Ada 64% Kasus Covid-19, Surabaya Raya Bisa Jadi Wuhan?

123berita.com – Kasus persebaran virus corona (Covid-19) di Surabaya terbilang cukup tinggi. Bahkan, Surabaya Raya, terdiri atas wilayah Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik disebut menjadi episentrum penyebaran virus mematikan itu di Jawa Timur. Wajar jika beberapa kalangan berpendapat bila tak hati-hati dalam menangani pandemi ini, Surabaya bisa menjadi Wuhan, kota di Tiongkok tempat kali pertama ditemukan wabah Covid-19.

Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Joni Wahyuhadi menyebut sebanyak 64 persen lebih kasus Covid-19 ada di Surabaya Raya. Hal ini menunjukkan jika penanganan kasus dilakukan tidak hati-hati, bukan mustahil berpotensi menjadi seperti di Kota Wuhan Tiongkok.

Pihaknya mengutarakan, menurut perhitungan ahli epidemologi, transmision rate di Surabaya cukup tinggi, yakni 1,6. Artinya, jika ada sepuluh orang positif Covid-19, maka dalam waktu satu pekan dapat menular menjadi 16 orang.

“Kalau tidak hati-hati menangani Covid-19, maka Surabaya bisa menjadi Wuhan. Saat ini kalau epidemologi dihitung oleh para ahli transmission rate

di Surabaya 1,6, artinya ada sepuluh orang (positif corona), dalam waktu satu minggu jadi 16 orang. Ini luar biasa penularannya di Surabaya,” tegasnya, Kamis (28/05/2020), seperti dilansir dari Merdeka.com.

Menyikapi tingginya kasus Covid-19 di Surabaya Raya, menurut Joni Wahyuhadi, saat ini ada tiga kebijakan yang tengah dijalankan, yakni melakukan tes, tracking, dan treatment.

“Tes masif sedang kami jalankan, kami dibantu oleh tim gugus tugas pusat. Ada dua mobil PCR yang kami sebar ke rumah sakit untuk melakukan tes PCR secara langsung,” katanya.

Direktur Rumah Sakit dr Soetomo ini menambahkan, tingkat kematian akibat virus corona cukup tinggi, yakni mencapai sepuluh persen lebih. Untuk itu, secara konseptual pihaknya tengah membagi rumah sakit berdasarkan kondisi klinis pasien.

“Ini kan sedang kami persiapkan rumah sakit darurat yang nantinya dapat menampung pasien dengan klinis ringan. Sedangkan seperti RSU dr Soetomo atau RS Unair nanti dapat digunakan untuk pasien dengan klinis sedang hingga berat. Kami sampaikan konsep itu ke Kemenkes dan mereka setuju,” ungkapnya.

Sementara terkait fasilitas rumah sakit seperti ventilator, Joni menyebut hingga saat ini banyak sekali sumbangan yang telah diberikan. Untuk itu, dirinya pun mengkoordinasikan hal ini ke rumah sakit rujukan dengan mengkomunikasikan terlebih dulu apakah rumah sakit tersebut dapat mengoperasikan ventilator baru.

“Banyak donatur dan sudah dibagikan ke rumah sakit. Karena ventilatornya baru, maka kami kontak dulu rumah sakitnya bisa atau tidak mengoperasionalkan ini. Kalau tidak nanti kami kirim ahlinya,” jelasnya.

Joni menyebut, berdasarkan data di rumah sakit yang dipimpinnya sebanyak 69,2 persen pasien yang masuk ventilator meninggal dunia. Demikian pula di Jakarta, 70 persen meninggal dunia.

“Ventilator itu hati-hati. Data kami menunjukkan di (RS) Soetomo 69,2 persen yang masuk ventilator meninggal. Di Jakarta kira-kira 70 persen, di Wuhan 80 persen,” jelasnya.

Untuk itu, Joni mengaku saat ini pihaknya tengah melakukan clinical research, seperti penggunaan obat-obatan tertentu. Termasuk di antaranya melakukan clinical trial.

“Kami lakukan clinical research seperti penggunaan avigan atau pemakaian aspirin. Semuanya kami coba sesuai dengan kaidah tertentu,” pungkasnya.

author
Journalist & Content Writer