat Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Anwar Santoso. Menurutnya, sampai saat ini belum ada pernyataan resmi terkait adanya obat spesifik yang efektif serta aman untuk COVID-19.

Baca Juga:  Bukan Scuba & Buff, Ini Jenis Masker Buat Lawan Covid-19 dari WHO

“Saya setuju dengan pendapat dari Gufron, bahwa sampai sekarang belum ada satu statement (pernyataan-red) menyatakan bahwa ini ada obat yang manjur dan aman untuk COVID-19. Semuanya masih dalam fase uji klinik,” ujar Anwar dari kantor Graha BNPB, Selasa (18/08/2020).

Bahkan menurut Anwar, Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang bertindak sebagai koordinator kesehatan umum internasional pun tidak menyatakan satu pernyataan resmi ada obat direkomendasikan untuk dipakai atau aman, namun masih dalam status uji klinik.

Terkait banyaknya pernyataan tersebar di masyarakat luas mengenai berbagai obat herbal yang dianggap mumpuni dalam penyembuhan COVID-19, menurut Anwar, obat herbal tersebut tetap memerlukan uji klinis sehingga aman dikonsumsi.

Sementara itu, Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Agus Dwi Santoso, menyatakan di Indonesia pengobatan pasien COVID-19 disesuaikan oleh severity yang dimulai dari tanpa gejala, gejala ringan, gejala sedang, pneumonia berat, sampai kemudian kritis. Hal itu dikarenakan masing-masing severity memiliki pilihan obat apa saja yang diberikan berdasarkan konsensus dan kesepakatan dari para profesi.

Baca Juga:  Sejarah Penggunaan Masker di Dunia, Abad ke-17 Berbentuk Paruh Burung

Ia menjelaskan untuk pasien tanpa gejala cukup dengan hanya minum vitamin, namun berbeda dengan pasien dengan gejala. Adapun pasien yang memiliki gejala ringan, sedang, dan berat sebenarnya dari perhimpunan itu sudah mengeluarkan panduan.

“Di dalam paduan itu ada pilihan-pilihan, yaitu ada pilihan 1, 2, 3, 4. Di situ bisa diberikan kombinasi dari azitromisin atau levo, hidroksikloroquin dengan kloroquin oseltamivir dan vitamin. Atau pilihan kedua azitromicin levodoxacin diberikan kloroquin hidroksiklorokuin favipiravir ditambah vitamin. Atau, pilihan yang ketiga ya, Azitromisin levo, hidroksiklorokuin atau klorokuin, lopinavir, ritonavir, vitamin. Sedangkan pilihan yang keempat saat ini tidak ada. Karena kita tidak tersedia remdesivir,” jelas Agus.

Baca Juga:  Kasus Covid-19 Terus Meningkat di Banyak Negara, Ini yang Dilakukan RI

Lebih lanjut lagi, Agus memaparkan terdapat tambahan obat untuk kasus-kasus berat dan kritis. Adapun obat-obat tersebut di antaranya adalah dexamethasone dan antikoagulan yang diberikan sesuai dengan assessment.

Sementara itu, Kepala Pusat Kesehatan TNI, Tugas Ratmono, mengimbau masyarakat untuk tetap menggunakan obat-obat aman yang sudah direkomendasikan Kementerian Kesehatan dan Badan Pengawasan Obat dan Makanan.

“Ya, saya kira ini yang harus jadi catatan bahwa masyarakat harus menggunakan semua obat-obat yang aman sebenarnya. Tentunya, obat-obat yang beredar, katakanlah itu sudah ada izin edar dan kalau obat-obat yang belum, tentunya ini tidak dalam konteks rekomendasi, baik itu oleh Kemenkes, maupun dari Badan POM,” tutup Tugas Ratmono, dilansir dari laman resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana, bnpb.go.id.

author
Journalist & Content Writer