Ini Sosok Perancang Lambang Garuda Pancasila yang Terlupakan, Dituduh Terlibat Kudeta Westerling

123berita.com – Setiap negara punya lambang untuk pemerintahannya. Demikian pula Indonesia yang menggunakan burung Garuda Pancasila sebagai lambang negara.

Masyarakat tentunya sudah sangat familier dengan lambang ini, apalagi Garuda Pancasila biasa menghiasi berbagai institusi, perusahaan swasta hingga sekolah. Bahkan, setiap 1 Juni diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila pun menjadi bagian tak terpisahkan dari lambang burung berpita tersebut.

Kendati demikian, tak banyak orang tahu sosok perancang lambang Garuda Pancasila. Ya, namanya dilupakan dan tak banyak tertulis dalam catatan sejarah republik ini karena dianggap terlibat upaya kudeta Westerling 1950. Seperti diketahui, sejarah memang kerap kali menjadi milik para pemenang, di sisi lain pihak yang kalah acapkali dilupakan.

Melansir BBC News Indonesia, Senin (01/06/2020), dalam sejarah kontemporer Indonesia, sosok Sultan Hamid II yang pernah menjabat menteri negara dalam Kabinet Republik Indonesia Serikat (RIS) pertama- barangkali termasuk kategori yang kalah.

Baca Juga:  Jangan Lewatkan! Bank Indonesia Buka Lowongan Penerimaan Pegawai Angkatan 35

Jasanya dalam merancang lambang negara Indonesia, burung Garuda Pancasila, seperti dilupakan begitu saja setelah dia diadili dan dihukum sepuluh tahun penjara terkait rencana kudeta oleh kelompok eks KNIL pimpinan Kapten Westerling pada 1950.

“Dia dilupakan karena dituduh terlibat peristiwa Westerling, termasuk ingin membunuh Sultan Hamengkubowo (Menteri Pertahanan saat itu),” kata sejarawan Taufik Abdullah kepada BBC Indonesia.

Pada 22 Januari 1950, sekira 800 orang pasukan KNIL pimpinan Westerling menduduki sejumlah tempat penting di Bandung, setelah menghabisi 60 orang tentara RIS. Mereka kemudian berhasil diusir dari Bandung.

Baca Juga:  Penusukan Syekh Ali Jaber, Begini Tanggapan Menag Fachrul Razi

Di Jakarta, empat hari kemudian, pasukan Westerling hendak melanjutkan kudeta, namun berhasil digagalkan karena lebih dulu bocor. Disebutkan, pasukannya berencana membunuh beberapa tokoh republik, termasuk Menteri Pertahanan Sultan Hamengkubuwono IX.

Dalam buku Nationalism and Revolution in Indonesia (1952), George Mc Turnan Kahin, menulis setelah upaya kudeta itu digagalkan, temuan pemerintah RIS menyimpulkan Sultan Hamid “telah mendalangi seluruh kejadian tersebut dengan Westerling bertindak sebagai senjata militernya.”

Walaupun membantah terlibat dalam kasus itu, pengadilan menyatakan dirinya bersalah. Kemudian dia dihukum penjara sepuluh tahun.

“Di situlah namanya habis. Dia dianggap pengkhianat,” kata Taufik Abdullah.

Sejarah resmi Indonesia kemudian melupakannya. Ketika pria kelahiran 1913 ini meninggal dunia lebih dari 35 tahun silam, jasadnya bahkan tidak dikubur di makam pahlawan.

Baca Juga:  Rektor IPB Arif Satria Positif Covid-19, Masa Pembatasan Masuk Kampus Diperketat

Sosok penyokong konsep negara Federal ini seperti dihilangkan, walaupun dia adalah perancang lambang Negara Indonesia, burung Garuda Pancasila.

“Sultan Hamid sudah resmi diakui dalam jasanya membuat lambang burung Garuda,” kata peneliti sejarah politik kontemporer Indonesia, Rusdi Hoesin kepada BBC Indonesia.

Sebagai Menteri Negara, Syarif Abdul Hamid Alkadrie ditugasi Presiden Soekarno untuk merancang gambar lambang negara. Ini ditindaklanjuti dengan pembentukan panitia yang diketuainya.

Belakangan, konsep rancangan Sultan Hamid yang terpilih, menyisihkan rancangan Muhammad Yamin.

“Meskipun (burung Garuda) itu belum berjambul, masih botak dan cengkeraman (atas pita) masih terbalik,” kata Rusdi Hoesin.

Namun fakta ini, menurutnya, tidak banyak diungkap setelah sang perancang lambang negara itu menjadi pesakitan.

author
Journalist & Content Writer