Indonesia Resesi Bulan Depan, Ini Bedanya dengan Depresi

JAKARTA, 123berita.com – Indonesia berpotensi mengalami resesi imbas dari pandemi Covid-19. Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyebut Indonesia akan resmi mengalami resesi bulan depan. Pihaknya meyakini pertumbuhan ekonomi di kuartal III 2020 akan kembali negatif.

Melansir Detik Finance, Selasa (22/09/2020), resesi adalah roda ekonomi sedang istirahat. Sama istilahnya dengan reses, yakni masa periode persidangan diistirahatkan. Ketika ekonomi sedang istirahat, perputaran roda ekonomi akan melambat atau bahkan berhenti.

The National Bureau of Economic Research (NBER) mendefinisikan resesi sebagai penurunan signifikan dari kegiatan ekonomi secara merata. Kondisi ini berlangsung lebih dari beberapa bulan, biasanya tercermin dalam produk domestik bruto (PDB), indikator pendapatan riil, lapangan kerja, tingkat produksi industri hingga penjualan di tingkat eceran atau konsumsi masyarakat.

Dengan penjelasan itu, NBER juga mengartikan resesi ekonomi terjadi ketika dunia usaha berhenti berkembang, pertumbuhan ekonomi nol persen atau bahkan minus selama dua kuartal berturut-turut, pengangguran naik hingga harga properti turun akibat tidak adanya daya beli.

Direktur Eksekutif Institute Development of Economic and Finance (Indef), Tauhid Ahmad juga menjelaskan hal sama. Indikatornya juga bisa dilihat dari produksi industri turun, pengangguran meningkat hingga perdagangan ritel turun selama dua kuartal berturut-turut.

“Ya seperti sedang istirahat, teorinya kan business cycle ada puncak ada penurunan. Nah penurunannya apakah sudah di titik terbawah dan balik lagi atau turunnya masih berlanjut selama dua kuartal, sehingga kita masuk masa resesi,” terangnya kepada detikcom.

author
Journalist & Content Writer